Sejarah Dinasti Cina

Masa dinasti Zhou (1122 – 221 SM)
dikenal sebagai zaman klasik dari
kebudayaan Cina. Dinasti Zhou
menurut sejarah filsafat Cina terbagi
atas dua zaman, yakni western Zhou (西
周) dan eastern Zhou (東周). Dinasti Zhou terpecah belah menjadi banyak
negara feodal yang saling berperang.
Masing-masing berupaya untuk
menjadi yang terkuat sehingga
membuat pemerintah pusat Dinasti
Zhou menjadi lemah. Lahirnya Sekolah Sekolah
Kembali ke masa perang, dinasti Zhou.
Situasi yang tidak stabil tersebut dan
peperangan yang terjadi di mana-
mana telah menyebabkan penderitaan
bagi rakyat jelata. Dari situasi yang demikian ini mendorong munculnya
sekolah-sekolah yang berusaha untuk
mengatasi penderitaan. Semua
sekolah-sekolah (aliran filsafat
Tionghoa) muncul dalam tahap ini dan
memiliki tujuan yang sama, “damai di bumi” PING TIAN XIA (平天下). Sekolah-
sekolah tersebut muncul dengan ciri
ajarannya masing-masing. Dengan
demikian menurut sejarah filsafat Cina,
kita dapat menemukan nama-nama
sekolah macam Sekolah Dao (道家), Sekolah Hukum (法家), Sekolah Nama (名
家), Sekolah Yin Yang (阴阳家), Sekolah Ru
(儒家) dan Sekolah Mo.
Konfusius
Konfusius adalah seorang Ru dan
pendiri sekolah Ru yang di Barat dikenal sebagai sekolah
Confusianisme. Kaum Ru sendiri
adalah orang-orang yang ahli dalam
musik, tata cara, dan upacara-upacara.
Pada masa kejayaan dinasti Zhou
Barat, mereka menjadi orang-orang yang menjalankan upacara/ritual dan
menjaga tradisi. Dalam melakuan
ritual-ritual dan upacara-upacara,
musik menjadi sarana yang sangat
berpengaruh, sehingga mereka
biasanya ahli dalam hal ini juga. Pokok Ajaran Konfusius
Ulasan yang lebih detail tentang
kehidupaan Confusius adalah biografi
yang terangkum dalam bab empat
puluh tujuh Shih Chi atau Historical
Records (sejarah dinasti Cina pertama, lengkap ca. 86 SM). Dari riwayat
hidupnya ini, bisa didiperoleh ide
bahwa ajaran-ajaran Konfusius lahir
atas keprihatinannya akan situasi
sosial dan politik pada saat itu. Bagi
Konfusius kekacauan itu timbul karena Li kehilangan jiwanya. Untuk
menghidupkan kembali Li berarti
menghidupkan kembali ritual dan
musik denngan pendasaran pada Ren.
Seperti kita ketahui, Konfusiuslah yang
mengambil kitab klasik dinasti Zhou keluar dari tempat penyimpanannya
dan membeberkannya di depan
umum. Konfusius pulalah yang
mengubah aneka tata cara dan
upacara serta kebiasaan feudal
menjadi suatu sistem etika. Konfusius berjuang tanpa kenal lelah sepanjang
hidupnya untuk membangun dan
memelihara suatu masyarakat yang
tertib dan teratur dengan terus
menerus menekankan pentingnya
hubungan antara manusia atas dasar doktrin ren.
‘Ren’ (仁), adalah gagasan sentral dari
Konfusianisme yang juga merupakan
kelanjutan yang lebih jernih dari
gagasan yang hidup sebelum jaman
Konfusius. Ren bisa dipahami sebagai: kebaikan hati ataupun kasih antar
manusia. Kebaikan ini adalah hakikat
terdalam manusia yang membuat
unsur lain (dalam hidupnya) menjadi
mungkin. Menurut Konfusius ‘ren’
adalah sesuatu di dalam diri yang membuat seseorang sungguh-
sungguh manusia. Sementara ‘Li’ (禮)
mengandung arti ‘tatacara dan
upacara keagamaan’, tetapi
Konfusianisme memberi arti lebih luas
dari pada sekedar ritus dan ritual, yaitu, segala sesuatu yang terkait pada
tindakan tepat manusia, dan Xiao (孝)
merujuk pada tindakan antar manusia
yang menumbuhkan ‘ren’ yang juga
berarti “hormat bakti yang muda
terhadap yang lebih tua”. Mencius dan Xunzi
Konfusianisme bermula dari ajaran
Konfusius, tetapi kemudian dibangun
dan dikembangkan oleh Mencius dan
Xunzi. Seperti Konfusius, Mencius
mendasarkan ajarannya pada Ren, tapi ia menyatakan bahwa untuk
membina Ren harus dikembangkan yi
atau kebaikan. “Yang disimpan dalam
hati adalah ren, yang dipakai dalam
tindakan adalah yi.” Jadi, ren adalah
prinsip tepat untuk mengawasi gerak internal, sedangkan yi adalah cara
tepat untuk membimbing tindak
eksternal.
Mencius mengritik Mohisme mengenai
tata hubungan relasi. Mo Tzu
mengabaikan hierarki ini dengan menekankan kesamaan kedudukan
dalam relasi. Yang Tzu lebih
menekankan diri sendiri. Ia
menunjukkan bahwa karna tidak
adanya hierarki ini dan menekankan
diri sendiri, Yang Tzu telah menentang rasa kemanusiaan dan keadilan yang
arah nyatanya peduli pada orang lain.
Pada Mo Tzu tidak ada gradasi cinta
(no gradations of greater or lesser
love). Lebih lanjut lagi, Ia menekankan
Sistem Keluarga yang diungkap Confusius; yaitu sistim masyarakat
Tionghoa, ada 5 jenis hubungan yaitu
Raja-Menteri, Ayah-Anak, Suami-Istri,
Kakak-Adik, teman-teman.
Penggalang Konfusianis lainnya
adalah Xunzi. Dia adalah eksponen prinsip prinsip Konfusius, tapi
pengkritik Mencius. Bila Mencius dapat
dikatakan sebagai wakil dari sayap
idealistic, maka Xunzi merupakan
wakil dari sayap realistic, karena ia
menekankan control social dan kodrat manusia itu buruk.
Mohisme
Sekolah Mo berakar dari para
pendekar yang kehilangan posisi/
jabatannya di kerajaan dan kemudian
menjadi pengembara (游侠/ yóuxiá). Adapun perbedaan pendapat anatara
konfusianis dan mohis adalah sebagai
berikut: Para Konfusianis
mementingkan relasi yang tepat (Lǐ/
禮), tanpa memikirkan keberuntungan.
Dari segi moral atau pendirian, para Konfusianis mengutamakan
kebenaran dan kemurnian, tanpa
menghitung keberhasilannya.
Penganut Mo Tzŭ lebih pragmatis.
Mereka mengutamakan secara khusus
keberuntungan (Lì/利) dan pencapaian (Kung/ 功). Dari bab ke-35 Mo Tzŭ
mengatakan:
“penilaian standar harus dilakukan…
Tanpa standar ini, pembedaan antara
betul salah, keberuntungan (li 利) dan
keburukan, tidak bisa dilakukan. Maka setiap penilaian harus diverifikasi…
tentang dasarnya (adakah ia
berdasarkan pola tindakan raja-raja
kuno yang bijaksana), pembuktiannya
(adakah ia terbukti penting lewat
keberuntungan bagi rakyat jelata), dan aplikasinya (apakah memberi
keberuntungan (li 利) pada negara dan
rakyat…”[1]
Dengan demikian, tolok ukur
kebenaran sebuah prinsip menurut Mo
Tzŭ adalah seberapa besar keberuntungan yang diberikan
kepada negara dan rakyat jelata.
Segala sesuatu harus berguna, dan
semua prinsip harus bisa diaplikasikan
supaya menyumbang sesuatu nilai
secara mandiri. Maka sesuatu prinsip yang tidak bisa diejawantahkan
nilainya, ataupun tidak bisa diajarkan
secara efektif kepada manusia lain
untuk mengejawantahkan nilainya,
hanya rasio belaka[2]. Tetapi pendirian
Mo Tzŭ ini bertabrakan dengan idealisme Konfusianis, yang
mengutamakan pembentukan
moralitas yang mendukung tindakan
seseorang, supaya bertindak
mengikut apa yang benar, dan bukan
mengikut apa yang lebih memanfaatkan.[3]
Daoisme
Lao Zi dan pengikutnya menduga
bahwa ada yang salah dalam hakekat
masyarakat dan peradabannya.
Mereka menganjurkan rakyat Cina untuk membuang semua pranata dan
konvensi yang ada. Mereka percaya
bahwa manusia yang dulu mempunyai
suatu sorga kemudian hilang karena
kekeliruannya sendiri, yaitu karna ia
mengembangkan peradaban. Menurut Lao Zi dan pengikut pengikutnya, cara
terbaik untuk hidup adalah menarik
diri dari peradaban dan kembali
kepada alam, dari keadaan beradab
ke keadaan alami. Inilah jalur
pemikiran naturalistic yang dikenal sebagai Daoisme yang menjunjung
tinggi Dao dan alam.
Para penganut Daois memandang
alam sebagai tempat mereka menarik
diri, mencita citakan hidup sederhana,
dengan wu wei sebagai inti ajaran mereka. Tetapi karena diantara
mereka ada perbedaan dalam hal
menafsirkan konsep Dao, muncullah
dua anak aliran. Yang satu dipelopori
oleh Zhuang Zi, yang lainnya
dipelopori oleh Yang Zhu. Sementara itu, Chuang Tzu
memandang Dao sebagai totalitas dari
spontanitas segala sesuatu di alam
semesta ini. Semua hal harus dibiarkan
berkembang sendiri, secara alami dan
spontan, Akan tetapi Yang Tzu berpendapat bahwa Dao adalah suatu
kekuatan fisis yang buta. Dao
menghasilkan dunia tidak atas dasar
perencanaan atau kehendak, tetapi
atas dasar keniscayaan atau
kebetulan. Pendapat ini merupakan pendapat yang mewakili kaum
materialistic Daoisme. Apapun
perbedaannya, ajaran ajaran mereka
menekankan bahwa manusia harus
cocok dan serasi dengan kodratnya
dan puas dengan apa adanya. Han Fei Zi
Dalam Kitab han Fei Zi kita temukan
suatu sintesa bulat dari gagasan kaum
Legalis berasal dari ajaran shi menurut
Shen Dao, ajaran shu menurut Shen
Buhai, dan fa menurut Shang Yang. Han Fei memakai teori Xunzi tentang
kodrat manusia dalam upayanya
mempertahankan bahwa hukum dan
peraturan itu esensial dalam menjaga
tatanan social dan perdamaian .Han Fei
juga memakai doktrin wu wei dari Laozi bagi prinsip politiknya bahwa
roda pemerintahan yang memakai
hukum yang terperinci harus
berfungsi sendiri, tidak perlu ada
campur tangan penguasa. Dengan
demikian menandakan bahwa mereka bertentangan langsung dengan kaum
konfusianis, yang menekankan nilai
nilai etis dan pengaruh manusia.
Neo Konfusianisme
Neo-Konfusianisme adalah bentuk
Konfusianisme yang terutama dikembangkan selama Dinasti Song,
tetapi aliran ini mulai nampak ke
permukaan sudah sejak zaman dinasti
Tang lewat Han Yu dan Li ao. Mereka
membuka cakrawala baru Neo-
Konfusianisme, yaitu dimensi kosmologis dalam refleksi mereka.
Zhou Dunyi merupakan tokoh yang
tak boleh dilupakan. Kosmologi Zhou
Dunyi merupakan pengembangan
butir-butir ajaran Apendiks dari Kitab
Yi Jing dan dia memakai diagram daois untuk ilustrasi dan membentuk ‘Tai Ji
Tu dan Tai JI Shuo-nya. Selain Zhou
Dunyi masih ada Shao Yong
(kosmologis lain yang
mengembangkan ajarannya berdasar
juga Apendiks dari Kitab Yi Jing. Bedanya dengan Zhuo dia memakai
64 hexagram Yi Jing). Sementara
Zhang Zhai (kosmologis lain yang juga
mengembangkan ajarannya berdasar
juga Apendiks dari Kitab Yi Jing.
Namun dia menekankankan dan mengolah lebih jaug gagasan Qi).
Mewarisi ‘ke-satu-an’ dari segala dari
Zhang Cai, itu yang dikembangkan
Cheng Hao menjadi filsafatnya. Ren =
rangkuman dari: Yi, Li, Zhi dan Xin,
pahami itu dan tempa-tumbuhkan dengan ketulusan dan kecermatan,
itulah segalanya. Secara metafisis ada
kesatuan antara semua yang ada.
Gagasan tersebut kemudian
dikembangkan lebih lanjut oleh Lu
Jiuyuan dan Wang Yangming yang pada akhirnya membentuk sekolah Lu
wang.
Penutup
Demikianlah perjalanan sejarah Filsafat
Cina yang coba dirunut oleh penulis.
Penulis menyadari begitu banyak kelemahan serta (mungkin)
kesalahpahaman dalam memahami
sejarah filsafat ini yang memang tidak
mudah apalagi begitu banyak istilah
asing yang digunakan. Namun penulis
mencoba semaksimal mungkin untuk menguraikan dengan baik bagaimana
perjalanan ini mulai dari abstraksi
dinasti Zhou hingga Neo
konfusianisme. Pengaruh ajaran
mereka memainkan peranan penting
sepanjang sejarah Cina bahkan hingga sekarang. Meski terdapat sikap saling
kritik antara filsuf satu dengan lainnya
hal tersebut nyatanya telah
membentuk suatu atmosfer pemikiran
Cina secara keseluruhan.

Posted on Agustus 23, 2012, in Uncategorized and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: