Masa Pembukuan Al Hadist

Usaha pendiwanan (yaitu
pembukuan, pelakunya ialah
pembuku Al Hadits disebut
pendiwan) dan penyusunan Al
Hadits dilaksanakan pada masa
abad ke 3 H. Langkah utama dalam masa ini diawali dengan
pengelompokan Al Hadits.
Pengelompokan dilakukan dengan memisahkan mana Al Hadits
yang marfu’, mauquf dan maqtu’. Al Hadits marfu’ ialah Al Hadits yang
berisi perilaku Nabi Muhammad, Al Hadits mauquf ialah Al Hadits yang
berisi perilaku sahabat dan Al Hadits maqthu’ ialah Al Hadits yang berisi
perilaku tabi’in. Pengelompokan tersebut di antaranya dilakukan
oleh : Ahmad bin Hambal ‘Abdullan bin Musa Al ‘Abasi Al
Kufi Musaddad Al Bashri Nu’am bin Hammad Al Khuza’i ‘Utsman bin Abi Syu’bah Yang paling mendapat perhatian
paling besar dari ulama-ulama
sesudahnya adalah Musnadul Kabir karya Ahmad bin Hambal (164-241 H / 780-855 M) yang berisi 40.000 Al Hadits, 10.000 di
antaranya berulang-ulang. Menurut
ahlinya sekiranya Musnadul Kabir ini
tetap sebanyak yang disusun
Ahmad sendiri maka tidak ada
hadist yang mardud (tertolak). Mengingat musnad ini selanjutnya
ditambah-tambah oleh anak Ahmad
sendiri yang bernama ‘Abdullah dan
Abu Bakr Qathi’i sehingga tidak
sedikit termuat dengan yang dla’if
dan 4 hadist maudlu’. Adapun pendiwanan Al Hadits
dilaksanakan dengan penelitian sanad dan rawi-rawinya. Ulama terkenal yang mempelopori usaha
ini adalah : Ishaq bin Rahawaih bin
Mukhlad Al Handhali At
Tamimi Al Marwazi (161-238 H / 780-855 M) Ia adalah salah satu guru Ahmad
bin Hambal, Bukhari, Muslim, At
Tirmidzi, An Nasai. Usaha Ishaq ini selain dilanjutkan
juga ditingkatkan oleh Bukhari,
kemudian diteruskan oleh muridnya
yaitu Muslim. Akhirnya ulama-ulama
sesudahnya meneruskan usaha
tersebut sehingga pendiwanan kitab Al Hadits terwujud dalam kitab
Al Jami’ush Shahih Bukhari, Al
Jamush Shahih Muslim As Sunan
Ibnu Majah dan seterusnya
sebagaimana terdapat dalam daftar kitab masa abad 3 hijriyah. Yang perlu menjadi catatan pada
masa ini (abad 3 H) ialah telah
diusahakannya untuk memisahkan Al Hadits yang
shahih dari Al Hadits yang tidak
shahih sehingga tersusun 3 macam Al Hadits, yaitu : Kitab Shahih – (Shahih Bukhari, Shahih Muslim) – berisi Al Hadits yang shahih saja Kitab Sunan – (Ibnu Majah, Abu
Dawud, At Tirmidzi, An Nasai, Ad
Damiri) – menurut sebagian
ulama selain Sunan Ibnu Majah
berisi Al Hadit shahih dan Al
Hadits dla’if yang tidak munkar. Kitab Musnad – (Abu Ya’la, Al
Hmaidi, Ali Madaini, Al Bazar, Baqi
bin Mukhlad, Ibnu Rahawaih) –
berisi berbagai macam Al Hadits
tanpa penelitian dan
penyaringan. Oleh seab itu hanya berguna bagi para ahli Al
Hadits untuk bahan
perbandingan. Apa yang telah dilakukan oleh para
ahli Al Hadits abad 3 Hijriyah tidak
banyak yang mengeluarkan atau
menggali Al Hadits dari sumbernya
seperti halnya ahli Al Hadits pada
adab 2 Hijriyah. Ahli Al Hadits abad 3 umumnya melakukan tashhih (koreksi atau verifikasi) saja atas Al
Hadits yang telah ada disamping
juga menghafalkannya. Sedangkan
pada masa abad 4 hijriyah dapat
dikatakan masa penyelesaian pembinaan Al Hadist. Sedangkan abad 5 hijriyah dan seterusnya
adalah masa memperbaiki susunan kitab Al Hadits, menghimpun yang terserakan dan memudahkan mempelajarinya .

Posted on Agustus 25, 2012, in Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: