Filsafat Timur Menuai Kritik

Keberatan-Keberatan Banyak ahli tidak melihat pemikiran
Timur sebagai filsafat melainkan
sebagai agama, karena dianggap
tidak rasional, tidak sistematis dan tidak kritis.[2] Kriteria radikal (berpikir secara mendalam),
sistematis, dan kritis berasal dari filsafat Barat.[2] Selain itu, pemikiran Timur seringkali diterima begitu saja
oleh para penganutnya tanpa suatu
kajian kritis; mereka hanya
menafsirkan, berupaya memahami, dan kemudian mengamalkannya.[2] Akan tetapi, sebenarnya hal itu tidak
bisa menjadi kriteria untuk
menentukan pemikiran Timur
digolongkan sebagai filsafat atau
tidak, sebab seringkali kategorisasi
‘filsafat’ dan bukan ‘filsafat’ ditentukan oleh ‘Barat’ yang
memaksakan kriteria-kriterianya terhadap ‘Timur’.[2] Pemikiran- pemikiran Timur banyak yang
memiliki kedalaman, bersifat analitis,
dan kritis, bahkan melebihi
pemikiran Barat, misalnya seperti Konfusius, Lao Tzu, dan Siddharta Gautama.[2] Pemikiran Timur memenuhi
Definisi Filsafat Definisi menurut asal kata filsafat adalah cinta kepada kebenaran.[2] Dilihat dari definisi filsafat,
sebenarnya pemikiran Timur dapat
dikategorikan sebagai filsafat,
sejauh filsafat Timur merupakan
usaha manusia untuk memperoleh
kebenaran, yang didasarkan pada rasa cinta akan kebenaran itu sendiri.[2] Pengetahuan akan kebenaran selalu berkaitan dengan
kebijaksanaan dan mengandung
dua unsur, yakni pengetahuan akan
kebaikan tertinggu dan tindakan
untuk mencapai kebaikan tertinggi. [2] Pengetahuan dan tindakan haruslah hadir di dalam diri seorang yang bijaksana.[2] Kedua hal ini ada di dalam pemikiran sejumlah
pemikir Timur seperti Lao Tzu,
Konfusius, Siddharta Gautama, para
filsuf Hindu, dan para filsuf Islam,
sehingga pemikiran mereka dapat disebut filsafat Timur.[2] Pemikiran Timur memenuhi
Kriteria Filsafat Selain melalui definisi, filsafat Timur
juga dapat memenuhi kriteria-
kriteria sebuah filsafat seperti yang
lazim menjadi kriteria filsafat Barat,
yakni kritis, sistematis, dan radikal [2] Tentu saja ada perbedaan cara dengan yang dipahami oleh filsafat Barat.[2] Aspek kritis dapat dipenuhi bila pemikiran-pemikiran yang telah
ada diolah secara kritis dan terbuka terhadap modifikasi.[2] Pengolahan dilakukan melalui dialog, diskusi,
adu argumentasi, dan kesiapan
untuk membuka diri terhadap pemikiran baru.[2] Aspek sistematis sebenarnya telah ada di dalam
pemikiran-pemikiran Timur, dan
dapat berbeda-beda antara satu
pemikiran dengan pemikiran lainnya.[2] Misalnya filsafat Cina didasarkan pada konstruksi
kronologis, mulai dari penciptaan
alam hingga meninggalnya manusia.[2] Di sini, yang penting terdapat alur yang runut dalam
setiap sistem pemikiran, ada
masalah yang jelas, ada proses
pengolahan informasi sebagai
upaya penyelesaian masalah, dan ada solusi bagi masalah tersebut.[2] Mengenai sifat radikal dalam arti
mendalami obyeknya, hal itu juga
telah lama berakar pada pemikiran Timur.[2] Siddharta Gautama, misalnya, mencoba menggali
hakikat hidup sampai sedalam-
dalamnya, melakukan pembaruan
terhadap sistem India yang sudah
ada, dan membentuk sistem baru yang dikenal sebagai Buddhisme.[2] Perbedaan dengan Filsafat Barat Filsafat Barat dan Filsafat Timur
tampak amat berbeda sebab
berkembang di dalam budaya yang
amat berbeda, dan sepanjang
sejarah tidak terlalu banyak
pertemuan di antara keduanya, kecuali di dalam filsafat Islam.[1] Meskipun demikian, bukan berarti
tidak ada persamaan di antara keduanya.[1] Pengetahuan Filsafat Barat sejak masa Yunani telah menekankan akal budi dan
pemikiran yang rasional sebagai pusat kodrat manusia.[6] Filsafat Timur lebih menekankan hati
daripada akal budi, sebab hati
dipahami sebagai instrumen yang
mempersatukan akal budi dan
intuisi, serta intelegensi dan perasaan.[6] Tujuan utama berfilsafat adalah menjadi bijaksana
dan menghayati kehidupan, dan
untuk itu pengetahuan harus disertai dengan moralitas.[6] Sikap Terhadap Alam Filsafat Barat menjadikan manusia
sebagai subyek dan alam sebagai
obyek sehingga menghasilkan eksploitasi berlebihan atas alam.[6] Sementara itu, filsafat Timur
menjadikan harmoni antara
manusia dengan alam sebagai kunci.[6] Manusia berasal alam namun sekaligus menyadari keunikannya di tengah alam.[6] Cita-cita Hidup Jikalau filsafat Barat menganggap
mengisi hidup dengan bekerja dan
bersikap aktif sebagai kebaikan
tertinggi, cita-cita filsafat Timur
adalah harmoni, ketenangan, dan kedamaian hati.[6] Kehidupan hendaknya dijalani dengan
sederhana, tenang, dan
menyelaraskan diri dengan lingkungan.[6] Status Manusia Filsafat Barat amat menekankan
status manusia sebagai individu
dengan segala kebebasan yang ia
miliki, dan masyarakat tidak bisa
menghilangkan status seorang manusia dengan kebebasannya.[6] Filsafat Timur menekankan martabat
manusia tetapi dengan penekanan
yang berbeda, sehingga manusia
ada bukan untuk dirinya melainkan
ada di dalam solidaritas dengan sesamanya.[6]

Posted on Agustus 18, 2012, in Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: