Sejarah Hidup Zhung Zi dan Pemikiranmya

Zhuangzi庄子 hidup pada 369 SM ~ 286
SM, adalah ahli filsafat terpopuler pada
pertengahan Zaman ‘Peperangan
Negara-negara’ di Tiongkok (战国时代
zhan guo shi dai, tahun 403 – 221 SM)
serta tokoh yang amat penting dalam Daoisme/Taoisme setelah Laozi. Hasil
karya beliau diberi judul oleh Kaisar
Tang唐皇—-“Zhuangzi” atau “Nanhua
Jing(南华经)”. Menurut Shiji (史記)/Kitab
Sejarah, Zhuangzi庄子namanya Zhou (周)
dan nama kehormatan Zixiu (子休). Ia berasal dari Meng (蒙) (Sekarang: Timur
Selatan Prefektur Sangqiu, 商丘县东北; atau
Prefektur Anhuimong, 安徽蒙城县), Negara
Song, 宋國 (Sekarang:Propinsi Henan,河南
省). Dalam buku “Zhuangzi”, beliau
diceritakan pernah menjadi pejabat sebagai “Qiyuan Li, 漆園吏, sehingga
dijuluki juga sebagai pejabat Meng, 蒙吏.
Riwayat dan kehidupan Zhuangzi
yang diketahui oleh kita sekarang
tidaklah lengkap, walaupun dalam
buku Shiji (史記)/Kitab Sejarah ada tercatat tentang dirinya, tapi tidak
dapat dikatakan cukup lengkap.
Dikilahkan bahwa dia hidup semasa
bertatahnya Raja Liang Hui Wang梁惠王
dan Qi Xuan Wang齐宣王. Intektualitasnya
sangat tinggi , karangannya sangat baik, alur pemikirannya sealiran
dengan Laozi老子. Ketika dia hidup
mengeritik dengan sengit sekali
terhadap Konfusianis儒家 dan Motis墨家,
sehingga menjadi sangat polupler
pada zaman itu. Walaupun pada kala itu kedua tokoh tersebut menjadi
tokoh utama dan sangat populer,
namun kritikan Zhuangzi terhadap
kedua tokoh tersebut sangat tajam
sekali. Argumentasinya dan isinya
sangat dalam dan sangat bebas mengalir, sehingga kaum penguasa
juga tidak sanggup memberi suatu
jabatan sebagai abdi negara
kepadanya.
Dalam buku Shiji (史記)/Kitab Sejarah
ada ditulis secara pendek tentang penolakan dia atas undangan Raja
Chu Wei Wang楚威王yang meminta dia
untuk menjadi pejabat negaranya.
Setelah itu tidak ada catatan rinci lagi
tentang dia. Zhuangzi hidup pada
zaman ‘Peperangan Negara-negara’(战 国时代zhan guo shi dai, tahun 403 –
221SM) dimana peperangan telah
membawa kesengsaraan hidup rakyat
jelata, akibat perang sungguh sangat
tak tertahankan, pada saat demikian
lahirlah seorang pembela kehidupan rakyat dengan coba memberi gagasan
untuk melepaskan rakyat dari
penderitaan tersebut. Dalam hal ini
Zhuangzi telah bangkit dan memberi
gagasan-gagasannya untuk
berargumentasi dan mengadakan kritikan-kritikan tajam dalam membela
rakyat untuk lepas dari kesengsaraan-
kesengsaraan ini.
Pada suatu ketika Raja Chu Wei Wang
mendengar bahwa Zhuang Zhou庄周
(nama asli dari Zhuangzi) adalah seorang cendikiawan tersohor, maka
bermaksud mengundang dia untuk
diangkat jadi Patih di Negara Chu,
dengan mengirim utusan dan banyak
hadiah-hadiah berupa emas dan
mutu-manikam. Zhuangzi kepada pengundang berkata : “Emas dan
mutu-manikam adalah sangat
berharga. Jabatan Patih adalah jabatan
kehormatan. Tapi tahukah tuan,
bahwa sapi Qurban pada saat
persembahan ? Sapi-sapi ini sebelum disembelih untuk dijadikan qurban,
diperlihara dengan istimewa beberapa
tahun, diberi pakan yang yang sangat
bergizi dan sehat, diberi pakaian yang
sangat indah, tapi akhirnya pun harus
dibawa ke kuil untuk disembelih sebagai Qurban, ketika itu sapi-sapi ini
walaupun ingin menjadi babi buduk
juga sudah tidak bisa, menyesal juga
sudah terlambat.” Lebih lanjut Zuangzi
berkata: “ Jika tuan mengerti akan
cerita ini, maka tuan tidak perlu untuk mengganggu kebebasan hidup saya.
Saya lebih senang hidup dalam dunia
kumuh ini, dan bebas bermain, setiap
hari tidak terikat dengan segala
macam protokuler-protokoler istana
dan pekerjaan, tidak ada tekanan bathin. Tidak dikontrol ketat oleh raja,
sehingga bisa bebas. Maka lebih baik
saya hidup normal sebagai rakyat
jelata, tidak ada tekanan-tekanan dan
beban bathin. Tidak ada jabatan maka
ringanlah hidup ini, apakah ini tidak lebih baik ?” Maka pulanglah si
pengundang suruhan raja tersebut…..
Memang banyak kisah-kisah Zhuangzi
yang mirip dengan cerita ini. Zhuangzi
dikilahkan bahwa hidupnya miskin,
tapi walaupun miskin tidak inferioriti atau merasa rendah diri, bahkan
sangat tinggi hati, dan pendiriannya
sangat tegas dan lugas. Dalam
bukunya “Seba Serbi Catantan”杂篇《外物》
(za pian – wai wu). Suatu kali Dia ini
karena miskinnya, kehabisan uang untuk membeli beras untuk makan.
Maka dia pergi ke seorang bangsawan
yang bernama Lan Hehou (蓝河侯lan he
hou) bermaksud memimjam beras. Lan
Hehou ini adalah kenalan Zhuangzi
penjaga pintu air pengairan, yang kondisinya lebih berkecukupan dari
rakyat sekitarnya. Lan Hehou
menjawab : “ Baiklah” dengan muka
sedikit masam, lalu lanjutnya : “Tidak
lama lagi saya akan pergi ke wilayah
tanah saya untuk menagih pajak air, setelah penagihan selesai akan saya
pinjami tuan 300 tail emas.
Bagaimana?”. Zhuangzi dengan
tenang berkata : “Tadi ketika saya
akan kesini, dijalanan saya mendengar
ada suara rintihan , setelah saya telusuri dan dekati ternyata disatu
saluran air pinggir jalan yang tergilas
kereta mogok, airnya sudah mulai
mengering, disana ada se-ekor ikan
yang sedang megap-megap
kekurangan air.” Lalu saya bertanya kepada ikan tersebut “Ikan kecil kamu
kenapa ?” Ikan itu berkata : “ Saya ini
adalah pejabat kecil dari kerajaan laut
timur, saya terdampar oleh ombak
besar ketika melakukan tugas didekat
pantai, kini tercebak di got ini dan kekurangan air. Sudikah tuan tolong
ambilkan air se-ember untuk
menolong saya ?” Ikan ini dengan
suara iba sekali mengutarakan
permintaan ini. Maka saya beritahu
Ikan ini : “ Baiklah. Kini saya akan pergi ke Raja Yue & Wu dipantai
selatan, saya akan gali kanal untuk
mengalirkan air laut kemari, untuk
menolong kamu. Bagaimana ?” Ikan
ini menjawab : “Sekarang ini saya
sedang sekarat, kamu cukup beri saya beberapa liter air sudah bisa
menyambung hidup saya. Tapi justru
kamu kini memberi saya janji-janji
sorga dengan akan membawa air dari
laut timur segala macam. Jika
demikian, ketika tuan kembali kesini lagi, lebih baik tuan cari saya di pasar
dalam kedai ikan asin saja……”
Ada cerita bahwa suatu ketika saat
Zhuangzi bekerja untuk membuat
sepatu rumput, namun tetap saja
menolak tawaran sebagai pejabat negara. Jadi dapat dibayangkan
secara ekonomis hidupnya cukup
miskin. Ada seorang temannya yang
bernama Cao Shang曹商, menjadi
pejabat di negara 宋sebagai diplomat,
suatu ketika diutus untuk mengadakan perundingan ke Negara
Qin秦. Saat pergi hanya dengan
beberapa kereta saja, tapi Raja Qin
sangat terkesan dengan dia, maka
ketika kembali pulang dihadiahi dia
seratus kereta. Dia pulang dengan bergaya dan sombong mampir
menemui Zhuangzi untuk
membaggakan dirinya. Cao Shang
berujar :”Kamu ini tinggal ditempat
kumuh begini, sambil kelaparan
membuat sepatu rumput, badan bisa jadi lemah, cara hidup miskin begini,
bagi saya sungguh tidak cocok. Lebih
baik saya dihadapan Raja-raja untuk
menunjukkan kemampuan dan
kepandaian saya, biar mereka
terkagum-kagum dan terkesan, yang ujung-ujungnya akan diberi hadiah
yang sangat berharga.” Zhuangzi
mendengar ocehan temannya ini tetap
menganyam sepatu rumput, tanpa
menoleh menjawab dengan kata-kata
datar : “ Saya pernah dengar bahwa ketika Raja Qin sakit dan dikunjungi
tabib, tanda terima kasih raja ada
tingkatannya. Suatu kali Raja ini
mempunyai bisul dibadannya, jika
seorang tabib memakai jarum
menoblosnya biar nanah dan darah kotornya keluar dan sembuh, maka
hadiahnya 1 kereta. Jika dibadan
bagian bawahnya (dubur) tumbuh
wasir dan tabib dengan lidah
membersihkannya, sehingga Raja
merasa nikmat, maka hadiahnya 10 kereta. Tuan saya tidak tahu apa yang
Tuan lakukan terhadap Raja Qin
hingga dapat hadiah 100 kereta?
Kiranya mungkin dengan menjilati
wasir Raja dengan cara khusus dan
menjijikan. Maka sekarang cepat kamu pergi dari tempat saya ini agar tidak
mengotori tempat ini”
Memang Zhuangzi ini paling pandai
membuat cerita-cerita dan fabel yang
mengadung arti filsafat yang sangat
dalam. Cerita-cerita dan fabelnya menunjukkan pribadinya yang
mendambakan kebebasan hakiki
yang alami. Zhuangzi bercerita bahwa
dulu dia pernah bermimpi, dalam
mimpi dia menjadi se-ekor kupu-
kupu. Kupu-kupu ini terbang kesana kemari dengan senang dan bebasnya
di padang yang penuh bunga-bunga
liar, sehingga kupu-kupu ini lupa
bahwa dirinya adalah Zhuang Zhou庄周
(nama asli Zhuangzi). Tiba-tiba dia
terbangun dari tidurnya, dengan mata belalak melihat pada dirinya sendiri.
Ternyata dirinya memang Zhuang
Zhou, lalu merenung apakah Zhuang
Zhou yang dalam mimpi menjadi
kupu-kupu ? Atau kupu-kupu yang
bermimpi menjadi Zhuang Zhou ? Apa memang ada perbedaan antara
Zhuang Zhou dan kupu-kupu ?
Perubahan ini dinamakan “Jelmaan” (物
代wu dai).
Cerita-cerita yang coba
mempermainkan logika manusia semacam demikian sangat sarat dalam
buku “Zhuangzi”. Seperti cerita diatas
ini, menurut logika, manusia tidak
mungkin menjelma menjadi kupu-
kupu, juga kupu-kupu tidak mungkin
menjelma menjadi manusia. Semua orang akan setuju dengan logika ini.
Tapi apakah menurut alur pikiran
Zhuangzi adalah demikian ? Rupanya
dia ini coba memancing logika kita
untuk berpikir. Dia sengaja
mengajukan pertanyaan ini, untuk mengugah kekritisan kita dalam
berpikir. Jika memang kita yakin
bahwa dirinya adalah manusia, tapi,
mungkin dalam kenyataannya kita
adalah kupu-kupu yang bermimpi
menjelma menjadi manusia, inipun tidak ada yang tahu. Kecohan-
kecohan logika demikian sengaja
dilontarkan oleh Zhuangzi, untuk coba
menjerumuskan akal sehat kita
menjadi kacau. Kemudian kita akan
mengatakan dengan kalem :”Kupu- kupu dan Zhuang Zhou memangnya
ada perbedaannya? Inilah yang
dikatakan menjelma sama dengan
transformasi”. Apa yang dikatakan
“Penjelamaan” , merupakan
perubahan yang alami. Jika berpijak pada pandangan dan pendirian ini,
maka tidak ada perbedaan antara
manusia dan kupu-kupu, juga akan
tidak ada perbedaan antara kenyataan
dan mimpi. Pendirian “Transformasi”
ini, ada kaitannya dengan masalah pertanyaan akan “Mati dan Hidup” itu
sama. Melihat orang hidup kemudian
mati adalah suatu yang alami,
merupakan salah satu proses alam,
semua dipandang sebagai sesuatu
yang “Relatif”. Dalam konteks ini telah dibedakan antara manusia dan benda,
adalah “Relatif”. Tapi dalam cerita
diatas yang akan dikatakan oleh
Zhuangzi, tidak saja ingin
mengemukakan “Relativitas’ antara
manusia dan benda saja, tapi juga perbedaan antara kenyataan dan
mimpi.
Manusia dan benda, dan perbedaan
antara kenyataan dan mimpi, hanyalah
suatu yang ‘relatif’, gagasan ini
dikemukakan tujuannya adalah untuk mendapatkan “bebas kesana kemari,
ber-senang-senang dan menari-nari”,
pengalaman kupu-kupu ini
merupakan “prasyarat”. Jika kita bisa
dalam keadaan sadar dan nyata bisa
“menjelma”, tidak perduli “menjadi kupu-kupu dalam mimpi” atau
“menjadi manusia dalam mimpi”,
adalah suatu yang tidak penting lagi.
Asalkan bisa menjelma menjadi kupu-
kupu, maka harus dinikmati sebisa-
bisanya kebebasan seperti kupu-kupu yang menari-nari bebas diangkasa.
Hanya manusia sering bersikukuh
untuk membedakan dan menjauhkan
“pengalaman dari kupu-kupu”, inilah
ke-kukuhan manusia dalam
membedakan antara kenyataan dan mimpi. Maka pengalaman kupu-kupu
ini dianggap hanyalah mimpi.
Kebebasan, bersenang-senang, dan
menari-nari seperti yang dilakukan
oleh kupu-kupu, merupakan simbol
dari dambaan ‘Kebebasan manusia”. Dalam konteks ini Zhuangzi coba
mengatakan kepada manusia “
Cobalah tinggalkan pandangan sempit
tentang “perbedaan”, “penjelmaaan”
adalah suatu yang nyata. Maka apa itu
kebebasan yang hakiki akan kembali pada diri kita sendiri, dimana kita akan
menempatkan dirinya ?”
Cerita lain dari Zhuangzi : ( 内篇 大宗师nei
pian – da ong shi ). Ada empat orang
yang bernama Ziji, Ziyi, Zili, dan Zilai,
mereka sedang mengobrol, ada yang berkata : “Siapa yang bisa menjadikan
“nihil” menjadi kepala, dan
“kehidupan” menjadi tulang
punggung, “kematian” menjadi tulang
buntut kita? Siapa yang tahu “ mati,
hidup, tumbuh, tewas” adalah suatu kesatuan ? Jika ada orang yang
demikian dia itu adalah sohib kita .”
Keempat orang ini saling pandang dan
tertawa bahak-bahak, kelihatan
semua sepaham dan sealiran, maka
jadilah mereka kawan baik, dan selalu berkumpul bersama. Tapi tidak lama,
Ziyi sakit, ketika Zili menengok dia,
terlihat dia bersikap santai seperti
biasa sepertinya tidak terjadi apa-apa
dan berkata :”Pencipta mahluk ini
benar-benar luar biasa, dia itu membuat badan ini menjadi meliuk-
liuk, punggung tumbuh bisul, dan ada
lima mata bisul, muka dan perutnya
jadi sejajar, pundaknya mencuat lebih
tinggi dari kepalanya, rambut
dikepalanya berdiri tegak, sehingga “Ying Yang” nya tidak karuan,
ngacau.” Kemudian Ziyi coba beringsut
kepinggir sumur untuk mengaca, dan
berkata :”Waah, kenapa pencipta ini
membuat badan saya begini kacau?”.
Ziji bertanya: “Apakah kamu dalam hati benci terhadap penciptamu?” . Ziyi
menjawab : “ Tidak. Untuk apa saya
harus membenci? Walaupun badan
saya sakit lebih parah, sehingga
pundak kiri menjadi ayam, maka saya
akan suruh dia untuk berkokok pada pagi hari; jika menjadi lebih parah lagi,
pundak kiri menjadi peluru, maka
akan saya gunakan untuk menembak
burung tekukur, kemudian akan saya
panggang. Jika berkembang lebih
parah lagi, tulang buntut saya berubah menjadi kereta, dan jantung saya
berubah menjadi kuda, maka saya
naiki kereta kuda ini, tidak perlu lagi
untuk mencari-cari kereta kuda lagi.
Hidup itu adalah suatu oportuniti/
kesempatan, mati hanya menuruti nasib. Jika bisa mempertahankan
kesempatan dengan damai, pasrah
terhadap nasib, maka perasaan suka
dan duka tidaklah bisa masuk dalam
hati. Inilah yang dikatakan orang dulu
‘terlepas dari segala belenggu’, jika tidak bisa lepas, maka berarti
terbelenggu oleh benda luar. Yang
berarti juga “upaya manusia tidak bisa
terlepas dari nasib” jadi sudah
seharusnya demikian, dan saya
sekarang memang sudah demikian, tidak ada yang harus saya benci.”
Tapi setelah selang beberapa waktu,
Zilai mendadak kena sakit keras dan
menjadi gawat, nafas tersengal-sengal,
sudah sekarat, anak istri
menggelinginya sambil menangis- nangis. Saat itu Zili datang menengok,
dia berkata kepada istri Zilai :”Kalian
menyingkir saja, jangan mengganggu
detik-detik dia akan ber-transformasi.
Daya transformasinya sangat kuat,
tidak tahu dia akan ber-transformasi menjadi apa dan akan dibawa
kemana. Apakah akan menjadi hati
tikus? Atau menjadi kaki depan se-
ekor serangga?” Zilai menghela nafas
panjang dan berkata :”Ibu bapak
terhadap anak, jika mereka memerintahkan anak pergi kemana
saja, baik ke segala penjuru dunia,
sebagai anak harus menurutinya.
Hawa Yin Yang(阴阳气yin yang qi =
nyawa)jika diumpamakan seperti ibu
bapak, maka akan tidak ada perbedaan. Jika hawa Yin Yang
memerintahkan saya untuk mati, dan
saya tidak menurutinya, walaupun
tidak mau menurut, apakah bisa
disalahkan? Memang “alam” supaya
kita bisa hidup, telah memberi kita tubuh, darah dan daging. dan supaya
kita bisa sengsara maka diberi
kehidupan. Selanjutnya supaya kita
bisa bersenang-senang, kita dibuat
bisa menjadi tua. Supaya kita bisa
beristirahat maka kita dibuat bisa mati. Maka jika ingin memastikan bahwa
hidupnya untuk kebaikan, maka
dapat dipastikan bahwa matinya juga
untuk kebaikan. Orang kuno sudah
mengatakan demikian?”
Lebih lanjut dia mengatakan :”Jika sekarang ada seorang ‘pandai besi’,
saat akan memilih bahan besi, lalu ada
besi yang melompat dan berkata
‘buatlah diri saya menjadi pedang
yang baik dan tajam’, maka dengan
pasti si ‘pandai besi’ ini akan mengira bahwa besi ini pasti bukan besi yang
bisa membawa keberuntungan.
Demikian juga orang, saat akan
dijadikan orang, kemudian me-minta-
minta si pencipta orang, ‘jadikanlah
saya menjadi orang, jadikanlah saya jadi orang’, jelas si pencipta akan
memastikan bahwa “dia” ini pasti akan
menjadi orang yang tidak
menguntungkan dan baik. Jika
diumpamakan bahwa alam ini seperti
sebuah tanur, pencipta adalah seorang ‘pandai besi’ yang hebat,
maka setelah saya mati, tidak ada jalan
lain saya pasti akan kesana. Mati akan
seperti sebuah mimpi, saat mati seperti
tertidur dan beristirahat, hidup seperti
baru sadar dari mimpi.” Cerita diatas ini merupakan inti dari
pola pikiran Zhuangzi akan relativitas
terhadap ‘Hidup’ dan ‘Mati’. Cerita ini
diciptakan, untuk menyiratkan arti dan
ciri-ciri khusus yang dalam, dimana dia
telah menerobos pesimistis dari pandangan ‘hidup’ susah. Bahkan
sikap dimana secara proaktif telah
menerima transformasi dari
kesengaraan pisik yang dapat
membawa kesusahan. Ziyi
berkata :”Jika tulang buntut saya berubah menjadi kereta, jantung
menjadi kuda, maka saya akan naiki
kereta kuda ini….” Zilai juga
mengatakan :”Jika pencipta
mengharuskan saya mati, saya juga
akan sangat senang hati menurutinya.” Jika sebaliknya pada
detik itu saya meminta agar diberi
hidup terus, itu adalah permintaan
yang berlebihan. Dari perkataaan Ziyi
dan Zilai diatas, dapat dilihat bahwa
Zhuangzi hidupnya pasrah terhadap nasibnya. Zhuangzi
mengatakan :”Orang hidup memang
tak terduga, dengan dikasih nyawa
maka hiduplah dia, tapi saat harus mati
ya matilah.” Dengan kata lain seorang
hidup didunia adalah suatu kesempatan yang sangat luar biasa,
karena pada saatnya tiba maka
lahirlah dia, tapi pada saat akhirnya
tiba, dia juga akan meninggalkan
dunia ini. Semuanya hanya mengikuti
keharusan yang dinamakan “memang harus mati”, maka tidak ada tempat
kita harus marah, senang, susah, dan
sedih untuk ini.
Pemikiran-pemikiran yang melampaui
jangkauan pemikiran manusia biasa
tentang hukum alam, yang menghendaki agar hukum alam
dipatuhi, merupakan ciri-ciri khas dari
pemikiran Zhuangzi. Tapi
kepatuhannya bukanlah suatu yang
pasif, dari contoh cerita Ziyi dan Zilai
diatas dapat dipahami, kepatuhan mereka terhadap “penciptaan dan
keberuntungan” dan
pembangkangan terhadap
“kesadaran akan hukum alam”
merupakan suatu pilihan proaktif
manusia. Zhuangzi yang telah merasakan
“kesengsaraan”, tapi dia tidak
menghindar dari kesengsaraannya
atau lari dari kenyataan duniawi untuk
mencari kompensasi, melainkan
dengan suatu kesadaran penuh tetap menerimanya. Karena kesengsaraan
atau susah juga salah satu dari wujud
hukum alam, ini merupakan suatu
surmounting/penyelesai yang aktif.
Seperti apa yang dikatakan oleh Ziyi
“Tua sudah ter-blenggu dari hal-hal ekstern” atau “Menjadi tua merupakan
suatu yang sudah tidak dapat
dirubah” kita tidak mungkin terhindar
dari ini. Yang dimaksud dengan hal
ekstern adalah segala suatu apa saja
yang ada didunia, atau dengan kata lain adalah gejala alamiah. Dan segala
eksistensi dari ‘kesengsaraan’
hanyalah salah satu dari segala apa
saja yang ada dialam.
Bahan :
Kutipan dari Naskah Saya “ Zuangzi Kaum Urakan Zaman Kuno”

Posted on Agustus 24, 2012, in Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: