Sejarah dan Tokoh FiLsafat Barat

I. Sejarah Filsafat Barat 1. Permulaan: Filsafat Pra-Sokrates di Yunani
Sejarah filsafat Barat dimulai dari sebuah kota bernama Milete (Miletos), di Asia kecil, sekitar tahun 600 S.M. Pada waktu itu Milete merupakan kota yang penting, dimana banyak jalur perdagangan bertemu di Mesir, Yunani, Itali dan Asia. Juga banyak ide serta pemikiran bertemu disini, sehingga Milete juga menjadi suatu pusat intelektual. Pemikir-pemikir besar di Milete menyibukkan diri dengan filsafat alam. Mereka mencari suatu unsur induk (“archi”) yg dapat dianggap sebagai asal segala sesuatu. Menurut Thales ( 600 S.M) air-lah yg merupakan unsur induk ini. Menurut Anaximander (610-540 S.M) segala sesuatu berasal dari”yg tak terbatas” dan menurut Anaximenes (585-525 S.M) udaralah yg merupakan unsur induk segala sesuatu. Thales juga berpendapat bahwa bumi terletak diatas air. Tentang bumi, Anaximandros mengatakan bahwa bumi persis berada di pusat jagad raya dg jarak yg sama terhadap semua badan yg lain. Sedangkan mengenai kehidupan bahwa semua makhluk hidup berasal dari air dan bentuk hidup yg pertama adalah ikan dan manusia pertama tumbuh dalam perut ikan. Sementara Anaximenes dapat dikatakan sebagai pemikir pertama yg mengemukakan persamaan antara tubuh manusia dan jagad raya. Udara dialam semesta ibarat jiwa yg dipupuk dg pernafasan didalam tubuh manusia. Filosof berikutnya
yg perlu diperkenalkan pada masa ini yaitu Pythagoras (500 S.M) yg mengajar di Itali Selatan, adalah orang pertama yg menamai diri “fisuf”. Ia memimpin suatu sekolah filsafat yg keliatannya sebagai suatu biara dibawah perlindungan dari dewa Apollo. Sekolah Pythagoras sangat penting untuk perkembangan matematika. Ajaran falsafinya mengatakan antara lain pertama dikatakan bahwa jiwa tidak dapat mati. Sesudah kematian manusia, jiwa pindah kedalam hewan dan setelah hewan itu mati jiwa itu pindah lagi dan seterusnya. Tetapi dengan mensucikan dirinya, jiwa dapat selamat dari reinkarnasi tersebut. Ajaran kedua dari penemuannya terhadap interval- interval utama dari tangga nada yg diekspresikan dg perbandingan terhadap bilangan-bilangan, Pythagoras menyatakan bahwa suatu gejala fisis dikuasai oleh hukum matematis bahkan bahwa segala -galanya terdiri dari”bilangan-
bilangan” :struktur dasar kenyataan itu”ritme”. Ajaran Pythagoras yg ketiga yaitu mengenai kosmos, Pythagoras menyatakan untuk pertama kalinya, bahwa jagad raya bukanlah bumi melainkan Hestia (api) sebagaimana perapian erupakan pusat dari sebuah rumah. Dua nama lain yg penting dari periode ini adalah Herakleitos (500 S.M) dan Parmenides (515-440 S.M). Herakleitos mengajarkan bahwa api adalah dasar segala sesuatu, api adalah lambang perubahan, karena api menyebabkan kayu atau bahan apa saja beubah menjadi abu sementara apinya sendiri tetap menjadi api. Herakleitos juga berpandangan bahwa didalam dunia
alamiah tidak ada satupun yg tetap, segala sesuatu yg ada adalah sedang
menjadi. Pernyataannya yg paling populer adalah segala sesuatu ‘mengalir” (“panta rhei kai udan menei”) : segala sesuatu berubah terus-menerus seperti air dalam sungai tak ada yg tinggal tetap. Sementara Parmenides, filosof pertama yg disebut sebagai peletak dasar metafisika berpendapat bahwa
yg ada adalah ada dan yg tidak ada adalah tidak ada. Konsekwensi dari pernyataan ini adalah yg ada 1) satu dan tak terbagi 2) kekal, tidak mungkin ada perubahan 3) sempurna, tidak bisa ditambah atau diambil darinya, 4) mengisi segala tempat, akibatnya tidak mungkin ada gerak sebagaimana klaim Herakleitos. Para filsus diatas pada masanya dikenal sebagai filsuf monisme yaitu pendirian bahwa realitas seluruhnya bersifat satu karena terdiri dari satu unsur saja.
Selanjutnya para filsuf yg dikenal sebagai filsuf pluralis pada masa ini, dikarenakan pandangan- pandangannya yg menyatakan bahwa realitas terdiri dari banyak unsur. Filsuf pluralis diantaranya yaitu Empedokles menyatakan bahwa realitas terdiri dari empat rizomata (akar) yaitu : api, udara, tanah dan air. perubahan- perubahan yang terjadi dialam dikendalikan oleh dua prinsip yaitu Cinta (Philotes) dan Benci (Neikos). Empedokles juga menerangkan bahwa pengenalan (manusia) berdasarkan prinsip yg sama mengenal yg sama. Pluralis berikutnya adalah Anaxagoras, yg mengatakan bahwa realitas adalah terdiri dari sejumlah tak terhingga spermata (benih). Berbeda dari Empedokles yg mengatakan bahwa setiap unsur hanya memiliki kualitasnya sendiri seperti api adalah panas dan air adalah basah, Anaxagoras mengatakan bahwa segalanya terdapat dalam segalanya. Karena itu rambut dan kuku bisa tumbuh dari daging. Perubahan yg membuat benih-benih menjadi kosmos hanya berupa satu prinsip yaitu Nus yg berarti roh atau rasio. Nus tidak tercampur dalam benih- benih dan Nus mengenal serta menguasai segala sesuatu. Karena itu, Anaxagoras dikatakan sebagai filsuf pertama yg membedakan antara”yg ruhani” dan “yg jasmani”. Pluralis Leukippos dan Demokritos juga disebut sebagai filsuf atomis. Atomisme mengatakan bahwa realitas terdiri dari banyak unsur yg tak dapat dibagi-bagi lagi, karenanya unsur-unsur terakhir ini disebut atomos. Lebih lanjut lagi dikatakan bahwa atom-atom dibedakan melalui tiga cara: (seperti A dan N), urutannya (seperti AN dan NA) dan posisinya (seperti N dan Z). Jumlah atom tidak berhingga dan tidak mempunyai kualitas, sebagaimana pandangan Parmenides atom-atom tidak dijadikan dan tidak kekal. Tetapi Leukippos dan Demokritos menerima ruang kosong sehingga memungkinkan adanya gerak. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa realitas seluruhnya terdiri dari
dua hal: yang penuh yaitu atom- atom dan yg kosong. Menurut Demokritos jiwa juga terdiri dari atom-atom. Menurutnya proses pengenalan manusia tidak lain sebagai interaksi antar atom. Setiap benda mengeluarkan eidola (gambaran-gambaran kecil yg terdiri dari atom-atom dan berbentuk sama seperti benda itu). Eidola ini masuk kedalam panca indra dan disalurkan kedalam jiwa yg juga terdiri dari atom-atom eidola. Kualitas-kualitas yg manis, panas, dingin dan sebagainya semua hanya hanya berkuantitatif belaka. Atom jiwa bersentuhan dengan atom licin menyebabkan rasa manis, persentuhan dengan atom kesat menimbulkan rasa pahit sedangkan sentuhan dengan atom berkecepatan tinggi menyebabkan rasa panas dan seterusnya. 2. Puncak jaman Klasik: Socrates, Plato, Aristoteles
Puncak filsafat Yunani dicapai pada Socrates, Plato dan Aristoteles. Filsafat dalam periode ini ditandai oleh ajarannya yg “membumi” dibandingkan ajaran-ajaran filsuf sebelumnya. Seperti dikatakan Cicero
(sastrawan Roma) bahwa Socrates telah memindahkan filsafat dari langit keatas bumi. Maksudnya, filsuf pra-Socrates mengkonsentrasikan diri pada persoalan alam semesta sedangkan Socrates mengarahkan obyek penelitiannya pada manusia diatas bumi. Hal ini juga diikuti oleh para sofis. Seperti telah disebutkan didepan, sofis (sophistes) mengalami kemerosotan makna. Shopistes digunakan untuk menyebut guru- guru yg berkeliling dari kota ke kota dan memainkan peran penting dalam masyarakat. Dalam dialog Protagoras, Plato mengatakan bahwa para sofis merupakan pemilik warung yg menjual barang ruhani. Socrates (470-400 S.M) guru Plato, mengajar bahwa akal budi harus menjadi norma terpenting untuk tindakan kita. Sokrates sendiri tidak menulis apa-apa. Pikiran-pikirannya hanya dapat diketahui secara tidak langsung melalui tulisan-tulisan dari cukup banyak pemikir Yunani lain, terutama melalui karya plato. Sebagaimana para sofis, Socrates memulai filsafatnya dg bertitik tolak dari pengalaman keseharian dan kehidupan kongkret. Perbedaannya terletak pada penolakan Socrates terhadap relatifisme (pandangan yg berpendapat bahwa kebenaran tergantung pada manusia) yg pada umumnya dianut para sofis. Menurut Socrates tidak benar bahwa yg baik itu baik bagi warga Athena dan lain bagi warga negara Sparta. Yang baik mempunyai nilai yg sama bagi semua
manusia dan harus dijunjung tinggi oleh semua orang. Pendirinya yg terkenal adalah pandangannya yg menyatakan bahwa keutamaan (arete) adlaah pengetahuan, pandangan ini kadang-kadang disebut intelektualisme etis. Dengan demikian Socrates menciptakan suatu etika yg berlaku bagi semua manusia. Sedangkan ilmu pengetahuan Socrates menemukan metode induksi dan memperkenalkan definisi-definisi umum. Plato (428-348 S.M), hampir semua karya Plato ditulis dalam bentuk dialog dan Socrates diberi peran yg dominan dalam dialog tersebut. Sekurang-kurangnya ada dua alasan
mengapa Plato memilih yg begitu. Pertama, sifat karyanya Socratic (Socrates berperan sentral) dan diketahui bahwa Socrates tidak mengajar tetapi mengadakan tanya jawab dg teman-temannya di Athena. Dengan demikian, karya Plato dapat dipandang sebagai monumen bagi sang guru yg dikaguminya. Kedua, berkaitan dengan anggapan Plato mengenai filsafat. Menurutnya, filsafat pada intinya tidak lain daripada dialog dan filsafat seolah-olah drama hidup yg tidak pernah selesai tetapi harus dimulai kembali. Ada tiga ajaran pokok dari Plato yaitu tentang idea, jiwa dan proses mengenal. Menurut Plato realitas terbagi menjadi dua yaitu inderawi yg selalu berubah dan dunia idea yg tidak pernah berubah. Idea merupakan sesuatu yg obyektif, tidak diciptakan oleh pikiran dan justru sebaliknya pikiran tergantung pada idea-idea tersebut. Idea-idea berhubungan dengan dunia melalui tiga cara; Idea hadir didalam benda, idea-idea berpartisipasi dalam konkret dan idea merupakan model atau contoh (paradigma) bagi benda konkret. Pembagian dunia ini pada gilirannya juga memberikan dua pengenalan. pertama pengenalan tentang idea; inilah pengenalan yg sebenarnya. Pengenalan yg dapat dicapai oleh rasio ini disebut episteme (pengetahuan) dan bersifat teguh, jelas, dan tidak berubah. Dengan demikian Plato menolak relatifisme kaum sofis. Kedua, pengenalan tentang benda-benda disebut doxa (pendapat) dan bersifat tidak tetap dan tidak pasti; pengenalan ini dapat dicapai dg panca indera. Dengan dua dunianya ini juga Plato bisa mendamaikan persoalan besar filsafat pra-socratic yaitu pandangan panta rhei-nya Herakleitos dan pandangan yg ada-ada-nya Parmenides. Keduanya benar, dunia inderawi memang selalu berubah sedangkan dunia idea tidak pernah berubah dan abadi. Memang jiwa Plato berpendapat bahwa jiwa itu baka, lantaran terdapat kesamaan antara jiwa dan idea. Lebih lanjut dikatakan bahwa jiwa sudah ada sebelum hidup di bumi. Sebelum bersatu dg badan, jiwa suda mengalami pra-eksistensi dimana ia memandang idea-idea. Berdasarkan pandangannya ini, Plato lebih lanjut berteori bahwa pengenalan pada dasarnya tidak lain adalah pengingatan (anamnenis) terhadap idea-idea yg telah dilihat pada waktu pra-eksistansi. Ajaran Plato tentang jiwa manusia ini bisa disebut penjara. Plato juga mengatakan, sebagaimana manusia, jagad raya juga memiliki jiwa dan jiwa dunia diciptakan sebelum jiwa-jiwa manusia. Plato juga membuat uraian tentang negara. Tetapi jasanya terbesar adalah usahanya membuka sekolah yg bertujuan ilmiah. Sekolahnya diberi nama”Akademia”yg paling didedikasikan kepada pahlawan yg bernama Akademos. Mata pelajaran yg paling diperhatikan adalah ilmu pasti. Menurut cerita tradisi, di pintu masuk akademia terdapat tulisan:”yg
belum mempelajari matematika janganlah masuk disini”. Aristoteles ((384-322 S.M), pendidik Iskandar Agung yg juga adalah murid Plato. tetapi dalam banyak hal ia tidak setuju dengan Plato. Ide-ide menurut Aristoteles tidak terletak dalam suatu “surga” diatas dunia ini, melainkan didalam benda-benda sendiri. Setiap benda terdiri dari dua unsur yang tak terpisahkan, yaitu materi(“hyle”) dan bentuk(“morfe”). Bentuk-bentuk dapat dibandingkan dengan ide-ide dari Plato. Tetapi pada Aristoteles ide-ide ini tidak dapat dipikirkan lagi lepas dari materi. Materi tanpa bentuk tidak ada. bentuk- bentuk”bertindak”didalam materi. bentuk-bentuk memberi kenyataan kepada materi dan sekaligus merupakan tujuan dari materi. Filsafat Aristoteles sangat sistematis. Sumbangannya kepada perkembangan ilmu pengetahuan besa sekali. Tulisan-tulisan Aristoteles meliputi bidang logika, etika, politik, metafisika, psikologi dan ilmu alam. Pokok-pokok pikirannya antara lain bahwa ia berpendapat seseorang tidak dapat mengetahui suatu obyek jika ia tidak dapat mengatakan pengetahuan itu pada orang lain. Spektrum pengetahuan yg diminati oleh Aristoteles luas sekali, barangkali seluas lapangan pengetahuan itu sendiri. Menurutnya pengetahuan manusia dapat disistematiskan sebagai berikut; Pengetahuan ——————————————– ——————— Teoritis Praktis Produktif ——————————————– ——————— teologi/metafisik Matematika Fisika Etika Politik Seni ——————————————–
———————-
Ilmu Hitung Ilmu ukur Retorika
Aristoteles berpendapat bahwa logika tidak termasuk ilmu pengetahuan tersendiri, tetapi mendahului ilmu pengetahuan sebagai persiapan berfikir secara ilmiah. untuk pertama kalinya dalam sejarah, logika diuraikan secara sistematis. Tidak dapat dibantah bahwa logika Aristoteles memainkan peranan penting dalam sejarah intelektual manusia; tidaklah berlebihan bila Immanuel Kant mengatakan bahwa sejak Aristoteles logika tidak maju selangkahpun. Mengenai pengetahuan, Aristoteles mengatakan bahwa pengetahuan dapat dihasilkan melalui jalan induksi dan jalan deduksi, induksi mengandalkan panca indera yg “lemah”, sedangkan deduksi lepas dari pengetahuan inderawi. Karena itu dalam logikanya Aristoteles sangat banyak memberi tempat pada
deduksi yg dipandangnya sebagai jalan sempurna menuju pengetahuan baru. Salah satu cara Aristoteles mempraktekkan deduksi adalah Syllogismos (silogisme). 3. Jaman Modern
Pada masa ini terbagi atas 4 jaman yaitu;
a. Jaman Renaissance
Jembatan antara Abad pertengahan dan Jaman Modern, periode antara sekitar 1400 dan 1600, disebut quot;renaissance (jaman”kelahiran kembali”). Dalam jaman renaissance, kebudayaan klasik dihidupkan kembali. kesusasteraan, seni dan filsafat mencapai inspirasi mereka dalam warisan Yunani-Romawi. Filsuf-filsuf terpenting dari renaissance adalah Nicollo Macchiavelli (1469-1527), Thomas Hobbes (1588-1679), Thomas More (1478-1535) dan Francis bacon (1561-1626). Pembaharuan terpenting ada jaman ini terlihat dalam antroposentrisnya. Pusat perjatian pemikiran itu tidak lagi kosmos, seperti dalam jaman kuno atau Tuhan seperti pada jaman Abad Pertengahan, melainkan manusia. Mulai sekarang manusia-lah yg dianggap sebagai titik fokus dari kenyataan.
b. Jaman Barok
Filsuf-filsuf dari Jaman Barok; Rene Descartes (1588-1650), Barukh de Spinoza (1632-1677) dan Gottfried Leibniz (1646-1710). Mereka menekankan kemungkinan- kemungkinan akal budi”ratio” manusia. Mereka semua juga ahli matematika dan mereka semua menyusun suatu sistem filsafat dengan menggunakan metode matematika.
c. Jaman Fajar Budi
Abad kedelapanbelas memperlihatkan perkembangan baru lagi. Setelah reformasi, setelah renaissance dan setelah resionalisme dari Jaman Barok, manusia sekarang dianggap dewasa. Periode ini dalam sejarah filsafat barat disebut Jaman pencerahan atau”Fajar Budi” (dalam bahasa Inggris “Enlightenment” dalam bahasa Jerman “Aufklarung”). Filsuf-filsuf besar dari jaman ini di Inggris yaitu Jhon Locke (1632-1704), George Berkeley (1684-1753) dan david Hume (1711-1776). Di Prancis jean Jacque Rousseau (1712-1778) dan di jerman Immanuel Kant (1724-1804), filsuf yg menciptakan suatu sintesis dari rasionalisme dan empirisme dan yg dianggap sebagai filsuf terpenting
dari jaman modern.
d. Jaman Romantik
Filsuf-filsuf besar dari jaman ini lebih- lebih berasal dari jerman yaitu; J.Fichte (1762-1814), F. Schelling (1775-1854) dan G.W.F. Hegel (1770-1831). Aliran yg diwakili oleh ketiga filsuf ini disebut”idealisme” yg dimaksut disini dengan idealisme adalah bahwa mereka memprioritaskan ide-ide, berlawanan dengan “materialisme” yg memprioritaskan dunia material. Yang terpenting dari para idealis harud dianggap sebagai lanjutan dari filsafat Hegel atau justru sebagai reaksi terhadap filsafat Hegel.

Posted on Agustus 18, 2012, in Uncategorized and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: