SEJARAH GEREJA, ALIRAN TOKOH DAN PENGARUHNYA

Abad pertama sejarah gereja
berlangsung dari tahun 30 hingga
150 M. Pada awal masa ini akhirnya
gereja purba memahami bahwa
ketaatan pada hukum Taurat tidak
boleh lagi dianggap sebagai syarat mutlak keselamatan. Dampaknya juga
menyebabkan gereja Kristen dapat
meluas di lingkungan orang-orang
bukan Yahudi. Sekitar tahun 48 M
(kira-kira 18 tahun sesudah hari
Pentakosta) Paulus berhasil meyakinkan para rasul untuk tidak
memaksa orang-orang Kristen bukan
Yahudi untuk menaati Taurat Musa;
namun masih ada saja orang Yahudi
yang menganggap Taurat Musa
mutlak sebagai syarat keselamatan. Mereka ini disebut sebagai kaum
Yudais. Perluasan gereja bertolak dari daerah
Palestina-Siria ke daerah-daerah
sebelah Barat, Timur dan Selatan. Di
pertengahan ke-2 abad ke-2 agama
Kristen sudah tersebar di daerah yang
terbentang dari Eropa Barat sampai ke Asia Tengah. Pada masa pertama,
Antiokhia menjadi salah satu pusat
pekabaran Injil yang utama. Di sinilah
pertama kali berdiri jemaat Kristen
yang bukan orang-orang Yahudi.
Sekitar tahun 180 M agama Kristen sudah tersebar ke daerah yang
membentang dari Gallia (Perancis) di
Barat sampai Arabia Selatan dan Persia
di Timur. Agama Kristen juga sudah memasuki
berbagai lingkungan dan bahasa.
Berbagai lingkungan juga
mempengaruhi perkembangan
agama tersebut hingga timbul
berbagai cara yang ebrbeda untuk mengungkapkan keselamatan yang
dberikan oleh Allah melalui Yesus
Kristus. Di antaranya yaitu (cara yang
ditemukan pada abad ke-2 M):
didakhe, surat-surat Ignatius, Yustinus
Martir, dan Bardaisan. Didakhe. Kata ini berarti ‘pengajaran’.
Kitab ini adalah salah satu tulisan yang
terkenal setelah zaman para rasul,
yang diperkirakan ditulis di Siria pada
tahun 100 M. Kitab ini berisi tentang
jalan kehidupan dan jalan maut, kebiasaan-kebiasaan dalam hal
berpuasa dan berdoa, mengenai tata
ibadah khususny perayaan
sakramen-sakramen, dan mengenai
tata gereja. Surat-surat Ignatius. Sekitar tahun 110
M uskup Ignatius dari Antiokhia
ditangkap oleh pemerintah Romawi.
Dalam surat-surat ini tidak ada
suasana moralisme seperti yanh
terdapat dalam kitab didakhe melainkan pujian-pujian kepada
Kristus yang menyelamatkan manusia.
Ia menekankan bahwa keselamatan
itu adalah kehidupan dan yang
dipentingkan dalam karya Kristus
ialah kebangkitan. Yustinus Martir. Ia adalah seorang
filsuf aliran Platonisme namun telah
beralih ke filsafat Kristen. Ia
mengungkapkan imannya melalui
filsafat Yunani (Plato), namun ia juga
mengaku bahwa Allah yang tak dapat dikenal itu memperkenalkan diri dan
mengutus Anak-Nya ke dunia dan
menyelamatkannya. Untuk
mengungkapkan Kristus ia juga
menggunakan filsafat Stoa. Ia adalah
teolog pertama yang berusaha menguraikan iman Kristen secara
ilmiah. Bardaisan. Ia adalah seorang
bangsawan dari Edessa yang dididik
dalam lingkungan agama sinkretistis
yang tersebar di Asia Barat, yang
unsur utamanya adalah astrologi (ilmu
nujum) dari Babilonia kuno. Ia menekankan bahwa pilihan untuk
berbuat baik atau jahat, berkaitan
dengan takdir dalam ilmu astrologi,
merupakan pilihan kita sendiri. Dalam tata gereja juga terdapat
bentuk yang berbeda-beda. Di setiap
jemaat terdapat sejumlah presbuteroi
(penatua). Dari mereka dipilih penilik-
penilik (episkopoi) yg dibantu para
diaken (diakonoi). Penilik mengurus soal administrasi dan memimpin
kebaktian; diaken mengurus bantuan
bagi orang miskin dan melayani
Perjamuan Kudus. Ketiganya diangkat
melalui pemilihan unt tugas yg tetap;
namun di beberapa jemaat ada yang nampak pimpinan rangkap, yaitu di
samping pelayan ada juga nabi-nabi
dan pengajar-pengajar yang disegani
karena karunia Roh yang
dianugerahkan kepada mereka.
Diharapkan supaya semua anggota gereja memberi sumbangan menurut
karunia masing-masing. Golongan ini
disebut yang berkharisma’ (Roh). Mulai abad ke-2 polanya mulai
seragam. Dalam gereja mulai
ditetapkan hierarki (urutan pangkat):
penilik, penatua, diaken. Satu penilik
ditetapkan untuk satu jemaat.
Anggapan para pelayan pada saat itu yang memandang hubungan mereka
jauh lebih tinggi dibanding jemaat
menyebabkan perubahan baru. Istilah
Yunani ‘episkopos’ tidak lagi
diterjemahkan sebagai penilik
melainkan uskup. Penatua atau ‘presbuteroi’ diterjemahkan sebagai
imam. Uskuplah yang berkuasa dalam
jemaat. Segala keputusan gereja
ditetapkan dalam siding para uskup
atau sinode. Sistem di mana uskup
berkuasadalam gereja ini disebut sebagai sistem ‘episkopalisme’. Sistem
pemerintahan ini masih dipakai di
gereja ortodoks timur (di Rusia dan
Eropa tenggara). Ada tiga unsur yang ada dalam ibadah
pada masa itu: pembacaan Alkitab,
khotbah dan doa. Perjamuan
dirayakan setiap hari Minggu, dan
hanya orang-orang percaya yang
telah beroleh pembasuhan pengampunan dan kelahiran kembali
dan yang hidup sesuai ajaran Kristen.
Sedangkan baptisan dilayankan
dalam upacara tersendiri. Pada abad
ke-2 M mulai ada pembatasan
baptisan anak-anak dengan pertimbangan bahwa baptisan harus
diperoleh melalui penyesalan. Pada tahun 150 M gereja menghadapi
berbagai tantangan, diantaranya yaitu
munculnya aliran-aliran gnostik.
Gnosis (Yunani) artinya pengetahuan.
Istilah gnostik secara khusus dipakai
sebagai sebutan bagi beberapa aliran kepercayaan pada abad ke-2 M, misal
aliran Valentinus dan Basilides. Pokok
ajarannya tentang asal dunia, tabiat
manusia, dan asal kejahatan; yaitu
bahwa dunia yang buruk ini bkn
ciptaan Allah yg baik; keselamatan itu diperoleh dengan askese. Asas-asas
gnostik yang bertentangan dengan
asas-asas iman Kristen: Perjanjian baru
dipisahkan dari perjanjian lama dan
maknanya diputarbalikkan; Allah
Bapa tidak sama dgn Allah Bapa Yesus Kristus. Materi (zat jasmani) bukanlah
ciptaan Allah; tidak akan ada
kebangkitan daging dan tidak akan
ada dunia baru sebab seluruh materi
akan binasa kelak; dalam hal
kelakuan manusia ditekankan bukan pada kesejahteraan sesama
melainkan pada perlawanan tabiat
jasmani. Untuk mengatasi tantangan ini,
dibentuklah tiga asas; yaitu kanon,
pengakuan iman, dan uskup. Ajaran
gereja yang berdasarkan ketiga asas
tersebut disebut ‘ortodoks’ atau
ajaran yang tepat. Kanon berarti ukuran, patokan. Gereja harus
menentukan kitab mana yang benar-
benar berasal dari murid Tuhan,
karena pada masa itu banyak sekali
penganut gnostik membuat kitab-
kitab palsu yang memakai nama rasul. Gereja juga memerlukan ikhtisar
pokok-pokok kepercayaan yang
akan menjadi pegangan bagi jemaat.
Oleh sebab itulah dibentuk
pengakuan iman, yang pada akhirnya
kita kenal dengan pengakuan iman rasuli. Selain itu dibutuhkan juga
seseorang yang mengartikan dan
menerapkan pengajaran-pengajaran
tersebut. Orang itu adalah uskup. Di abad ke-2 M penantian akan
kedatangan Tuhan kembali sudah
memudar. Sekitar tahun 160 M
pengharapan eskatologis (yang
menyangkut akhir zaman) kembali
berkobar-kobar. Hal ini menyebabkan munculnya gerakan montanisme[2]. Gerakan ini dipelopori oleh seorang
bernama Montanus yang menyatakan
bahwa dalam dirinya sudah datang
Roh penolong yang dijanjikan oleh
Yesus. Ia didampingi oleh dua nabi
wanita. Mereka menyatakan (sering disampaikan menggunakan bahasa
lidah) bahwa akhir dunia sudah tiba,
maka orang-orang dilarang untuk
kawin, diharuskan banyak berpuasa
dan meninggalkan dunia untuk hanya
tinggal di suatu tempat (pada saat itu Pepuza[3]). Akhir dunia belum tiba namun gerakan ini tersebar ke
propinsi-propinsi juga. Karena gereja
percaya bahwa kanon PL dan PB
merupakan pernyataan Allah yang
lengkap maka gereja tidak dapat
mengakui kekuasaan orang-orang yang menyatakan diri dipenuhi oleh
Roh Kudus di samping kekuasaan
mereka sendiri. Gerakan ini hidup
sampai abad ke-4 namun akhirnya
kemudian menghilang. Pada masa perkembangan gereja di
abad pertama orang-orang Kristen
cukup mencolok dalam dunia sekitar.
Mereka lain dari yang lain: lain dari
orang Yahudi, lain pula dari orang-
orang Romawi. Mereka sangat menghindari semua hal yang justru
digemari oleh orang-orang kafir
sezamannya; misalnya sandiwara-
sandiwara dalam teater yang
seringkali isinya kurang sopan. Itulah
sebabnya mereka merupakan sasaran kebencian baik dari pihak rakyat
maupun dari pihak pemerintah.
Akibatnya banyak fitnah yang
ditujukan pada orang-orang Kristen.
Mereka difitnah ingin memikat orang-
orang yang mereka tolong saja, angkuh, sombong, bahkan dituduh
menculik anak-anak kecil untuk
meminum darahnya dan memakan
dagingnya, juga dituduh bahwa
kebaktian mereka berakhir dengan
percabulan. Di samping itu pejabat-pejabat
pemerintah lebih mencurigai sikap
politis orang-orang Kristen. Mereka
takut karena orang-orang Kristen
dikenal sebagai orang-orang yang
mengharapkan datangnya suatu kerajaan lain. Hal-hal inilah yang akhirnya
mengantarkan orang-orang Kristen
pada penganiayaan selama dua
setengah abad. Mereka dibunuh
karena pengakuannya sebagai orang
Kristen. Kalau mereka mau menyangkal dan mempersembahkan
korban kepada kaisar mereka dapat
dibebaskan. Cara mereka dibunuh
pun sama seperti hukuman yang
diberikan pada penjahat yang paling
jahat: dibakar, disalib, atau berkelahi dengan binatang buas. Orang-orang martir pada saat itu yang
cukup terkenal adalah Ignatius
(uskup Antiokhia), Polikarpus (uskup
Smirna), Blandina (seorang budak
perempuan dari kota Lyon, Perancis),
dll. Kemartiran mereka justru membuat orang-orang mulai insaf
akan kemuliaan dan kebenaran
agama Kristen sehingga gereja makin
bertambah besar. Pada masa-masa penganiayaan
orang-orang Kristen tidak diberi
kesempatan untuk membela diri. Maka
dari itu orang-orang Kristen terpelajar
mengarang kitab-kitab pembelaan
atau apologi. Yang paling terkenal di antara kaum terpelajar adalah
Yustinus Martir dan Tertulianus.
Mereka tidak hanya sekedar
menyangkal segala fitnah terhadap
kepercayaan dan kelakuan orang-
orang Kristen. Mereka juga berupaya membuktikan kebenaran ajaran
agama Kristen yang akhirnya
membentangkan kebodohan dan
dosa-dosa agama-agama kafir yang
politeis. Meski negara tidak
mengindahkan tulisan-tulisan mereka namun pada akhirnya kaum-kaum
terpelajar mulai memperhatikannya.
Para apologet itu merupakan orang-
orang pertama yang menguraikan
ajaran agama Kristen secara sistematis. Sekitar tahun 250 M dimulailah tahap
kedua penganiayaan terhadap kaum
Kristen. Penganiayaan ini dilakukan
langsung oleh negara sendiri sebagai
pemrakarsanya. Negara sengaja ingin
memusnahkan agam Kristen. Kaisar Decius (±250) dan Kaisar Diocletianus
(± 300) adalah musuh-musuh utama
agama Kristen. Sikap negara pada saat
itu mulai menjadi keras karena
musuh-musuh menyerang batas-
batas kekaisaran. Kaisar Decius ingin memperkuat ketahanan negara
melalui agama. Para penduduk
diharuskan mempersembahkan
korban kepada dewa-dewa. Kalau
orang Kristen menolak mereka
dianggap pengkhianat. Sekitar tahun 250 jumlah orang Kristen sudah agak
besar, tersebar di seluruh kekaisaran
dan di luar perbatasannya sampai di
Persia dan di India. Yang paling
banyak jumlahnya di Asia Barat
terutama di Asia Kecil dan Siria. Mereka tinggal di kota-kota dan kebanyakan
adalah rakyat kecil. Meskipun begitu
negara terutama menyerang uskup-
uskupnya. Uskup-uskup dari Roma,
Antiokhia, dan Yerusalem mati
dibunuh. Setelah satu tahun penghambatan itu
pun terhenti karena negara mengakui
kekalahannya. Setelah beberapa
puluh tahun gereja dapat
berkembang tanpa hambatan. Orang-
orang Kristen bahkan menduduki pangkat-pangkat dalam istana. Tiba-
tiba pada tahun 303 di bawah
pemerintahan kaisar Diocletianus
orang-orang Kristen dianiaya lebih
hebat daripada sebelumnya. Setelah
berlangsung selama delapan tahun barulah penghambatan ini berhenti. Lain halnya dengan kaisar
Konstantinus Agung. Ia mencari jalan
untuk mempertahankan keutuhan
negara dengan mencari dukungan
gereja, yaitu dengan mengeluarkan
edik Milano. Gereja mulai dianakmaskan, milik gereja yang
dirampas harus dikembalikan dan
negara memberi banyak uang untuk
pembangunan gedung-gedung
gereja. Negara memaksa semua
anggota sekta-sekta Kristen masuk menjadi anggota gereja. Walaupun
Konstantinus masih membiarkan
agama kafir, namun pengganti-
penggantinya menyuruh orang untuk
menutup rumah-rumah berhala dan
melarang orang untuk menyembah dewa-dewa. Pada tahun 380 Kaisar Theodosius
mengeluarkan peraturan supaya
seluruh penduduk menganut agama
resmi, yaitu agama Kristen ortodoks.
Namun sesudah tahun-tahun itu
kaisar-kaisar juga ingin memperoleh pengaruh yang sebesar-besarnya di
dalam gereja. Mulailah dipilih uskup-
uskup yang mau memihak kepada
pemerintah. Gereja harus mengutuk
musuh-musuh kaisar. Begitulah
hingga gereja menjadi kaya raya dan jumlah orang Kristen menjadi
melonjak. Orang-orang yang ingin
tetap memlihara nilai-nilai Kristen
memisahkan diri dan menyendiri
sambil ber-askese. Setelah penganiayaan selesai,
muncullah pertikaian dari dalam, yaitu
dari antara orang-orang Kristen
sendiri. Yang dipersoalkan adalah diri
Kristus, yaitu hubungannya dengan
Allah Bapa (tentang trinitas)dan hubungan tabiat ilahi dan manusiawi
di dalam diri Kristus (tentang
kristologi). Pemikiran-pemikiran
dalam filsafat yang menjabarkan tabiat
Kristus (Neo-Platonisme misalnya)
menimbulkan masalah karena filsafat Yunani-Romawi ini memandang zat
ilahi bertingkat-tingkat. Di satu sisi
kaum teolog ingin memakai
wawasan-wawasan yang dapat
dipahami oleh orang-orang sezaman
mereka, namun di sisi lain mereka tidak mau dan tidak boleh
menyimpang dari Sabda ilahi dalam
Alkitab.

Posted on Agustus 25, 2012, in Uncategorized and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: