METAMFETAMIN (SABU-SABU)

Metamfetamin atau yang lebih dikenal
dengan nama sabu-sabu, atau ubas,
ice, Kristal, mecin adalah senyawa
stimulan semisintetis adiktif dan
termasuk psikotropika golongan II.
Metamfetamin pertama kali dibuat oleh Nagai Nagayoshi dari efedrin.
Metamfetamin mengubah pelepasan
atau penyerapan kembali senyawa
neurotransmitter, dan mempengaruhi
Pleasure Reward Pathway (PRP)
dengan mengubah kadar dopamine. Respon PRP yang distimulus inilah
yang membuat penggunanya sangat
ingin mengonsumsinya terus
menerus. Efek dari penggunaan
metamfetamin adalah perasaan
senang dan euphoria, dan pada konsentrasi yang lebih tinggi
mengakibatkan naiknya
kewaspadaan(fight or flight response)
dan efek menekan rasa lelah.
Metamfetamin adalah salah satu jenis
narkotika yang paling populer yang ditandai penyalahgunaannya yang
luas, dan semakin meningkat dalam
lima tahun terakhir. Jumlah kasus penyalahgunaan obat
terlarang di Indonesia dalam lima
tahun terakhir paling didominasi oleh
metamfetamin, dimana jumlah
kasusnya meningkat lebih dari 1000
kasus per tahun. Penyalahgunaan metamfetamin melibatkan jumlah
tersangka sebanyak 55619 orang
dalam kurun waktu lima tahun.
Pengguna obat terlarang di Indonesia
didominasi oleh laki-laki dibanding
perempuan, dan memiliki latar pendidikan sekolah menengah atas
(SMA). Yang mengejutkan justru
pengguna obat terlarang paling
banyak dalam rentang usia lebih dari
29. Mengapa metamfetamin memiliki
popularitas top sebagai obat
terlarang? Metamfetamin dapat
digunakan untuk menekan lelah dan
memberikan rasa senang bagi
penggunanya. Disamping efeknya yang “menarik” metamfetamin relatif
mudah untuk didapatkan dan
diproduksi karena dapat disintesis
dengan mudah dari efedrin atau
pseudoefedrin, suatu senyawa obat
yang umum digunakan sebagai dekongestan. Peningkatan mood adalah penyebab
utama penggunaan metamfetamin.
Pemakaian metamfetamin
menyebabkan hilangnya rasa sakit,
perasaan bergairah, rasa percaya diri,
konsentrasi, euphoria, dan keaktifan, singkatnya sebagai obat penyegar
yang paling ampuh. Efeknya pun
berlangsung selama 9-15 jam
dibandingkan kokain yang hanya
berkisar 15 menit. “Kelebihan-
kelebihan” dari metamfetamin tentu menggiurkan bagi orang putus asa
yang mencari dorongan mood. Penggunaan obat terlarang yang
tinggi di kalangan yang seharusnya
sudah dewasa sangat mungkin
disebabkan karena faktor tekanan
lingkungan. Disamping mudahnya
mendapatkan obat terlarang, juga sebagai pelarian dari stress yang
semakin meningkat dengan
meningkatnya usia. Selain itu obat
terlarang juga digunakan lebih
banyak di kalangan pria dan berusia
dewasa karena secara keuangan mereka sudah lebih mapan
dibandingkan remaja, namun tidak
diimbangi dengan pola pikir yang
baik. Hal itu terbukti dari sebagian
besar pengguna lulusan pendidikan
rendah hingga menengah. Metamfetamin juga mudah didapatkan
di pasar gelap dibandingkan obat
terlarang lain, dan harganya relatif
tidak mahal. Hal itu dikarenakan
mudahnya produksi metamfetamin,
yang prekursornya yang umum digunakan adalah efedrin. Efedrin dan
pseudoefedrin adalah senyawa obat
dekongestan yang dikategorikan
sebagai obat keras(untuk kadar
tinggi) dan obat bebas terbatas
(untuk kadar rendah). Pabrik metamfetamin dapat dengan mudah
dibuat, dari skala industri rumahan
hingga industri besar karena
mudahnya proses sintesisnya. Bahan
baku lainnya juga tidak sukar
didapatkan, yaitu asam klorida dan fosfor merah. Meski dibalik sedemikian banyak
faktor yang “mempromosikan”
penyalahgunaan metamfetamin,
sudah banyak upaya yang dilakukan
untuk menghambat dan bahkan
memberantas penyalahgunaan metamfetamin dan obat terlarang lain.
Baru tahun 2009 lalu diresmikan
undang-undang baru yang mengatur
narkotika-psikotropika. Razia dan
penyelidikan tidak henti-hentinya
dilakukan oleh pihak berwajib. Efek adiktif dan efek samping lainnya yang
buruk bagi kesehatan sepertinya
sudah diketahui hampir semua orang
karena luasnya publikasi mengenai
buruknya obat terlarang. Efedrin
sebagai senyawa prekursornya juga bukan merupakan obat bebas.
Banyak usaha-usaha lain yang sudah
dilakukan, namun mengapa
penggunaan metamfetamin bukan
makin menghilang, namun semakin
meningkat? Yang pertama adalah masalah mental.
Manusia pada umumnya mencari
solusi tercepat dan terenak untuk
dirinya. Obat terlarang sering
dijadikan sebagai pelarian dari
masalah. Apabila terasa kurang semangat metamfetamin dapat
dengan mudahnya dikonsumsi.
Tekanan kehidupan yang berat dan
tuntutan hidup yang membuat lesu
dapat sejenak dilupakan dengan
memakai metamfetamin. Karena metamfetamin adalah “solusi” mudah,
cepat, dan tidak mahal bagi pecandu,
tidak heran penggunanya tidak akan
berkurang karena mental seperti itu. Yang kedua adalah penegakan
regulasi obat keras. Sudah menjadi
rahasia umum bahwa obat yang
seharusnya memakai resep dokter
dapat dengan mudahnya diperoleh.
Yang penting ada uang maka ada barang. Dengan dalih mencari sesuap
nasi maka obat keras dapat dengan
mudah dijual. Penegak hukumpun
akan kewalahan apabila harus
memeriksa keluar-masuknya obat
keras yang dijual oleh setiap apotek. Yang ketiga adalah penegakan
hukum sendiri. Di Indonesia, sekali
lagi, penegakan hukum amat lemah
untuk mereka yang punya banyak
“kertas magis”. Semuanya dapat
dengan mudah dibeli, termasuk hukum dan keadilan. Bahkan untuk
alasan politik dilakukan
pengampunan pada ratu narkoba asal
Australia, Schapelle Corby, tanpa
memperhitungkan betapa besar
kerusakan yang telah diakibatkan obat terlarang pada bangsa ini.
Dengan sedemikian kompleksnya
persoalan ini, solusi apa yang dapat
diambil? Yang utama adalah perbaikan pola
pikir. Pola pikir hedonis yang sudah
lama mendarah daging sebaiknya
mulai dihilangkan, mulai dari masing-
masing individu. Pola pikir pendidikan
rendah yang mencari hasil seharusnya diganti menjadi pola pikir pendidikan
tinggi yang mementingkan proses,
dimana kenikmatan tidak dicari
dengan segala cara, namun dengan
usaha yang baik. Manusia tidak
sepantasnya mencari pelarian pada kenikmatan instan yang sesaat,
namun pada pencarian nilai spiritual.
Hal itu mencerminkan betapa
rendahnya penghayatan spiritual
rakyat, meski seluruhnya beragama.
Pola pikir lama dapat ditinggalkan dengan ditingkatkannya kualitas
pendidikan dan religiositas. Di Negara ini terdapat banyak sekali
apotek, dimana pengawasannya tidak
mungkin dilakukan hanya oleh
penegak hukum. Pada hal ini peran
farmasis seharusnya menjadi nyata.
Farmasis seharusnya menjadi garda terdepan dalam penanganan obat
keras. Setiap obat keras yang akan
dikeluarkan harus memiliki resep
dokter dan diverifikasi ulang oleh
farmasis. Dengan baiknya peran
farmasis, berarti ada ketegasan akan penegakan regulasi obat keras. Penegakan hukum yang lemah sejak
zaman dahulu memang seharusnya
dibenahi. Hukum harus ditegakkan
tanpa pandang bulu, karena
hakikatnya hukum itu buta. Mengenai
mental oknum para penegak hukum yang buruk harus diperbaiki dengan,
sekali lagi, peningkatan kualitas
pendidikan. Namun disisi lain regulasi
juga harus keras dan tanpa ampun
mengenai penyalahgunaan obat
terlarang. Masalah obat terlarang patut menjadi sorotan utama para penegak
hukum karena masalah ini bukan
hanya masalah disiplin, tapi juga
masalah kemanusiaan.

About these ads

Posted on September 5, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: