IDEOLOGI KOMUNITARIANISME

Komunitarianisme ideologis Filsafat komunitarian Modal sosial Mulai pada akhir abad ke-20,
banyak penulis mulai mengamati
kemerosotan dalam jaringan sosial
di Amerika Serikat. Dalam bukunya
Bowling Alone, Robert Putnam
mengamati bahwa hampir setiap bentuk organisasi sipil telah
mengalmai penurunan dalam
jumlah keanggotaan yang
diperlihatkan oleh kenyataan
bahwa, meskipun lebih banyak
orang yang bermain boling daripada pada tahun 1950-an,
jumlah liga boling yang ada makin
berkurang. Hasil dari penurunan dalam “modal sosial” ini, yang digambarkan oleh Putnam sebagi “nilai kolektif dari
semua ‘jaringan sosial’ dan kecenderungan-kecenderungan
yang muncul dari jaringan-jaringan
ini untuk melakukan sesuatu untuk
sesama”. Menurut Putnam dan para
pengikutnya, modal sosial adalah
sebuah komponen penting dalam pembangunan dan pemeliharaan
demokrasi. Kaum komunitarian berusaha untuk
meningkatkan modal sosial dan
lembaga-lembaga masyarakat sipil. Responsive Communitarian Platform menggambarkannya demikian: “Banyak tujuan sosial…
membutuhkan kemitraan antara
kelompok-kelompok publik dan
privat. Meskipun tidak berusaha
menggantikan komunitas-
komunitas lokal, pemerintah mungkin perlu
memberdayakannya melalui
strategi-strategi dukungan,
termasuk pembagian
penghasilan dan bantuan teknis.
Ada kebutuhan besar untuk studi dan percobaan dengan
penggunaan struktur-struktur
masyarakat sipil dan kerja sama
publik-swasta, secara kreatif
khususnya dalam hal-hal yang
berkaitan dengan pelayanan kesehatan, pendidikan dan
pelayanan sosial.” Hak-hak positif Yang utama bagi filsafat dari banyak
kaum komunitarian adalah konsep
tentang hak-hak positif; artinya,
hak-hak atau jaminan-jaminan
untuk hal-hal tertentu. Hak-hak
tersebut mencakup antara lain pendidikan gratis, perumahan yang
terjangkau, lingkungan hidup yang
aman dan bersih, pemeliharaan
kesehatan yang universal, jaringan
pengaman social, atau bahkan hak
untuk mendapatkan pekerjaan. Untuk mencapai tujuan-tujuan ini,
biasanya mereka mendukung
program-program pengaman sosial,
pendidikan umum yang gratis,
program-program pekerjaan publik,
dan hokum-hukum yang membatasi hal-hal seperti
pencemaran lingkungan dan
pengendalian senjata api. Suatu keberatan yang lazim
dikemukakan ialah bahwa dengan
memberikan hak-hak seperti itu,
mereka melanggar hak-hak negatif
warga negara; artinya hak-hak
untuk “tidak” mengalami sesuatu. Misalnya, mengambil uang dalam
bentuk pajak untuk membiayai
program-program seperti itu seperti
yang dilukiskan di atas membuat
individu tidak memiliki properti. Para
penganjur hak-hak positif menjawab bahwa tanpa
masyarakat, individu tidak akan
memiliki hak “apapun”, jadi
wajarlah bila mereka harus
memberikan kembali kepada
masyarakat. Lebih jauh mereka berpendapat bahwa tanpa hak-hak
positif, hak-hak negatif dijadikan
tidak relevan. Misalnya, apakah
artinya hak untuk memiliki pers
bebas di dalam suatu masyarakat
yang memiliki tingkat melek huruf 15 %? Selain itu, sehubungan
dengan pajak, kaum komunitarian
“memahami hal ini bukan terutama
dalam arti dimanfaatkan demi
tujuan-tujuan orang lain, melainkan
lebih sebagai cara untuk menyumbang demi tujuan-tujuan
komunitas yang saya anggap
sebagai tujuan-tujuan saya
sendiri” (Sandel, Liberalism and the
Limits of Justice, 143). Alternatifnya,
sebagian orang mengakui bahwa hak-hak negatif dapat dilanggar
oleh tindakan pemerintah, namun
mengatakan bahwa hal itu dapat
dibenarkan bila hak-hak positif
yang dilindungi mengalahkan hak-
hak negatif yang dilangar. Para komentator lainnya, tidak
harus kaum komunitarian,
berpendapat bahwa “hak-hak
negatif” sendiri identik dengan hak-
hak positif dalam praktik, karena
hak untuk tidak mengalami sesuatu menyiratkan hak untuk dilindungi
dari orang-orang yang mungkin
akan melakukan sesuatu atas diri
kita – dan perlindungan ini pada
dasarnya sama dengan suatu hak
positif. Apa yang dimaksud dengan “hak
alamiah” adalah hal yang
diperdebatkan dalam politik
modern; misalnya, apakah
pemeliharaan kesehatan yang
universal dapat dianggap sebagai hak sejak lahir, ataukah seberapa
jauh pemerintah dapat bertindak
untuk melinungi lingkungan hidup. Perbandingan dengan filsafat-
filsafat politik lainnya Templat:Titik masuk ideologi
politikKomunitarianisme tidak dapat
digolongkan kiri atau kanan, dan
memang banyak yang mengklaim
bahwa paham ini mewakili
golongan tengah radikal. Kaum liberal di Amerika atau kaum demokrat sosial di Eropa pada umumnya menganut posisi
komunitarian dalam masalah-
masalah yang berkaitan dengan
ekonomi, seperti misalnya
kebutuhan akan perlindungan
lingkungan hidup dan pendidikan publik, tetapi tidak untuk masalah-
masalah budaya. Kaum
komunitarian dan konservatif pada
umumnya sepakat dalam masalah-
masalah budaya, seperti misalnya
dukungan untuk pendidikan watak dan program-program yang
berbasis keagamaan, namun kaum
komunitarian tidak menganut
paham kapitalisme laissez-faire yang
umumnya dianut oleh kaum
konservatif. Libertarianisme Komunitarianisme dan
libertarianisme menekankan nilai-
nilai dan kepedulian yang berbeda.
Libertarianisme adalah sebuah
filsafat individualis, dengan fokus
yang kuat pada hak-hak warga negara dalam demokrasi. Kaum
komunitarian percaya bahwa
kepedulian ini terlalu banyak
diperhatikan, dan mengatakan
bahwa “mengusahakan
kepentingan-kepentingan pribadi semata-mata akan merusakkan
jaringan lingkungan sosial yang
kepadanya kita semua tergantung,
dan hal itu akan merusakkan
pengalaman bersama kita dalam
pemerintahan diri sendiri (self- government) yang demokratis.”
Mereka percaya bahwa hak-hak
harus disertai dengan tanggung
jawab sosial dan pemeliharaan
lembaga-lembaga masyarakat sipil,
kalau hak-hak itu ingin dipertahankan, namun kaum
libertarian percaya bahwa aksi-aksi
pemerintah untuk mempromosikan
tujuan-tujuan ini sesungguhnya
menyebabkan hilangnya
kebebasan pribadi. Selain itu, kaum libertarian menolak upaya-upaya
komunitarian untuk memajukan
pendidikan watak dan inisiatif-
inisiatif yang dikembangkan oleh
pihak-pihak agama, dengan
megnatakan bahwa pemerintah tidak punya urusan untuk terlibat
dalam apa yang mereka anggap
sebagai rekayasa sosial. Otoritaritarianisme Ada orang yang mengatakan
bahwa fokus komunitarianisme
terhadap kohesi sosial
membangkitkan persamaan dengan
komunisme atau otoritarianisme,
tetapi ada perbedaan-perbedaan yang mendasar antara
komunitarianisme dan
otoritarianisme. Pemerintahan yang otoriter
seringkali memerintah dengan
kekerasan, disertai dengan
pembatasan-pembatasan yang
ketat terhadap kebebasan pribadi,
hak-hak politik dan sipil. Pemerintahan yang otoriter terang-
terangan menunjukkan peranannya
sebagai panglima. Masyarakat sipil
dan demokrasi biasanya bukanlah
ciri-ciri rezim yang otoriter . Kaum
komunitarian, sebaliknya, menekankan penggunaan organisasi non pemerintah untuk mencapai tujuan-tujuannya. Gerakan komunitarian Gerakan komunitarian modern
pertama kali diutarakan oleh Responsive Communitarian Platform , yang ditulis di Amerika Serikat oleh sebuah kelompok
etikus, aktivis, dan ilmuwan sosial
termasuk Amitai Etzioni, Mary Ann Glendon, dan William Galston. Communitarian Network , yang didirikan pada 1993 oleh Amitai Etzioni, adalah kelompok yang paling terkenal yang menganjurkan
komunitarianisme. Sebuah
kelompok pemikir yang disebut Institute for Communitarian Policy Studies juga dipimpin oleh Etzioni. Suara-suara lain dalam
komunitarianisme termasuk Don
Eberly, direktur dari Civil Society Project , dan Robert Putnam, penulis Bowling Alone. Pengaruh di Amerika Serikat Sebagai cerminan dari dominasi
politik liberal dan konservatif di
Amerika Serikat, tidak ada partai
besar dan hanya sedikit pejabat
terpilih yang menganjurkan
komunitarianisme. Jadi tidak ada konsensus tentang kebijakan-
kebijakan individual, namun
sebagian dari yang kebijakan paling
didukung oleh kaum komunitarian
umumnya telah diberlakukan. Ada yang mengatakan bahwa
konsep “konservatisme belas kasih”
yang dianjurkan oleh Presiden Bush
selama kampanyenya pada 2000
adalah suatu bentuk pemikiran
komunitarian konservatif. Kebijakan-kebijakan yang dikutip
mencakup dukungan ekonomi dan
retorika untuk pendidikan,
relawanisme, dan program-program
komunitas, serta penekanan sosial
pada pengutamaan keluarga, pendidikan watak, nilai-nilai
tradisional, dan proyek-proyek
yang dipusatkan pada kelompok-
kelompok keagamaan. Dana Milbank, yang menulis dalam Washington Post, mencatat tentang kaum komunitarian modern, “Masih
belum ada apa yang disebut
komunitarian KTV, dan karena itu
tidak ada konsensus tentang
kebijakan. Sebagian orang, seperti
misalnya [John] DiIulio dan penasihat luar Bush, Marvin Olasky,
mendukung solusi-solusi
keagamaan untuk komunitis,
sementara yang lainnya, seperti
Etzioni dan Galston, lebih menyukai
pendekatan-pendekatan sekular.” [1] Komunitarianisme filosofis Para filsuf komunitarian terutama
peduli dengan masalah-masalah
ontologis dan epistemologis, jadi
berbeda dengan masalah-masalah
kebijakan. Tanggapan komunitarian
terhadap buku John Rawls, A Theory of Justice, mencerminkan
ketidakpuasan terhadap citra yang
disajikan oleh Rawls tentang
manusia sebagai individu yang
atomistik. Meskipun Rawls
memberikan ruang bagi kemurahan hati (benevolence), ia
memandangnya hanya sebagai
salah satu dari banyak nilai yang
ada di dalam diri seorang individu.

Posted on September 3, 2012, in Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: