KOMUNISME ALA ENGELS

Fredrich Engels (1820-1895) Sementara itu bagi Engel, istilah
komunis ini tidak terlalu mengandung
suatu pemikiran yang utopis
sebagaimana Marx seakan
mendalilkan bahwa komunisme
sebagai satu-satunya cara pemecahan masalah alienasi manusia yang
diciptakan oleh kapitalisme.
Komunisme bagi Marx merupakan
penghapusan yang pasti atas hal milik
pribadi dan alienasi siri manusia
karena merupakan pemberian yang nyata atas hakikat kemanusiaan oleh
dan untuk manusia. Komunisme
sebagai naturalisme yang telah
berkembang secara sempurna
merupakan sebuah humanisme dan
sebagai humanisme yang sempurna merupakan sebuah naturalisme. Hal
tersebut sesuai dengan pernyataan
ambisius Marx sewaktu muda:
“Komunisme merupakan pemecahan
terhadap segala teka-teki sejarah. Dan
komunisme sadar akan perannya tersebut”.[11] Engel lebih menghubungkan istilah
tersebut dengan perjuangan kelas
pekerja serta konsepsi materialis dari
sejarah (The Manifesto of The
Communist Party, halaman 28). Engel
mengemukakan bahwa bila tiba suatu waktu ketika kelas sosial lenyap,
maka kekuasaan politik pun akan
lenyap. Engel – yang merupakan
seorang profesor dan filsuf
berpengaruh di Jerman – sangat
dikenal dengan filsafat dialektikanya untuk memahami suatu sejarah. Ia
mengungkapkan pernah ada suatu
masa masyarakat tanpa negara dan
tanpa memiliki pengetahuan tentang
negara dan kekuasaannya. Pada
tingkat tertentu dari tahapan ekonomi yang berhubungan dengan
terpecahnya masyarakat menjadi
kelas-kelas, negara pun hadir sebagai
sebuah kebutuhan. Kemudian dalam
tahapan perkembangan produksi di
mana kelas-kelas menjadi suatu kebutuhan sekaligus “penghalang”
yang baik bagi produksi, kelas-kelas
tersebut akan dihancurkan oleh
sebuah gerakan revolusioner yang
bersifat komunal. Bersama dengan
hilangnya kelas-kelas tersebut maka negarapun lenyap (sebagaimana telah
dijelaskan di atas mengenai buku
Marx dan Engel yang berjudul The
Manifesto of The Communist Party). Analisis Pada akhirnya, sebagaimana
dikemukakan oleh Magnis Suseno,
paham Marx mengenai komunis dan
segala macam bentuk masyarakat
tanpa kelas, tanpa pembagian kerja,
dan juga tanpa paksaan adalah suatu pemikiran yang absurd. Sebab ide
Marx ini bersifat utopis dan bersifat
kontradiktif. Akibatnya ide ini hanya
akan mengalihkan perhatian manusia
dari usaha memperbaiki kehidupan
masyarakat. Hal tersebut terkait dengan
pandangan Marx terhadap fungsi
agama yang bertentangan dalam
perspektif sosiologi agama itu sendiri.
Dalam perspektif sosiologi, agamalah
yang telah memberikan peran sebagai ideologi pembebasan bagi kalangan
tertindas terhadap kaum yang
menindasnya. Pemikiran Marx
mengenai agama hanya didasari oleh
pragmatisme fungsi agama pada
masanya saja. Maka pada hakikatnya Marxisme dalam perkembangan
penafsiran secara analisis merupakan
suatu istilah yang merangkum
sekelompok doktrin menyangkut
pendiriannya yang mana tidak
mungkin bisa menyatukan kesemua doktrin tersebut karena beberapa
tafsirannya saling bertentangan satu
sama lain. Sementara teori klasik yang
dikemukakan oleh Marx dan Engels
mengenai perjuangan kelas banyak
mendapat kritik dari para teoritis
sosial sebab rumusan mereka tidak
lagi relevan dengan perkembangan sosiologi politik. Namun banyak juga
yang terpikat oleh metode perjuangan
yang dikemukakan mereka.
Pemikiran ini berkembang di Eropa
dan menjadi inspirasi yang demikian
revolusioner di kalangan pejuang politik yang menuntut perubahan dan
pembebasan, sebagaimana tokoh
revolusioner Antonio Gramsci, Lenin,
Stalin, dan lain-lain yang mengusung
gagasan ini dengan beberapa
penyesuaian.

Posted on Agustus 31, 2012, in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: