LIBERALISME DALAM PANDANGAN ISLAM

Sejarah kemunculan liberalisme
terbentang dari sejak abad ke-15, saat
Eropa memulai era kebangkitan
(Renaissance) mereka sampai sekitar
abad ke-18 masehi, setelah
sebelumnya dari sejak abad ke-5, orang-orang Eropa hidup dalam era
kegelapan (Dark Ages). [2] Dr. Abdurrahim Shamâyil mengatakan,
“Liberalisme secara teori politik,
ekonomi dan sosial tidak terbentuk
dalam satu waktu dan oleh satu tokoh
pemikir, akan tetapi ia dibentuk oleh
sejumlah pemikir. Liberalisme bukan pemikiran John Luke (w 1704), bukan
pemikiran Rousseau (1778), atau
pemikiran John Stuart Mill (w 1873),
akan tetapi setiap dari mereka
memberikan konstribusi yang sangat
berarti untuk ideologi liberalisme.”[3] Sejarah liberalisme dimulai sebagai
reaksi atas hegemoni kaum feodal
pada abad pertengahan di Eropa.
Sebagaimana diketahui, Kristen adalah
agama yang telah mengalami
perubahan dan penyimpangan ajaran. Pada tahun 325 M, Imperium Romawi
mulai memeluk agama Kristen yang
telah mengalami perubahan tersebut,
yaitu setelah agama Kristen merubah
keyakinan tauhid menjadi trinitas dan
penyimpangan-penyimpangan yang lainnya. Pada saat yang sama, sistem politik
yang dianut oleh penguasa untuk
memerintah rakyatnya ketika itu
adalah feodalisme; sistem otoriter
yang zalim, menekan dan memasung
kebebasan masyarakat. Sistem feodal berada pada puncaknya di abad ke-9
Masehi ditandai dengan munculnya
kerajaan-kerajaan dan hilangnya
pemerintahan pusat. Kaum feodal
terbagi menjadi tiga unsur ketika itu;
(1) intitusi gereja, (2) kaum bangsawan dan (3) para raja.
Semuanya memperlakukan rakyat
yang bermata pencaharian sebagai
petani dengan otoriter, zalim dan
sewenang-wenang.[4] Kehidupan beragama dibawah
institusi gereja juga sarat dengan
penyimpangan. Tersebarnya
peribadatan yang tidak memiliki
landasan dalam kitab suci dan
merebaknya surat pengampunan dosa adalah diantaranya. Paus Roma,
ketika mereka membutuhkan dana
untuk membiayai aktifitas Gereja,
mereka menerbitkan surat
pengampunan dosa dan menghimbau
masyarakat untuk membelinya dengan iming-iming masuk surga.
Pendapat-pendapat tokoh agama pun
bersifat absolut dan tidak boleh
digugat. Alquran juga menyebutkan
di antara penyimpangan mereka: “Mereka menjadikan orang-orang
alimnya dan rahib-rahib mereka
sebagai tuhan selain Allah dan (juga
mereka mempertuhankan) Al Masih
putera Maryam, padahal mereka
hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang
berhak disembah) selain Dia. Maha
suci Allah dari apa yang mereka
persekutukan.” (QS. At Taubah [9]: 31) “Hai orang-orang yang beriman,
sesungguhnya sebahagian besar dari
orang-orang alim Yahudi dan rahib-
rahib Nasrani benar-benar memakan
harta orang dengan jalan batil dan
mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.” (QS. At Taubah [9]: 34) Penyimpangan keyakinan, ditambah
dengan sistem politik otoriter inilah
faktor utama yang kemudian
melahirkan pemikiran liberal. Saat
masyarakat tertekan dan hidup dalam
kezaliman, muncullah reaksi yang bertujuan kepada kebebasan hidup.
Hal yang telah menjadi sunnatullah.[5] Kesadaran masyarakat Eropa yang
ingin bebas dari segala bentuk
tekanan itu mengharuskan mereka
untuk melakukan tranformasi
pemikiran. Diantara proses
transformasi pemikiran ini adalah reformasi agama. Pada akhir abad
ke-15, muncul seorang tokoh Gereja
asal Jerman bernama Martin Luther (w
1546), kemudian diikuti oleh John
Calvin (w 1564), lalu John Nouks (w
1572). Mereka melakukan perlawanan terhadap Gereja Katolik
yang kemudian mereka beri nama
Protestan.[6] Gerakan reformasi agama yang
dilakukan oleh Luther ini memiliki
pengaruh besar dalam sejarah
liberalisme selanjutnya. Rumusan
pemikiran Luther dapat disimpulkan
menjadi beberapa poin berikut: 1. Otoritas agama satu-satunya adalah
teks-teks Bible dan bukan pendapat
tokoh-tokoh agama. 2. Pengingkaran terhadap sistem
kepausan gereja yang berposisi
sebagai khalifah almasih. 3. Menegasikan keyakinan
pengampunan atau tidak diampuni
(dari institusi geraja). 4. Ajakan kepada liberalisasi pemikiran,
keluar dari tirani tokoh agama dan
monopoli mereka dalam memahami
kitab suci, klaim rahasia suci serta
pengabaian peran akal atas nama
agama.[7] Gerakan ini disebut sebagai gerakan
liberal karena ia bersandar kepada
kebebasan berfikir dan rasionalisme
dalam menafsirkan teks-teks agama. [8] Perlawanan terhadap gereja dan
feodalisme terus berlanjut di Eropa.
Runtuhnya feodalisme menutup abad
pertengahan dan abad selanjutnya
disebut dengan abad pencerahan
(Enlightment). Beberapa tokoh pemikiran muncul. Di Perancis, Jean
Jacues Rousseau (w 1778) dan
Voltaire (w 1778) adalah diantara
pemikir yang perannya sangat
berpengaruh. Karya-karya mereka
berdua menjadi inspirasi gerakan politik Revolusi Perancis pada tahun
1789, puncak dari perlawanan
terhadap hegemoni feodal. Namun, gerakan yang tadinya sebagai
reformasi agama, pada
perkembangan selanjutnya
perlawanan terhadap gereja
mengarah kepada atheisme. Para
pemikir dan filusuf Perancis rata-rata adalah para atheis yang tidak
mengakui keberadaan agama. Sejarah
panjang agama Kristen dari sejak
penyimpangan dan perubahan ajaran
hingga perang agama yang meletus
akibat reformasi Luther memunculkan kejenuhan yang berakibat hilangnya
kepercayaan masyarakat terhadap
agama. Kebebasan rasional (akal)
secara mutlak akhirnya menjadi ciri
utama dari gerakan ini.[9] Dr. Abdulaziz al Tharify mengatakan,
“Pengagungan terhadap akal semakin
nampak pada waktu-waktu revolusi.
Mereka mengangkatnya dan
mempertuhankannya. Sebagian
mereka bahkan mengatakan bahwa ini adalah penyembahan terhadap
akal. Para tokoh revolusi mengajak
orang-orang untuk meninggalkan
agama, terkhusus agama katolik,
mereka memutuskan hubungan
Perancis dengan Vatikan. Dan pada tanggal 24 November 1793 M, mereka
menutup gereja-gereja di Paris,
merubah sekitar 2400 fungsi gereja
menjadi markaz-markaz rasionalisme
dan untuk pertama kalinya digagas
soal kebebasan kaum wanita.”[10] Intinya, titik tolak liberalisme
berangkat dari perlawanan terhadap
penguasa absolut raja dan institusi
gereja yang mengekang kebebasan
masyarakat.[11]

About these ads

Posted on September 3, 2012, in Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: