KOMUNISME ALA MARX (KARL MARX)

Karl Marx (1770-1831) Penggunaan istilah komunis dalam
hasil karya mereka (dengan sebutan
manifesto komunis) adalah untuk
memberikan pengertian yang bersifat
revolusioner sembari terus
mengusung keinginan mereka untuk “bersama”, bersama dalam hal milik
maupun menikmati sesuatu. Masyarakat komunisme yang
digambarkan oleh Marx adalah suatu
komunitas yang tidak berkelas,
namun tenteram dan tenang, manusia
yang memiliki disiplin diri dan
memandang pekerjaan sebagai sumber kebahagiaan, lepas dari
pemikiran perlu tidaknya sebuah
pekerjaan dipandangan dari segi
keuntungan dan kepentingan diri
sendiri. Bekerja merupakan sumber
dari segalanya, sumber dari kebahagiaan serta kegembiraan.
Orang bekerja bukan untuk
memenuhi nafkah melainkan
panggilan hati. Oleh sebab itu,
selayaknya tiap-tiap orang menjalani
peran sesuai dengan kesanggupannya. Karena saat itu tingkat produksi telah
demikian melimpah, maka
pendapatan seharusnya tidak lagi
berupa upah melainkan berdasar
pada keperluan tiap-tiap individu.
Kemajuan teknologi telah memungkinkan segala kemudahan,
maka baginya tidak ada lagi
perbedaan kerja otak dan otot sebab
pembagian bukan lagi berdasarkan
jenis melainkan berdasarkan
keperluan hidup masing-masing individu.[4] Pada tahun 1844 Marx menulis
Economic and Philosophic Manuscript.
Dalam tulisannya Marx dengan cerdas
mengemukakan bahwa industrialisme
benar-benar nyata dan sepantasnya
disambut sebagai harapan untuk membebaskan manusia dari
keterpurukan hawa nafsu akan
kebendaan, ketidakpedulian, dan
penyakit. Sementara kaum romantik
kala itu lebih memandang
industrialisme sebagai sebuah kejahatan, Marx mengartikan alienasi
sebagai akibat dari industrialisme
kapitalis. Dalam manuskrip, Marx
mengungkapkan bahwa kapitalisme
manusia dialienasikan dari pekerjaan,
barang yang dihasilkannya, majikan, rekan sekerja, dan diri mereka sendiri.
Maka buruh, menurut Marx, akibat
dari industrialisme kapitalis, kini tidak
bekerja untuk mengaktualisasikan diri
serta potensi kreatifnya sebab
“pekerjaannya tidak atas dasar kesukarelaan tetapi atas dasar
paksaan”.[5] Keterasingan dari pekerjaan itu
terungkap dalam keterasingan
manusia dari manusia itu sendiri.
Buruh terasing dari majikannya yang
diakibatkan oleh kepentingan yang
kontradiktif; buruh ingin bekerja dengan kebebasan sesuai
kreativitasnya sendiri (minimal ia ingin
mendapatkan upah yang optimal)
sementara itu majikan membutuhkan
ketaatan dari buruh. Majikan pun
melakukan penekanan terhadap upah buruh demi perhitungan
untung-rugi perusahaan. Akibatnya
buruh terasing dari para buruh sebab
mereka saling bersaing berebut
tempat kerja. Majikan terasing dari
majikan lainnya karena terlibat juga dalam persaingan. Dalam kondisi
demikian, sistem kerja upahan
sebenarnya berdasar pada hak milik
pribadi yang mana meciptakan
kondisi di mana baik buruh maupun
majikan menjadi egois. Maka untuk mengembalikan kesosialan manusia
yang sesungguhnya, hak milik pribadi
atas alat-alat produksi harus
dihapuskan. Akan tetapi, menurutnya,
pantas kiranya untuk diketahui
bahwa hak milik pribadi bukan merupakan suatu perkembangan
kebetulan melainkan merupakan
akibat dari pembagian kerja. Oleh
karenanya, hak milik pribadi tidak
dapat begitu saja dihapus.
Penghapusan dilakukan berdasar pada kondisi perekonomian secara
objektif. Ajaran tentang kondisi itu
oleh Marx disebut dengan
“pandangan materialis sejarah.”[6] The Manifesto of The Communist Party,
atau Manifesto Partai Komunis yang
dicetak pada Februari 1845
merupakan karya Marx dan Engels
mendapatkan respon yang luar biasa.
Dalam buku ini dikemukakan mengenai hakikat perjuangan kelas.
Dengan tegas ia menjelaskan bahwa
persoalan perjuangan kelas adalah
bagian yang tidak terlepas dari
pergulatan manusia sepanjang zaman.
Ini bagian dari pergolakan untuk melakukan perubahan sosial dari
golongan masyarakat yang tertindas
melawan golongan yang
menindasnya sejak kemunculan kelas
sosial itu sendiri. Menurut Marx
polarisasi ini terdiri atas kelas Borjuis (kelas yang menindas karena memiliki
hak milik atas alat-alat produksi) dan
kelas Proletar (kelas terindas yang
hanya memiliki tenaga yang dapat
diperjualbelikan pada pihak yang
memiliki alat-alat produksi). Menurutnya, untuk melakukan
perubahan menuju masyarakat
sosialis yang kemudian menuju
masyarakat komunis yang tanpa kelas
(unclasses) diperlukan adanya
sebuah revolusi. Revolusi yang digambarkan menurut Marx
mengalami dua tahapan: pertama,
revolusi yang dipelopori kelas Borjuis
untuk menghancurkan kelas feodal
dan yang kedua adalah revolusi yang
dilakukan kelas pekerja dalam usahanya menghancurkan kelas
Borjuis. Pada revolusi tahap pertama,
kaum pekerja tidak tinggal diam,
mereka membantu kaum Borjuis
untuk menghancurkan golongan
feodal. Dan pada tahap kedua, kaum pekerja akan melakukan revolusi
untuk menghancurkan kelas Borjuis.
Pada tahap transisi dari masyarakat
kapitalis menuju tahap komunisme,
kekuasaan dilaksanakan oleh kelas
pekerja dengan menggunakan sistem kekuasaan yang disebut proletar.
Dikator ini diperlukan untuk
menghancurkan sisa-sisa borjuis agar
kelas pekerja memegang kendali
sistem pemerintahan untuk
keseluruhan masyarakat. Kekuasaan harus dipegang oleh kaum komunis
yang merupakan komune yang
termaju, paling teguh, dan yang paling
memahami kondisi, garis perjuangan,
dan hasil umum dari gerakan proletar. [7] Bagi Marx dan Engel lahirnya kelas itu
tidak dapat dipisahkan dari perjalanan
sejarah dalam tahapan
perkembangan kapitalis, dan pada
akhirnya dengan adanya kemauan
dari kelas proletariat untuk mengubah nasib mereka akan melahirkan
revolusi di mana kaum proletar yang
mengendalikan kekuasaan secara
diktator. Tindakan dikator itu
merupakan bagian dari revolusi guna
menghancurkan sisa-sisa kaum borjuis dan menuju tahap transisi
yang puncaknya akan tercipta suatu
masyarakat yang tanpa kelas.[8] Suatu masyarakat kapitalis akan tumbuh
dan terus tumbuh hingga akhirnya
berhenti bertumbuh karena
mengakibatkan kesengsaraan missal,
sehingga muncullah suatu perubahan
masyarakat yang disebut dengan revolusi.[9] Marx kemudian memandang etika
sebagai sesuatu yang berubah-ubah
menurut zaman dan tingkat produksi.
Dalam masa-masa sebelum diktator
proletariat, etika itu baginya sama saja
dengan etika kalangan berpunya, kalangan berkuasa. Dengan demikian,
etika itu bersifat nisbi, tidak ada yang
absolut, termasuk dalam apa yang
telah disebutkan tadi (oberbau).
Berbeda dengan etika pekerja di masa
dikatator proletariat, ia mengemukakan bahwa etika pekerja
itu penuh dengan sifat-sifat
kemanusiaan yang cenderung pada
keabsolutan. Semua alat dihalalkan
asalkan tujuan tercapai. Dan baginya
ini mutlak adanya.[10] Sementara itu, bagi Marx, agama
adalah the opium of people yang
mana agama tidak menjadikan
manusia menjadi dirinya sendiri
melainkan menjadi sesuatu yang
berada di luar dirinya yang menyebabkan manusia dengan
agama menjadi makhluk terasing dari
dirinya sendiri. Agama adalah sumber
keterasingan manusia. Agama harus
dilenyapkan karena agama
merupakan alat kaum Borjuis kapitalis untuk mengeksploitasi kelas pekerja.
Agama pada masanya dijadikan
sebagai alat untuk mempertahankan
kekuasaan kaum borjuis. Ia
digunakan agar rakyat tidak
melakukan perlawanan dan pemberontakan, rakyat dibiarkan
terlena agar tunduk patuh atas
penguasa. Dengan kata lain agama
adalah produk dari perbedaan kelas,
selama perbedaan kelas ada, maka
agama akan tetap ada. Marx percaya bahwa agama adalah perangkap
yang dipasang oleh kelas penguasa
untuk menjerat kaum proletariat.
Menurutnya jika perbedaan itu dapat
dihilangkan maka dengan sendirinya
agama akan lenyap.

Posted on Agustus 31, 2012, in Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: