TOKOH FILSUF KOMUNITARIANISME

Komunitarianisme filosofis Para filsuf komunitarian terutama
prihatin dengan masalah-masalah
ontologis dan epistemologis, jadi
berbeda dengan masalah-masalah
kebijakan. Tanggapan komunitarian
terhadap buku John Rawls, A Theory of Justice mencerminkan
ketidakpuasan terhadap citra yang
disajikan Rawls tentang manusia
sebagai individu yang atomistik.
Meskipun Rawls memungkinkan
ruang untuk belas kasih (benevolence), misalnya, ia
memandanganya semata-mata
sebagai salah satu dari banyak nilai
yang ada di dalam kepala
seseorang. Kaum komunitarian mengklaim
nilai-nilai dan keyakinan yang ada
di ranah publik, di mana perdebatan
berlangsung. mereka mengatakanb
Paulus menjadi seorang individu
berarti mengambil sikap dalam masalah-masalah yang beredar di
ranah publik. Misalnya, di Amerika Serikat perdebatan tentang politik senjata api, ada sejumlah sikap yang
harus diambil, namun semua sikap
ini pertama-tama mempradugakan
keberadaan suatu perdebatan
politik senjata api; ini adalah suatu
pengertian di mana komunitas ada sebelum individualisme. Demikian pula, baik tradisi-tradisi linguistik
maupun non-linguistik
dikomunikasikan kepada anak-
anak dan menjadi latar belakang
bagi perumusan dan pemahaman
keyakinan individu. Ketergantungan individu terhadap
anggota-anggota komunitas
biasanya dimaksudkan bersifat
deskriptif. Ini tidak berarti bahwa
individu harus menerima
keyakinan-keyakinan mayoritas, seperti misalnya keyakinan historis
bahwa perbudakan dapat diterima,
ia harus melakukannya dengan
alasan-alasan yang masuk akal di
dalam komunitas yang
bersangkutan (misalnya, alasan- alasan keagamaan Kristen, alasan-
alasan yang berasal dari konsepsi
Pencerahan tentang hak-hak asasi
manusia) dan bukan semata-mata
alasan lama manapun. Dalam
pengertian ini, penolakan terhadap suatu keyakinan mayoritas
mengandalkan tradisi yang
mendalam dari keyakinan-
keyakinan mayoritas lainnya.
Namun demikian, pengertian yang
sebaliknya, pengertian terobosan yang, seperti misalnya astronomi
Kepler atau Galileo, dikembangkan oleh seorang individu dalam arah
yang berlawanan dengan
‘keyakinan-keyakinan
mayoritasyang tradisional’, yang
hingga saat itu tidak pernah dibahas
dalam literatur komunitarian. Para penulis berikut ini mempunyai
kecenderungan-kecenderungan
komunitarian dalam pengertian
filsafati, namun semuanya telah
berusaha keras untuk menjauhkan
diri dari ideology politik yang dikenal sebagai komunitarianisme,
yang dibahas lebih jauh di bawah
ini. Michael Sandel — Liberalism and
the Limits of Justice Charles Taylor — Sources of the
Self Alasdair MacIntyre — After Virtue Michael Walzer — Spheres of
Justice Christos Yannaras – seorang
filsuf dan teolog Yunani yang
gagasannya cenderung pada
komunitarianisme dari perspektif
teologis dan ontologis.

Posted on September 3, 2012, in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: