Kajian EPISTIMOLOGI, Definisi, Teori Dan Sejarah

 

EPISTIMOLOGI

EPISTIMOLOGI

Epistimologi adalah pengetahuan yang berusaha menjawab pertanyaan- pertanyaan seperti apakah pengetahuan, cara manusia memperoleh dan menangkap pengetahuan dan jenis-jenis pengetahuan, menurut epistemology, setiap pengetahuan manusia merupakan hasil dari pemeriksaan dan penyelidikan benda hingga ahirnya diketahui manusia, epistemology membahas sumber, proses, syarat, batas pasilitas hakikat pengetahuan yang memberikan kepercayaan dan jamisnan bagi bahwa ia memberikan kebenaran kepada murid- muridnya. Pengertian epistemologi diharapkan memberikan kepastian pemahaman terhadap ubstansinya, sehingga memperlancar pembahasan seluk-beluk yang terkait dengan epistemologi itu.

Ada beberapa pengertian epistemologi yang diungkapkan para ahli yang dapat dijadikan pijakan untuk memahami apa sebenarnya epistemologi itu. Epistemologi juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge). Secara etimologi, istilah epistemologi berasal dan kata Yunani episterne berarti pengetahuan, dan logos berarti teori.

Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber, struktur, metode dan sahnya (validitasnya) pengetahuan. Dalam Epistemologi, pertanyaan pokoknya adalah “apa yang dapat saya ketahui”? Persoalan- persoalan dalam epistemologi adalah:

  1. Bagaimanakah manusia dapat mengetahui sesuatu?
  2. Dari mana pengetahuan itu dapat diperoleh?
  3. Bagaimanakah validitas pengetahuan a priori (pengetahuan pra pengalaman) dengan pengetahuan a posteriori (pengetahuan puma pengalaman)?

Mabel Lewis Sabakian, 1965, dalam Jujun S.Suriasumantri, 2005). Menurut Musa Asy’anie, epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan mengenai hakikat ilmu, dan ilmu sebagai proses adalah usaha yang sistematik dan metodilc untuk menemukan prinsip kebenaran yang terdapat pada suatu obyek kajian ilmu.

Sedangkan, P.Hardono Hadi menyatakan, bahwa epistemologi adalah cabang flisafat yang mempelajani dan mencoba menentukan kodrat dan skope pengetahuan, pengandaian-pengendaian dan dasarnya, serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Sedangkan D.W Hamlyn mendefinisikan epistemologi sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan Iingkup pengetahuan, dasar dan pengendaliannya serta secara umum hal itu dapat diandalkannya sebagai penegasan bahwa orang memiliki pengetahuan. ) Mula-mula manusia percaya bahwa dengan kekuatan pengenalannya ia dapat mencapai realitas sebagaimana adanya.

Para filosof pra Sokrates, yaitu filosof pertama di dalam tradisi Barat, tidak memberikan perhatian pada cabang filsafat mi sebab rnereka memusatkan perhatian, terutama pada alam dan kemungkinan perubahannya, sehingga mereka kerap dijuluki filosof alam. Mereka mengandaikan begitu saja bahwa pengetahuan mengenai kodrat itu mungkin, meskipun beberapa di antara mereka menyarankan bahwa pengetahuan mengenai struktur kenyallian dapat lebib dimunculkan dan sumber- sumber tertentu ketimbang sumber-sumber Iainnya. Herakleitus, rnisalnya, menekankan penggunaan indera, sementara Permanides menekankan penggunaan akal. Meskipun demikian, tak seorang pun di antara mereka yang meragukan kemungkinan adanya pengetahuan mengenai kenyataan (realitas).

Baru pada abad ke-5 SM, muncul keraguan terhadap adanya kemungkinan itu, mereka yang meragukan akan kemampuan manusia mengetahui realitas adalah kaum sophis. Para sophis bertanya, seberapa jauh pengetahuan kita mengenai kodrat benar-benar merupakan kenyataan objektif, seberapa jauh pula merupakan sumbangan subjektif manusia? Apakah kita mempunyai pengetahuan mengenai kodrat sebagaimana adanya? Sikap skeptis inilah yang mengawali munculnya epistemologi.

Filsafat Bacon mempunyai peran penting dalam metode induksi dan sistematisasi prosedur ilmiah menurut Russel, dasar filsafatnya sepenuhnya bersifat praktis, yaitu untuk memberi kekuasaan pada manusia atas alam melalui penyelidikan inilah. Bacon mengritik uilsafat Yunani yang menurutnya Iebih menekankan perenungan dan akibatnya tidak mempunyai praktis bagi kehidupan manusia.

Ia menyatakan, “The great mistake of Greek philosophers was that they spent so much time in theory, so little in observation.” Karetia itu, usaha yang Ia lakukan pertama kali adalah menegaskan tujuan pengetahuan. Menurutnya, pengetahuan tidak akan mengalami perkembangan dan tidak akan bermakna kecuali ia mempunyai kekuatan yang dapat membantu manusia meraih kehidupan yang lebih baik)” Pengetahuan yang diperoleh oleh manusia melalui akal, indera, dan lain-lain mempunyai metode tersedniri dalam teori pengetahuan, diantaranya adalah :

  1. Metode induktif
  2. Metode deduktif
  3. Metode Positivisme
  4. Metode Kontemplatif
  5. Metode dialektis

Dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, tidak jarang pemahaman objek disamakan dengan tujuan, sehingga pengertiannlya menjadi rancu bahkan kabur Jika diamati secara cermat, sebenarnya objek tidak sama dengan tujuan. Objek sama dengan sasaran, sedang tujuan hampir sama dengan harapan.

Meskipun berbeda, tetapi objek dan tujuan memiliki hubungan yang berkesinambuflgin, sebab objekiab yang mengantarkan tercapainya tujuan. Dengan kata lain, tujuan barn dapat diperoleh, jika telah melalui objek lebih dulu. Misalnya, seorang polisi bertujuan membunuh perampok yang melakukan perlawanan, ketika akan ditangkap dengan menambak kepalanya sebagai sasaran. Jadi, tujuannya adalah pembunuhan, sedangkan objeknya adalah kepalanya.

Oleb karena itu, pembunuhan sebagai tujuan polisi barn mungkin tercapai setelah melalui tindakan menembak kepala perampok sebagai sasaran, tetapi terjadinya pembunuhan tidak banya melalui menembak kepala perampok, bisa juga dadanya atau perutnya. Tm berarti dalam satu tujuan bisa dicapai melalui objek yang berbeda-beda atau lebib dari satu. Sebaliknya, mungkinkan suatu kegiatan hanya memiliki objek satutetapi tijuannyabanyak.

Dewasa ini, justru kecenderungan ini mulai memperoleh perhatian yang sangat besar di kalangan para pemikir, perekayasa, dan juga pengusaha. Artinya, ada upaya bagaimana menjadikan bahan yang sama untuk kepentingan yang berbeda-beda. Kecenderungan mi justru memiliki efektifitas dan efisiensi yang tinggi dan bersifat dinamis, mendorong kreativitas seseorang. Aktivits berfikir dalam kecenderungan pertama (satu tujuan dengan objek yang berbeda-beda) lebih mendorong pencarian cara sebanyak- banyaknya, sedang berpikir dalam kecenderungan kedua (satu objek untuk tujuan yang berbeda-beda) lebih mendorong pencarian hasil yang sebanyak- banyaknya.

Hal mi merupakan implikasi dan tekanan masing- masing pola berpikir tersebut. Secara global, baik berpikir dalam kecenderungan pertama maupun kecenderungan kedua, tetap saja membutuhkan banyak cara untuk mewujudkan keinginan peniikirnya.

Dalam filsafat terdapat objek material dan objek formal.

Objek material adalah sarwa- yang-ada, yang secara garis besar meliputi hakikat Tuhan, hakikat alarn dan hakikat manusia. Sedangkan objek formal ialah usaha mencari keterangan secara radikal (sedalam-dalamnya, sampai ke akarnya) tentang objek material filsafat (sarwa-yang-ada). Sebagai sub sistem filsafat, epistemologi atau teori pengetabuan yang pertama kali digagas oleh Plato nii memiliki objek tertentu.

Objek epistemologi mi menurut Jujun S.Suriasumatri berupa “segenap proses yang terlibat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan.” Proses untuk memperoleh pengetahuan inilah yang menjadi sasaran teori pengetahuan dan sekaligus berfungsi mengantarkan tercapainya tujuan, sebab sasaran itu merupakan suatu tahap pengantara yang hams dilalui dalam mewujudkan tujuan.

Tanpa suatu sasaran, mustahil tujuan bisa terealisir, sebaliknya tanpa suatu tujuan, maka sasaran menjadi tidak terarah sama sekali. Selanjutnya, apakah yang menjadi tujuan epistemologi tersebut. Jacques Martain mengatakan: “Tujuan epistemologi bukanlah hal yang utama untuk menjawab pertanyaan, apakah saya dapat tahu, tetapi untuk menemukan syarat-syarat yang memungkinkan saya dapat tahu”.

Hal ini menunjukkan, bahwa epistemologi bukan untuk memperoleh pengetahuan kendatipun keadaan ini tak bisa dihindari, akan tetapi yang menjadi pusat perhatian dan tujuan epistemologi adalah lebih penting dari itu, yalta ingin memiliki notensi untuk memperoleh penetahuan. Objek Pengetahuan Pada dasarnya, setiap ilmu memiliki dua macam objek, yaitu objek material dan objek formal.

Objek material adalah sesuatu yang dijadikan sasaran penyelidikan, seperti tubuh manusia adalah objek material ilmu kedokteran. Adapun objek formalnya adalah metode untuk memahami objek material tersebu, seperti pendekatan induktif dan deduktif. Filsafat sebagai proses berpikir yang sistematis dan radikal juga memiliki objek material dan objek formal.

Objek material filsafat adalah segala yang ada. Segala yang ada mencakup ada yang tampak dan ada yang tidak tampak. Ada yang tampak adalah dunia empiris, sedangkan ada yang tidak tampak adalah alam metafisika.

Sebagian filosof membagi objek material filsafat atas tiga bagian, yaitu

  1. yang ada dalam alam empiris,
  2. yang ada dalam pikiran, dan
  3. yang ada dalam kemungkinan.

Objek formal filsafat adalah sudut pandang yang menyeluruh, radikal, dan rasional tentang segala yang ada. Cakupan objek filsafat lebih luas dibandingkan dengan ilmu karena ilmu hanya terbatas pada persoalan yang empiris saja, sedangkan filsafat mencakup yang empiris dan yang nonempiris. Objek ilrnu terkait dengan filsafat pada objek empiris.

Di samping itu, secara historis ilmu berasal dan kajian filsafat karena awalnya filsafatlah yang melakukan pembahasan tentang segala yang ada ini secara sistematis, rasional, dan logis, termasuk hal yang .empiris. Setelah berjalan beberapa lama kajian yang terkait dengan hal yang empiris semakin bercabang dan berkembang, sehingga menimbulkan spesialisasi dan menampakkan kegunaan yang praktis. Inilah proses terbentuknya ilmu secara berkesinambungan. Ilmu sebagai objek kajian filsafat sepatutnya mengikuti alur filsàfat, yaitu objek material yang didekati lewat pendekatan radikal, menyeluruh, dan rasional.

Begitu jug sifat pendekatan spekulatif dalam filsafat sepatutntya rnerupakan bagian dan ilmu karenanya ilmu dilihat pada posisi yang tidak mutlak, sehingga masih ada ruang untuk bepekuklasi demi pengembangan ilmu itu sendiri. Istilah epistimolgi pertama kali dipakai oleh I.F Farver pada abad ke – 19 di intitud of metaphisks (1854).

Epistemologi didefenisikan sebagai cabang filsfat yang bersangkutan dengan sifat dasar dari ruang lingkup pengetahuan praanggapan dan dasar- dasarnya serta realitas umum dari tuntutan pengetahuan sebenarnya. Epistemology ini adalah nama lain dari logika material atau logika mayor yang membahas dari isi pikiran manusia yakni pengetahuan. Secara umum orang merasa bahwa tujuan pengetahuan adalah untuk mencapai kebenaran, namun masalahnya tidak hanya sampai di situ saja.

Problem kebenaran inilah yang memacu tumbuh dan berkembangnya epistemologi. Telaah epistemologi terhadap “kebenaran” membawa orang kepada sesuatu kesimpulan bahwa perlu dibedakan adanya tiga jenis kebenaran, yaltu kebenaran epistemologis, kebenaran ontologis, dan kebenaran semantis.

Kebenaran epistemologis adalah kebenaran yang berhubungan dengan pengetahuan manusia. Kebenaran dalam arti ontologis adalah kebenaran sebagai sifat dasar yang melekat pada hakikat segala sesuatu yang ada atau diadakan. Kebenaran dalam arti semantis adalah kebenaran yang terdapat serta melekat dalam tutur kata dan bahasa. Namun, dalam pembahasan ini dibahas kebenaran epistemologis karena kebenaran yang lainnya secana inheren akan masuk dalam kategori kebenaran epistemologis.

Teori yang menjelaskan kebenaran epistemologis adalah sebagai berikut:

  1. Teori Korespondensi Teori pertama adalah teori korespondensi, the correspondence theory of truth yang kadang disebut the accordance theory of truth. Menurut teori mi, kebenaran atau keadaan benar itu apabila ada kesesuaian (correspondence) antara arti yang dimaksud oleh suatu pernyataan atau pendapat dengan objek yang dituju oleh pernyataan atau pendapat tersebut.52 Dengan demikian, kebenaran epistemologis adalah kemanunggalan antara subjek dan objek. Pengetahuan itu dikatakan benar apabila di dalam kemanunggalan yang sifatnya intrinsik, intensional, dan pasif-aktif terdapat kesesuaian antara apa yang ada di dalam pengetahuan subjek dengan apa yang ada di dalam objek.
    .
    Hal itu karena puncak dan proses kognitif manusia terdapat di dalam budi atau pikiran manusia (intelectus), maka pengetahuan adalah benar bila apa yang terdapat di dalam budi pikiran subjek itu benar sesuai dengan apa yang ada di dalam objek. Teori korespondensi mi pada umumnya dianut oleh para pengikut realisme. Di antara pelopor teori korespondensi mi adalah Plato, Aristoteles, Moore, Russel, Ramsey, dan Tarski.54 Teori mi dikembangkan oleh Bertrand Russell (1872-197O).
    .
    Seseorang yang bernama K. Roders, seorang penganut realisme kritis Amerika, berpendapat, bahwa: keadaan benar mi terletak dalam kesesuaian antara “esensi atau arti yang kita berikan” dengan “esensi yang terdapat di dalam objeknya” Namun yang menjadi permasalahan sekarang adalah apakah realitas itu objektif atau subjektif? Dalam hal ini ada dua pandangan realisme epistemologis dan idealisme epistemologis. Realisme epistemologis berpandangan, bahwa terdapat realitas yang independen (tidak tergantung), yang terlepas dan pemikiran; dan kita tidak dapat mengubahnya bila kita mengalaminya atau memahaminya.
    .
    Itulah sebabnya realisme epistemologis kadangkala disebut objektivisme. Dengan perkataan lain: realisme epistemologis atau objektivitisme berpegang kepada kemandirian kenyataan, tidak tergantung pada yang di luarnya. Sedangkan idealisme epistemologis berpandangan bahwa setiap tindakan mengetahui berakhir di dalam suatu ide, yang merupakan suatu peristiwa subjektif
    .
  2. Teori Koherensi Tentang Kebenaran Teori yang kedua adalah teori koherensi atau konsistensi, the consistence theory of truth, yang sering pula dinamakan the coherence theory of truth. Menurut teori mi kebenaran tidak dibentuk atas hubungan antara putusan (judgement) dengan sesuatu yang lain, yaltu fakta atau realitas, tetapi atas hubungan antara putusan-putusan itu sendiri. Dengan perkataan lain, kebenaran ditegakkan atas hubungan antara puiusan yang baru itu dengai putusán-putusan lainnya yang telah kita ketahui dan akui kebenarannya terlebih dahulu.
    .
    Jadi menurut teori mi, putusan yang satu dengan yang Iainnya saling berhubungan dan saling menerangkan satu sama lain.Karenanya lahirlah rumusan: Truth is a systematic coherence kebenaran adalah saling hubungan yang sistematis; Truth is consistency kebenaran adalah konsistensi dan kecocokan. Apabila teori korespondensi dianut oleh penganut realisme dan materialisme, teori konsistensi atau koherensi mi berkembang pada abad ke-19 dibawah pengaruh Hegel dan diikuti oleh pengikut mazhab idealisme.
    .
    Seperti filsuf Britania F. M Bradley (18641924).61) Idealisme epistemologi berpandangan bahwa objek pengetahuan, atau kualitas yang kita serap dengan indera kita itu tidaklah berwujud terlepas dan kesadaran tentang objek tersebut. Itulah sebabnya teori ini sering disebut subjektivisme.
    .
    Kedua, teori ini agaknya dapat dinamakan teori penyaksian (justifikasi) tentang kebenaran, karena menurut teori ini satu putusan dianggap benar apabila mendapat penyaksianpenyaksian (justifikasi, pembenaran) oleh putusan-putusan Iainnya yang terdahulu yang sudah diketahui, diterima, dan diakui benarnya.
    .
  3. Teori Pragmatisme Tentang Kebenaran Teori ketiga adalah teori pragmatisme tentang kebenaran, the pramagtic (pramagtist) theory of truth. Pramagtisme berasal dan bahasa Yunani pragma, artinya yang dikerjakan, yang dilakukan, perbuatan, tindakan, sebutan bagi filsafat yang dikembangkan oleh William James di Amerika Serikat. Menurut filsafat ml benar tidaknya suatu ucapan, dali!, atau teori semata mata bergantung kepada asas manfaat. Sesuatu dianggap benar jika mendatangkan manfaat dan akan dikatakan salah jika tidak mendatangkan manfaat.
    .
    Menurut teori pragmatisme, suatu kebenaran dan suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan manusia. Teori, hipotesa atau ide adalah benar apabila ia membawa kepada akibat yang memuaskan, apabila ia berlaku dalam praktik, apabila Ia mempunyat nilai praktis. Kebenaran terbukti oleh kegunaannya, oleh hasilnya, dan oleh akibat- akibat praktisnya. Jadi kebenaran ialah apa saja yang berlaku.
    .
  4. Agama Sebagai Teori Kebenaran Manusia ada!ah makhluk pencari kebenaran. Salah satu cara untuk menemukan suatu kebenaran adalah melalui agama. Agama dengan karakteristiknya sendiri memberikan jawaban atas segala persoalan asasi yang dipertanyakan manusia; baik tentang alam, manusia, maupun tentang Tuhan. Kalau ketiga teori kebenaran sebelumnya lebih mengedepankan akal, budi, rasio, dan reason manusia, dalam agama yang dikedepankan adalah wahyu yang bersumber dan Tuhan.
    .
    Dengan demikian, suatu hal itu dianggap benar apabila sesuai dengan ajaran agama atau wahyu sebagai penentu kebenaran mutlak. OIeh karena itu, sangat wajar ketika Imam A1-Ghazali merasa tidak puas dengan penemuan-penemuan akalnya dalam mencari suatu kebenaran. Akhirnya Al- Ghazali sampai pada kebenaran yang kemudian dalam tasawuf setelah dia mengalami proses yang amat panjang dan berbelit-belit.
    .
    Tasawuflah yang menghilangkan keragu- raguan tentang segala sesuatu. Kebenaran menurut agama inilah yang dianggap oleh kaum sufi sebagai kebenaran mutlak; yaitu kebenaran yang sudah tidak dapat diganggu gugat lagi. Namun Al-Ghazali tetap merasa kesulitan menentukan kriteria kebenaran. Akhirnya kebeparan yang di dapatnya adalah kebenaran subjektif atau inter-sujektif.

Posted on Agustus 21, 2012, in IDEOLOGI and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. Makasih…tulisan ini sdh membantu saya dlm tugas yg harus sy selesaikan

  2. Sama2 Sobat…🙂
    .
    Kalau Mau cari tugas Lengkap, ada baiknya agan kunjungi Web/Blog ini : http://tenagasosial.blogspot.com
    .
    Makasi…
    #Admin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: