PERBEDAAN MONOTEISME DAN POLITEISME

Sebagai perbandingan, lihat Politeisme, yang berpendapat bahwa ada banyak tuhan. Dualisme mengajarkan bahwa ada dua
kekuatan ilahi atau prinsip-prinsip
kekal yang independen, yang satu
adalah Kebaikan, dan yang lainnya
adalah kuasa jahat, seperti yang
diajarkan oleh Zoroastrianisme kuno (Zoroastrianisme modern
sepenuhnya bersifat monoteistik).
Pandangan ini lebih lengkap
diajarkan dalam aliran-aliran yang
muncul belakangan dari sistem Gonistik, seperti misalnya Manikeanisme. Kebanyakan kaum monoteis akan
mengatakan bahwa berdasarkan
definisinya, monoteisme pasti
berlawanan dengan politeisme. Namun demikian, para pemeluk di
lingkungan tradisi politeistik
seringkali berperilaku seperti kaum
monoteis. Ini disebabkan karena
keyakinan akan tuhan yang banyak
itu tidak berarti bahwa mereka menyembah banyak tuhan. Secara
historis, banyak pemeluk politeis
percaya akan keberadaan banyak
tuhan, tetapi mereka hanya
menyembah satu saja, yang
dianggap oleh si pemeluk itu sebagai Tuhan yang Mahatinggi.
Praktek ini disebut henoteisme. Ada
pula teologi-teologi monoteistik di
dalam Hinduisme yang mengajarkan
bahwa rupa-rupa Tuhan yang
banyak itu, yaitu Wisnu, Syiwa, atau Dewi, semata-mata mewakili aspek-
aspek dari kekuatan Ilahi yang ada
di belakangnya atau Brahman (lih.
artikel tentang Nirguna Brahman
dan Saguna Brahman). Sebagian
orang mengklaim bahwa Hinduisme tidak pernah mengajarkan
politeisme [1] , dan klaim seperti itu bisa dianggap benar sebagai
salah satu pandangan Hinduisme,
yaitu pandangan Smarta yang
adalah sebuah pandangan
monoteistik yang inklusif dari
monoteisme, seperti yang akan dibahas kelak. Pandangan Smarta
ini mendominasi pandangan
Hinduisme di Barat dan telah
membingungkan semua orang
Hindu karena mereka dianggap
politeistik. Aliran Smarta ini adalah satu-satunya cabang dalam
Hinduisme yang sepenuhnya
mengikuti pandangan ini. Swami Vivekananda , seorang pengikut Ramakrishna, serta banyak tokoh
lainnya yang memperkenalkan
agama Hindu ke Barat, semuanya
adalah penganut aliran Smarta.
Hanya seorang pemeluk Smarta
yang tidak mempunyai masalah untuk menyembah Syiwa atau Wisnu bersama-sama karena ia memahaminya sebagai aspek-aspek
yang berbeda dari Tuhan yang
semuanya membawa kepada Tuhan
yang sama. Jadi, menurut teologi
Smarta, Tuhan dapat memiliki
banyak sekali aspek, dan dengan demikian, begitu keyakinan ini,
mereka percaya bahwa Wisnu dan
Syiwa sesungguhnya adalah Tuhan
yang satu dan sama. Para teolog
Smarta telah banyak mengutip
referensi untuk mendukung pandangan ini. Misalnya, mereka
menafsirkan ayat-ayat dalam Sri
Rudram, mantra yang paling suci
dalam Syiwaisme, dan Wisnu
sahasranama, salah astu doa yang
paling suci dalam Wisnuisme, untuk membuktikan keyakinan ini.
Sebaliknya, seorang pemeluk
Wisnuisme menganggap Wisnu
sebagai Tuhan satu-satunya yang
sejati, yang layak disembah dan
menganggap penyembahan terhadap bentuk-bentuk yang
lainnya lebih rendah atau sama
sekali keliru. Monoteisme dapat dibagi menjadi
berbagai bentuk berdasarkan
sikapnya terhadap politeisme:
monoteisme inklusif menganggap
bahwa semua tuhan atau dewa
dalam politeisme semata-mata hanyalah nama-nama yang lain dari
Tuhan monoteistik yang sama;
Smartaisme, sebuah denominasi
Hindu, mengikuti keyakinan ini dan
percaya bahwa Tuhan itu hanya
satu namun mempunyai berbagai aspek dan dapat disapa dengan
nama yang berbeda-beda.
Keyakinan ini mendominasi
pandangan Hinduisme di barat.
Sebaliknya, monoteisme eksklusif
mengklaim bahwa semua tuhan ini adalah salah dan berbeda dari
Tuhan yang monoteistik. Mereka itu
hanyalah rekaan kuasa jahat, atau
semata-mata suatu kekeliruan,
sebagaimana yang dipahami oleh Wisnuisme, suatu aliran dalam Hinduisme, terhadap penyembahan
apapun selain kepada Wisnu. Monoteisme eksklusif adalah ajaran
yang terkenal dalam ajaran agama- agama Abrahamik. Asal-usul agama-agama
Abrahamik Monoteisme diduga berasal dari ibadah kepada tuhan yang tunggal di dalam suatu panteon dan
penghapusan tuhan-tuhan yang
lain, seperti dalam kasus
penyembahan Aten dalam pemerintahan firaun Mesir Akhenaten , di bawah pengaruh istrinya yang berasal dari Timur, Nefertiti. Ikonoklasme pada masa pemerintahan firaun ini dianggap
sebagai asal-usul utama
penghancuran berhala-berhala
dalam tradisi Abrahamik, yang
didasarkan pada keyakinan bahwa
tidak ada Tuhan lain di luar tuhan yang mereka akui. Dengan
demikian, sebetulnya di sini
tergantung pengakuan dualistik
dan diam-diam tentang keberadaan
tuhan-tuhan yang lain, namun
hanya sebagai lawan yang harus dihancurkan karena mereka
mengalihkan perhatian dari tuhan
utama mereka. Monoteisme sebagaimana yang
diwarisi oleh bangsa Israel dalam pengalaman Exodus di bawah pimpinan Musa, dianggap, oleh mereka yang berpendapat bahwa
bangsa Israel ini adalah orang-
orang Hiksos, sebagai pewaris
kebijakan-kebijakan keagamaan
Akhenaten, karena sebelumnya
orang-orang Yahudi ini adalah politeis seperti halnya orang-orang
Mesir. Masalah-masalah lain seperti
Hak ilahi Raja juga muncul dari
hukum-hukum firaun tentang
penguasa sebagai demigod atau
wakil-wakil dari Pencipta di muka bumi. Kuburan-kuburan yang besar
di piramida Mesir yang mengikuti observasi astronomis,
menggambarkan hubungan antara
firaun dengan langit atau sorga dan
karena itu kemudian diambil oleh
para penguasa Krisen yang
mengklaim bahwa mereka diberikan kekuasaan langsung oleh
Allah. Zoroastrianisme dianggap oleh sebagian pakar sebagai bentuk
kepercayaan monoteistik yang
paling awal yang berevolusi dalam
kehidupan manusia, meskipun
sebagian turunannya tidak
sepenuhnya demikian, karena Tuhan yang utama dalam turunan-
turunan seperti Zurvanisme
bukanlah pencipta satu-satunya.
Ada teori yang menyatakan bahwa Yudaisme dipengaruhi oleh Zoroastrianisme, terutama pada masa pembuangan di Babel, dan setelah itu banyak bagian dari Perjanjian Lama yang ditulis dan disunting. Yudaisme yang lebih awal
diasumsikan hanya mengakui
bahwa YHVH adalah allah suku mereka (kemungkinan terkait
dengan Yaw) yang merupakan
dewa pelindung para keturunan Abraham, atau bahwa ada banyak allah tetapi bahwa hanya allah
mereka sajalah yang paling kuat.
Pandangan ini tidak sesuai dengan
pemahaman diri agama-agama Abrahamik – Yudaisme, Kristen, Islam – yang secara tradisional menegaskan bahwa monoteisme
eksklusif adalah agama asli dari
seluruh umat manusia, sementara allah-allah lainnya dipandang
sebagai berhala dan makhluk-
makhluk yang keliru disembah
sebagai tuhan. Beberapa profesor arkeologi
membuat klaim yang controversial
bahwa banyak cerita di dalam Kitab Suci Ibrani, termasuk catatan- catatan penting mengenai Musa, Salomo, dan lain-lainnya, sesungguhnya mula-mula
dikembangkan oleh para penulis
yang dipekerjakan oleh Raja Yosias
(abad ke-7 SM) untuk merasionalisasikan keyakinan
monoteistik terhadap YHVH. Teori ini
mencatat bahwa negara-negara
tetangga, seperti misalnya Mesir, Persia dll., meskipun menyimpan catatan-catatan tertulis, tidak
mempunyai tulisan-tulisan
mengenai cerita-cerita Alkitab atau tokoh-tokoh utamanya sebelum 650 SM. Klaim-klaim seperti itu diuraikan secara terinci dalam buku
Who Were the Early Israelites? oleh
William G. Dever, William B. Eerdmans
Publishing Co., Grand Rapids, MI
(2003). Buku lainnya yang serupa
adalah The Bible Unearthed oleh Neil A. Silberman dan rekan-rekannya,
Simon dan Schuster, New York
(2001). Meskipun orang Kristen percaya akan satu Allah, mereka mengakui
bahwa Allah ini, pada
kenyataannya, mempunyai tiga
pribadi: Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus (bersama-sama disebut Tritunggal), Orang Kristen menekankan bahwa agama mereka
bersifat monoteis. Biasanya teologi
Kristen mengaku bahwa ketiga
pribadi ini tidaklah independen
melainkan ‘homoousios’, artinya
bersama-sama mereka mempunyai hakikat atau substansi ilahi yang
sama. Namun, sebagian orang
mengatakan bahwa agama Kristen
adalah suatu bentuk dari Triteisme.
Lebih jauh, sebagian sekte minoritas
dari agama Kristen, seperti misalnya Saksi Yehuwa, menyangkal gagasan tentang Tritunggal , sementara yang
lainnya, seperti sekte Mormonisme, menyembah hanya satu Allah,
namun terbuka terhadap
keberadaan yang lain-lainnya. Rastafarian, seperti banyak orang Kristen lainnya, percaya bahwa
Allah adalah esa dan juga
Tritunggal, dalam kasus mereka,
Allah adalah Haile Selassie. Kaum Rasta memandang diri mereka
sendiri, dan kemungkinan juga
semua orang, sebagai unsure Roh
Kudus dari Tritunggal, dengan Haile
Selassie sebagai penjelmaan dari
Allah Bapa dan Allah Anak. Haile Selassie juga dipandang sebagai
kepala, dan kaum Rastafarian
sebagai tubuh, dari Allah. Monoteisme dalam Islam Dalam Al-Qur’an, Surah Al Baqarah
2:115 ﻢﺜﻓ ﺍﻮﻟﻮﺗ ﺎﻤﻨﻳﺎﻓ ﺏﺮﻐﻤﻟﺍﻭ ﻕﺮﺸﻤﻟﺍ ﻪﻠﻟﻭ
ﻢﻴﻠﻋ ﻊﺳﻭ ﻪﻠﻟﺍ ﻥﺍ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﺟﻭ Terjemahan : Dan kepunyaan Allah-lah Timur dan
Barat, maka ke manapun kamu
menghadap di situlah wajah Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Luas
(rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. Dari pernyataan di atas, kita dapat
melihat bahwa seperti Yudaisme dan
Kekristenan–penafsiran Al Qur’an
tentang Allah adalah Tuhan yang
kehadiran rohaninya dialami di
dalam seluruh jagad raya. Islam menjelaskan monoteisme dalam
cara yang sederhana. Terjemahan
monoteisme dalam bahasa Arab
adalah (Tauhid). Tauhīd berarti satu
(berasal dari kata wahid/ahad). Kata
ini menyiratkan penyatuan, kesatuan atau mempertahankan
sesuatu agar tetap satu. Syahadat
(ﺓﺩﺎﻬﺸﻟﺍ), adalah pengakuan atau
pernyataan percaya akan keesaan
Allah dan bahwa Muhammad adalah
nabinya. “Kalimat tauhīd” yang berbunyi: “Lailahailallah” yang
berarti bahwa satu-satunya tuhan
(ilah) yang pantas untuk diabdi,
ditaati, disembah, diikuti ajarannya
hanyalah Allah. Ajaran Tauhid menurut Islam
dibawa oleh seluruh Nabi/Rasul tak
terkecuali. Tidak semua Nabi
dikisahkan dalam Al Quran. Hanya
saja setelah Kenabian Muhammad
tidak akan ada Nabi lagi. Nabi-nabi sebelum Muhammad diutus untuk
umatnya masing-masing,
sedangkan Muhammad sebagai
penutup para Nabi diutus untuk
seluruh umat manusia hingga akhir
zaman. Pengucapan syahadat dalam Islam
adalah salah satu dari kelima Rukun
Islam yang diakui oleh Muslim . Bila
diucapkan dengan suara keras dan
dengan bersungguh-sungguh,
maka orang yang mengucapkannya dianggap telah menyatakan dirinya
sebagai pemeluk agama Islam. Salat
di dalam Islam, misalnya, mencakup
pernyataan kesaksian tentang
monoteisme. Islam menyatakan
“Keesaan Allah” sebagai ajaran utama mereka. Lebih jauh, Islam
menganggap ajaran Tritunggal
yang dipahami Islam sebagaimana
yang ada pada agama Kristen
sebagai penyimpangan terhadap
ajaran (Yesus/Isa) yang ada di dalam ajaran Islam tersebut. Kebenaran seseorang dalam Islam
diukur dari “penyerahan dirinya
secara total kepada ajaran Allah”.
Penyerahan diri yang dimaksud
adalah menempatkan diri sebagai
pelayan Tuhan maksudnya hidup karena mencari keridhaan Allah dan
tidak lagi hidup untuk
kepentingannya sendiri, karena
hanya dengan demikian pemeluk
Islam dianggap kaffah dalam
beragama. Mereka yang mengaku diri Islam namun dalam kehidupan
mereka tidak melaksanakan ajaran-
ajaran yang ada dalam Islam, dapat
disebut sebagai orang munafik.
Orang munafik adalah orang yang
tidak jelas keyakinannya, orang yang di satu sisi mengakui Islam
namun di sisi lain ia tidak
melaksanakan apa yang
diperintahkan dalam Islam. Orang-
orang yang seperti inilah yang
disebut dengan orang-orang yang kafir dengan sebenar-benarnya. Dalam pengertian yang universal
tauhīd sering juga dilambangkan
dengan angka O (nol), yang berarti
suatu keadaan di mana seseorang
sudah mengikhlaskan diri
sepenuhnya kepada Allah, sudah menanggalkan egonya,
kepentingannya sehingga dirinya
dengan kesadaran hidup
meridukan ridha dari Allah , yang
ada hanyalah Allah dan dirinya
hanyalah perpanjangan tangan Allah. Jika ego telah hilang maka
inilah penyatuan dengan Yang Maha
Kuasa atau Manunggaling Kawulo
Gusti yang sebenarnya hanya ada
dalam agama Hindu. Ketika Syeh Siti
Jenar mengungkapkan ini di tolak oleh sebagian besar umat Islam.
Karena itu simbol nol tidak ada
artinya dalam umat Islam. Nol berarti
nir kehampaan dan ini padanannya
adalah nirwana atau nirguna Tuhan tak tergambarkan, namun
kenyataannya Islam
menggambarkan Tuhan dengan
sifat-sifat, Maha Besar, Maha Kuasa,
dll. Monoteisme dalam agama Bahá’í Seperti dalam agama Islam, agama Bahá’í memahami monoteisme dalam pengertian yang sederhana.
Doa wajib dalam agama Bahá’í,
misalnya, mengandung pernyataan
kesaksian monoteistik yang jelas.
Kedua agama ini menyatakan
“Keesaan Allah” (Tauhīd) sebagai ajaran utama mereka. Seperti juga
halnya Islam, Bahá’í menganggap
ajaran Tritunggal dalam agama
Kristen sebagai penyimpangan
terhadap ajaran asli Yesus yang ada dalam Bahá’í. Bahá’í memandang
ajaran-ajaran non-monoteisme
yang muncul sebelumnya sebagai
versi kebenaran yang kurang
dewasa. Agama Bahá’í juga menerima
keotentikan para pendiri agama
yang mengajarkan monoteisme,
seperti misalnya Wisnuisme Gaudiya,
yang memusatkan ibadahnya
kepada Krisna sebagai Tuhan atau bahkan apa yang kadang-kadang
dipahami sebagai ajaran-ajaran ateistik seperti misalnya Buddhisme. Hinduisme Dalam Hinduisme, ada beberapa pandangan yang terdiri dari
monisme, dualisme, panteisme,
panenteisme, yang disebut oleh
sebagian pakar sebagai teisme
monistik, serta monoteisme yang
ketat. Namun mereka bukan politeistik, seperti yang dipandang
kebanyakan orang luar. Hinduisme
seringkali keliru ditafsirkan banyak
orang sebagai agama politeistik.
Contohnya adalah pemeluk Hindu
sendiri, contohnya kaum Smarta, yang mengikuti filsafat Advaita, adalah monis, dan memahami
berbagai manifestasi dari Tuhan
yang esa atau sumber keberadaan.
Kaum monis Hindu memahami satu
keesaan, dengan berbagai pribadi
Tuhan, sebagai aspek-aspek yang berbeda dari Yang Maha Tinggi dan
Esa, seeprti halnya satu pancaran
cahaya yang dipisah-pisahkan
menjadi berbagai macam warna
oleh sebuah prisma, dan semuanya
sah untuk disembah. Sebagian dari aspek-aspek Tuhan di dalam agama
Hindu mencakup Dewi, Wisnu,
Ganesya, dan Syiwa. Pandangan
Smarta inilah yang mendominasi
pandangan tentang Hinduisme di
Barat. hal ini disebabkan karena Swami Vivekananda , seorang pengikut Ramakrishna, di antara
banyak orang lainnya, yang
memperkenalkan keyakinan Hindu
ke dunia Barat, semuanya adalah
penganut Smarta. Aliran-aliran
Hinduisme lainnya, seperti yang digambarkan kelak, tidak menganut
keyakinan ini secara ketat dan lebih
erat berpegang pada persepsi Barat
tentang arti keyakinan yang
monoteistik. Selain itu, seperti
agama-agama Yudeo-Kristen yang percaya akan malaikat, orang Hindu juga percaya akan keberadaan
yang tidak begitu kuat, seperti
halnya para dewa. Hinduisme kontemporer saat ini
dibagi menjadi empat pembagian
utama yaitu, Wisnuisme, Syiwaisme, Saktiisme, dan Smartaisme. Seperti
halnya Yahudi, Kristen, dan Muslim
yang mempercayai satu Tuhan
namun berbeda dalam konsep
Ketuhanan, semua pengikut agama
Hindu percaya pada satu Tuhan namun berbeda dalam konsepnya.
Dua bentuk utama dari perbedaan
ini adalah antara dua kepercayaan
monoteistik dari Wisnuisme yang
menganggap Tuhan adalah Wisnu dan Syiwaisme, yang memahami
Tuhan sebagai Syiwa. Aspek-aspek
Tuhan yang lainnya pada
kenyataannya adalah aspek-aspek
dari Wisnu atau Syiwa; lihat
Smartaisme untuk informasi lebih lanjut. Hanya seorang pemeluk Smartaisme
tidak akan mengalami masalah
untuk menyembah Syiwa atau
Wisnu bersama-sama karena ia
memandang berbagai aspek dari
Tuhan menuntun kepada satu Tuhan yang sama. Pandangan
Smartalah yang mendominasi
pandangan Hinduisme di Barat.
Sebaliknya, seorang pemeluk Wisnuisme menganggap Wisnu sebagau Tuhan satu-satunya yang
sejati, yang layak disembah,
sementara bentuk-bentuk lainnya
adalah penampakan yang lebih
rendah. Lihat misalnya, ilustrasi
tentang pandangan pemeluk Wisnuisme tentang Wisnu sebagai
Tuhan sejati yang esa di sini . Dengan demikian, banyak pemeluk
Wisnuisme, misalnya, percaya
bahwa hanya Wisnu lah yang dapat menganugerahkan tujuan terakhir
manusia, moksa. Lihat misalnya, di sini . Demikian pula, banyak pemeluk Syiwaisme juga menganut
keyakinan yang sama, seperti yang
diilustrasikan pada di sini dan di sini . Namun, bahkan pemeluk
Wisnuisme, seperti orang-orang
Hindu lainnya, mempunyai toleransi
terhadap keyakinan-keyakinan
yang lain karena Dewa Krisna, avatar Wisnu, mengatakannya demikian di dalam Gita. Beberapa pandangan melukiskan pandangan
toleran ini: Krisna berkata: “Dewa atau
bentuk apapun yang disembah
seorang percaya, aku akan
menguatkan imannya. Namun
demikian, hanya Akulah yang
mengaruniakan keinginan mereka.” (Gita: 7:21-22) Kutipan lain di dalam Gita
mengatakan: “O Arjuna, bahkan pemeluk-
pemeluk yang menyembah
tuhan-tuhan lain yang lebih
rendah, (mis. dewa-dewa)
dengan iman, mereka pun
menyembah Aku, tetapi dalam cara yang tidak tepat, karena
Akulah yang Maha Tinggi. Hanya
akulah yang menikmati semua
ibadah kurban (Seva, Yajna) dan
Tuhan sarwa sekalian
alam.” (Gita: 9:23) Bahkan sebuah ayat Weda
melukiskan tema toleransi ini. Kitab-
kitab Weda dihormati di dalam
Hinduisme, apapun juga alirannya.
Misalnya, sebuah nyanyian Rig Weda
yang terkenal menyatakan bahwa: “Kebenaran hanya Satu, meskipun
para bijak mengenalnya dalam
berbagai bentuk.” Hal ini
berlawanan dengan keyakinan-
keyakinan di dalam tradisi-tradisi
agama lain, yang mewajibkan pemeluknya mempercayai Allah
hanya dalam satu aspek dan
menolak sama sekali atau
meremehkan keyakinan-keyakinan
lainnya. Monoteisme dalam Taoisme Tao adalah Yang Tertinggi yang tidak dapat didefinisikan dengan
bahasa manusia, sifatnya adalah
ketiadaan (nothingness) dan
mengandung tuhan-tuhan yang
lainnya. Berbeda dengan
monoteisme Timur Tengah, Tao tidak mempunyai sifat-sifat pribadi
seperti kesucian, cinta kasih, dan
kebenaran. Hal ini membuat
Taoisme terbebas dari masalah-
masalah teodisi. Lihat pula Tuhan Agama Allah dalam agama Abrahamik Henoteisme Kathenoteisme Teisme monistik Politeisme Monoteisme Semitik Agama Abrahamik Psikologi agama

Posted on Agustus 27, 2012, in Uncategorized and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: