KONSERVATISME DAN PENDIDIKAN

Konservatisme adalah sebuah
filsafat politik yang mendukung
nilai-nilai tradisional. Istilah ini
berasal dari kata dalam bahasa
Latin, conservāre, melestarikan; “menjaga, memelihara,
mengamalkan”. Karena berbagai
budaya memiliki nilai-nilai yang
mapan dan berbeda-beda, kaum
konservatif di berbagai
kebudayaan mempunyai tujuan yang berbeda-beda pula. Hal
yang sama dikemukakan oleh
Farida (2009) yang menyatakan
bahwa konservatif berasal dari
bahasa latin com servare, yang
artinya “melindungi dari kerusakan/kerugian”. Jadi orang
yg dinamakan “kolot/
konservatif” adalah orang yang
tidak mau melakukan perubahan
karena kuatir mempunyai
dampak yang tidak baik terhadap dirinya maupun
lingkungan. Sebagian pihak
konservatif berusaha
melestarikan status quo,
sementara yang lainnya
berusaha kembali kepada nilai- nilai dari zaman yang lampau, the
status quo ante.
Menurut O’neil tentang
pendidikan bahwa pendidikan
yang meminimkam kebebasan
disebut sebagai pendidilkan yang konservatif salah satunya
adalah konservatisme
pendidikan. Pada dasarnya
konservatisme pendidikan
adalahposisi yang mendukung
ketaatan terhadap lembaga- lembaga dan prosese-proses
budaya yang sudah teruji oleh
waktu didampingi oleh rasa
hormat mendalam terhadap
hukum dan tatanan, sebagai
landasan perubahan – perubahab yang konstruktif.
Dalam dunia pendidikan seorang
konservatif beranggapan bahwa
sasaran utama sekolah adalah
pelestarian dan penerusan pola-
pola sosial daan tradisi-tradisi yang sudah mapan.sehingga
dapat pula di simpulkan bahwa
konservatisme pendidikan
Adapun dua ungkapan dasar
konservatisme dalam pendidikan
yaitu: 1. Konservatisme pendidikan
religius yaitu menekankan peran
sentral pelatihan rohaniah
sebagai landasan pembangunan
karakter moral yang tepat.
2. Konservatisme pendidikan sekuler yaitu memusatkan
perhatiannya pada perlunya
melestarikan dan meneruskan
keyakinan-keyakinan dan
praktek-praktek yang sudah
ada, sebagai cara untuk menjamin pertahanan hidup
secara sosial serta efektifitas
secara kuat oleh orientasi
pendidikan yang beersifat
lebihevangelis yang secara
teoligis jelas kurang liberal. Sedangan konservatisme sekuler
cenderung terwakili oleh para
kritisi yang tajam oleh kalangan
progesifisme pendidikan. B. Paradigma Konservatisme
Pendidikan
Dalam konteks penddikan Islam
paradigma konservatif mengenal
dualisme terutama sekali
berkaitan dengan pembelajaran (kurikulum) yakni anara
kurikulum pendidikaan Islam
dan pendidikan umum. Disini kita
akan membahas mengenai
pemikran al- Gazali yang pernah
menggagas mengenai dualisme ilmu pengetahuan itu, dengan
dualisme tersebut menyebabkan
umat Islam cenderung Fatalistik.
Kalau meminjam istilah Teologi
Islam aliran yang berkembang di
kalangan umat Islam adalah aliran teologi
Jabariyah.Pandangan Pendidikan
Konservatif Tentang tentang
hakikat manusia menurut filsafat
pandidikan konsevatif, mausia
hanya menduduki posisi sebagai objek pasif. Manusia dipandang
sebagai objek dari kebijakan
Tuhan sehingga dia tidak
memiliki daya upaya untuk
merubah nasib hidupnya.
Manusia konservatif tidak mampu membaca relasi-relasi
social yang mempengaruhi nasib
hidupnya,baik secara langsung
ataupun tidak langsung. Dia
tidak bisa membantah kondisi
social atau nasibnya disebabkan keyakinan yang fatalistic. Dalam
diri manusia konservatif
meyakini bahwa nasib,
perbuatan baik maupun buruk
adalah takdir. Paradigma
koservatif dalam pandangan Islam mengenal hakikat manusia
sebagai objek statis tanpa
kebebasan berekspresi,
berkreasi dan berdialektika
dengan beragam persoalan
hidupnya. Orientasi pendidikan konservatif cenderung untuk
melestarikan norma-norma.
Apliaksi nyata konsep manusia
sebagai objek statis bisa dilihat
dalam praktek-praktek
pembelajaran yang tertuang dalam metode-metode seperti
menghafal
(muhafadzah)membaca (qiraah),
dan mennerjemah (tarjamah)
menengar (istima’) dan
sebagainya. Manusia diposisikan sebagai objek statis dan wajib
taat kepada guru. Dalam
istilahnya kaum santri dikenal
semboyan smi’na waato’na.
ketika kiayi atau ustadz mengajar
atau memberikan intruksi murid- murid wajib mendengarkan
ataumentaatinya. Dalam
pandangan filsafat konsevatif
potensi-potensi konflik
(kontardiksi) dalam relitas social
selalu di hindari. Pendidikan konservatif selalu
mengutamakan harmoni
hubungan antar relasi-relasi,
sehingga hidup ini selalu dijalani
dengan sabar dan tanpa neko-
neko atau bermacam-macam, pasrah dan tunduk pada norma-
norma mapan. Pendidikan bagi
kaum konservatif dikonotasikan
sebagai proses menerima,
bersabar atau menanggung
nasib dengan penuh keyakinan bahwa mereka yakin akan
mendapatkan kebahagiaan
kelak di akhiat.inilah ajaran al
ghozali yang mempengaruhi
untuk menjadi manusia yang
memilki kesadaran magis. C. Ciri-Ciri Konservatisme
Pendidikan
Ciri-ciri konservatisme
pendidikan secara umum antra
lain:
1. Pengetahuan adalah bagi manfaat sosialnya; pengetahuan
sebagai cara mengujudkan nilai-
nilai sosial yang ada
2. Manusia sebagai warga
negara, yang mencapai
keutuhan diri dalam statusnya sebagai anggota tatanan sosial
yang mapan
3. Penyesuaian diri secara nalar;
bersandar pada jawaban terbaik
dari masa silam sebagai tuntunan
yang paling bisa dipercaya bagi tindakan di masa kini
4. Pendidikan sebagai
pembelajaran (sosialisaasi)
individu terhadapsistem
kemapanan
5. Berpusat pada tradisi-tradisi dan lembaga-lembaga sosial
yang ada; menekankan situasi-
situasi sekarang yang dilihat dari
kaca mata kedejarahan yang
agak sempit; konvensionalisme
(faham yang menekankan konsep ilmiah merupakan
persetujuan ilmuawan)
6. Kemantapan/stabilitas budaya
melampaui kebutuhan akan
perubahan; hanya menerima
perubahan-perubahan yang pada dasarnya selaras dengan
tatanan sosial yang sudah mapan
7. Berdasarkan sebuah sistem
budaya tertutup (etnosentris);
menekankan tradisi-tradisi sosial
dominan; menerima perubahan secara bertahap didalam situasi
sosial yang secara umum
mentap/stabil
8. Berlandaskan kepada
keyakinan-keyakinan ylang
sudah teruji oleh waktu, dan keyakinan yang menetapkan
gagasan-gagasan serta praktik-
praktik lebih bisa diandalkan
ketimbang keyakinan yang
hanya murni teoritis
9. Beranggapan bahwa kewenangan intelektual tertinggi
adalah budaya dominan besrta
sistem keyakinan dan prilaku
yang mapan
10. Asimilasionisme sosial;
lembaga-lembaga dan proses- proses sosial yang dominan
musti didahulukan sebagai
tradisi keagamaan, filosofis,atau
etnis tertentu
Ciri-ciri konservatisme
pendidikan dipandang dari anak sebagai pelajar, antra lain:
1. Anak memerlukan tuntunan
yang tegas dan pelajaran yang
baik sebelum ia bisa menjadi
seorang warga negara yang
bertanggung jawab yang telah dinelajarkan secara efektif
2. Kesamaan-kesamaan
individual lebih penting dari pada
perbedaan-perbedaannya, dan
ini mentukan progam-progam
pendidikan yang akan ditetapkan
3. Individu adalah fungsi-
sebagian dari sistem sosial
dominan; individualisme adalah
peranserta dalam jati diri
bersama yang lebih tinggi kedudukannya ketimbang jati
diri individual, dalam masyarakat
yang mapan
4. Ketidaksetaraan alamiah antar
perorangan tercermin dalam
pembagian barang dan kekuasaan dalam masyarakat
yang tidak setara; adalah sebuah
kewajiban moral untuk
memberikan kesetaraan
kesempatan bagi semua orang
dalam konstek pembagian barang dan kekuasaan yang ada
sekarang (yang pada intinya tak
merata); setiap orang mesti
diizinkan untuk memperoleh
akses kesempatan sosial
sebagaimana distrukturkan sekarang berdasarkan
persaingan antar individu dan
antar kelompok yang sudah
berlangsung sebelumnya, yang
melandasi struktur sosial yang
mapan Ciri-ciri konservatisme
pendidikan dipandang dari
administrasi dan pengendalian,
antra lain:
1. Kewenangan pendidikan
ditanamkan pada para pendidik profesional yang matang dan
bertanggung jawab, yang sangat
menghormati proses yang sudah
ditentukan waktunya sendiri-
sendiri, dan yang cukup tegas
untuk menghindari perubahan- perubahan dasar jika
menanggapi tuntunan rakyat
2. Kewenangan guru berdasar
pada peran dan stastus sosialnya
yang merupakan prestasinya
sendiri 3. Hahk-hak guru dibawahkan
dan ditentukan oleh tolok ukur
keyakinan dan prilaku sosial
yang dominana; hak-hak
tersebut bersifat relatif terhadap
tanggung jawab guru yang selaras dengan sistem sosial
konvensional
Ciri-ciri konservatisme
pendidikan dipandang dari sifat-
difat kurikulum, antra lain:
1. Menekankan pembelajaran (sosialisasi) politik
2. Berpusat pada pengkondisian
budaya; penguasaan nilai-liai
budaya konvensional
3. Menekankan ketrampilan-
ketrampilandasar, dan latihan watak
4. Mata pelajaran ditentukan
terlebih dahulu
5. Menekankan yang akademik
melebihi yang praktis dan yang
intlektual Ciri-ciri konservatisme
pendidikan dipandang dari
pelajaran, antra lain:
1. Menekankan pelatihan dasar
dalam ketrampilan-ketrampilan
pokok (tiga R: membaca, menulis, berhitung), ikhtisar
ilmu-ilmu dasar, pendidikan fisik
dan kesehatan, serta pendekatan
yang relatif bersifat akademik
terhadap ilmu-ilmu pengetahuan
sosial yang lebih tradisional (sejarah kelembagaan politik,
dan seterusnya)
Ciri-ciri konservatisme
pendidikan dipandang dari
metode pengajaran dan
penilaian hasil belajar, antra lain: 1. Cenderung kearah
penyesuaian tata cara-tata cara
yang lama dengan metode-
metode baru, dan bukannya
meninggalkan yang lama itu
secara radikal 2. Cenderung menyukai disiplin
belajar dan hapalan sebagai cara
pembentukan kebiasaan yang
baik untuk siswa siswi di kelas-
kelas dasar, tapi
mengembangkannya kearah pendekatan-pendekatan yang
lebih intelektual sifatnya untuk
siswa siswi yang duduk di kelas
yang lebih tinggi
3. Memilih kegiatan belajar yang
ditentukan dan diarahkan oleh guru, tapi membela peranserta
siswa dalam perncanaan
pendidikan dalam aspek-aspek
yang kurang penting
4. Menganggap guru sebagai
pakar pembagi pengetahuan dan keterampilan tertentu
5. Penilaian cenderung tes/ujian
yang dipakai untuk mengukur
keterampilan-keterampilan dan
informasi yang dimiliki siswa
6. Menekankan pada aspek kognitif dan aspek afektif dan
yang antar personal
7. Menekankan pada pelestarian
prinsip-prinsip dan praktik-
praktik pendidikan konvesional
8. Memilih pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan serta
terapi kejiwaan personal secara
terbatas
Ciri-ciri konservatisme
pendidikan dipandang dari
kendali metode pengajaran dan penilaian hasil belajar ruang
kelas, antra lain:
1. Mengharapkan agar sisa siswi
menjadi warga negara yang baik
dan ranah sudut pandang
budaya dominan mengenai warga negara yang baik dan
perilaku yang layak
2. Umumnya bersikap ‘non-
permisif’ dalam tatacara-tatacara
pengendalian ketertiban diruang
kelas; menampilkan kewenangan yang disisipi
penalaran
3. Menganggap pendidikan
bahwa pendidikan moral
(pelatihan watak) sebagai salah
satu aspek persekolahan yang penting artinya

Posted on September 3, 2012, in Uncategorized and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: