AKSIOLOGI Filsafat Nilai

Aksiologi (Filsafat Ilmu)

Aksiologi Filsafat Nilai

Aksiologi berasal dari bahasa Yunani yaitu axios. Dari kata axios ini lahir istilah aksiologi yang dipakai untuk menyebut istilah filsafat nilai. Jadi aksiologi dimaksudkan sebagai ilmu yan menyelidiki tentang hakikat nilai (kattsoff L.O.,1986). Manusia tidak akan lepas dari nilai. Nilai selalu mengilhami, mendorong keinginan untuk dikonkritkan dalam tingkah perbuatan.

Hal ini dikatakan Sidi Gazalba: ” Manusia bertindak, berlaku dan berbuat. Dibelakang tiap tindakan laku perbuatanya selalu ada motif, manusia berbuat karena ada sesuatu yang ingin dicapainya. Kalau yang dituju tercapai puaslah dia. Kepuasan terjadi kalau sesuatu yang di pandang berharga tercapai.

Tiap yang berharga di pandang berharga mengandung nilai”(Sidi Gazalba, 1978;468-469) Di dalam nilai terkandung harapan atau sesuatu yang diinginkan oleh manusia. Ini berarti bahwa nilai bersifat normatif, mengandung keharusan ( das sollen ) untuk di ejawantahkan dalam kehidupan manusia sehingga nilai berfungsi sebagai penggerak manusia dalam bertindak seperti kata Gazalba pulas: ”Tiap yang dipandang berharga itu menggandung nilai, maka manusia dalam tindakan dan laku pernuatan digerakkan oleh nilai-nilai” (Sidi Gazalba, 1978;469) Kattsoff menjelaskan pengertian nilai melalui term-term yang berkenaan dengan persoalan nilai.

Kattsoff memberikan empat macam arti nilai: • Mengandung nilai artinya berguna • Merupakan nilai, artinya merupakan obyek keinginan, mempunyai kualitas yang dapat menyebabkan orang mengambil sikap menyetujui atau mempunyai sifat nilai tertentu. • Memberi nilai, artinya memutuskan bahwa sesuatu hal itu diinginkan atau mewujudkan suatu nilai (Kattsoff, L.O., 1986; 332) Diantara term-term yang dikemukakan terlihat adanya pernyataan yang bersifat obyektf bahwa nilai adalah suatu ”sifat” yang dikandung oleh suatu obyek yang dapat menimbulkan sifat setuju.

Apabila istilah ”bernilai” diartikan ” berguna” maka hal ini mengandung pengertian subyektif, dan kegunaan sesuatu hal sudah tentu karena didukung oleh ”sifat” yang dikandungnya. yaitu nilai intrinsik dan nilai instrumental. Macam-macam nilai timbul karena nilai itu dapat mempunyai arti yang berbeda-beda, serta digunakan untuk bentuk yang berbeda-bedapula. Dalam hal ini Kattsoff menyebutkan dua macam nilai, yaitu nilai intrinsik dan nilai instrumental. (Kattsoff, L.O., 1986; 328-329) Nilai intrinsik adalah suatu sifat baik atau bernilai di dalam dirinya sendiri dari benda yang bersangkutan.

Nilai intrinsik ini masing-masing disamakan dengan nilai yang melekat dalam dirinya terlepas dari penilaian orang. Nilai instrumental disebut juga sebagai nilai ekstrinsik, yaitu suatu sifat baik atau bernilai dari suatu benda sebagai suatu alat atau sarana untuk sesuatu hal y6ang lain atau nilai yang baru diketahui setelah barang tersebut digunakan. Nilai instrumental ini sering disamakan dengan nilai kegunaan. Cara menentukan berniali tidaknya dalam nilai instrumental ini adalah dengan mengetahui seberapa jauh fungsinya sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu. Penilaian seseorang pada sesuatu hal sering diwarnai oleh kepentingan- kepentingan, semakin besar kepentinganitu, semakin besar penilaian terhadap sesuatu.

Dalam penerapan kedua nilai ini , baik nilai intrinsik maupun nilai instrumental tidak harus dipisahkan, sesuatu benda atau obyek dapa dinilai memiliki segi intrinsik atau mampu secara ekstrensik. Nilai religius sebagai salah satu jenis nilai manusiawi dalam kehidupan manusia sebagai:

  • Pemujaan (worship), yaitu kebahagiaan dalam tindakan manusia yang memiliki kepercayaan menyembah Tuhan atau Dewa.
  • Pengukuhan (affirmation), yaitu perasaan diri bahwa telah disahkan dalam tujuan-tujuan yang lebih tinggi karena secara resmi telah masuk dalam suatu masyarakat religius.
  • Persaudaraan (fellowship) yaitu perasaan yang diperoleh dari pergaulan dalam suatu kelompok keagamaan.
  • Kepastian (assurance), yaitu keyakinan bahwa di balik dunia fenomenal ini ada tuhan Yang Maha Pengasih.
  • Harapan (hope), yaitu perasaan optimis bahwa kebaikan akan mengalahkan kejahatan atau tentang dunia-akhirat yang kekal dan bahagia.

Posted on Agustus 21, 2012, in FILSAFAT and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: