Sejarah Kitab Suci Weda (Hindu)

Pengertian Weda Sumber ajaran agama Hindu adalah
Kitab Suci Weda, yaitu kitab yang
berisikan
ajaran kesucian yang diwahyukan
oleh Hyang Widhi Wasa melalui para
Maha Rsi. Weda merupakan jiwa yang
meresapi seluruh ajaran Hindu,
laksana sumber air yang
mengalir terus melalui sungai-sungai
yang amat panjang dalam sepanjang
abad. Weda adalah sabda suci atau wahyu Tuhan
Yang Maha Esa.
Weda secara ethimologinya berasal
dari kata “Vid” (bahasa sansekerta),
yang artinya
mengetahui atau pengetahuan. Weda adalah ilmu pengetahuan suci
yang maha
sempurna dan kekal abadi serta
berasal dari Hyang Widhi Wasa. Kitab
Suci Weda
dikenal pula dengan Sruti, yang artinya bahwa kitab suci Weda
adalah wahyu yang
diterima melalui pendengaran suci
dengan kemekaran intuisi para
maha Rsi. Juga
disebut kitab mantra karena memuat nyanyian-nyanyian pujaan. Dengan
demikian
yang dimaksud dengan Weda adalah
Sruti dan merupakan kitab yang
tidak boleh
diragukan kebenarannya dan berasal dari Hyang Widhi Wasa.
Bahasa Weda
Bahasa yang dipergunakan dalam
Weda disebut bahasa Sansekerta,
Nama sansekerta
dipopulerkan oleh maharsi Panini, yaitu seorang penulis Tata Bahasa
Sensekerta yang
berjudul Astadhyayi yang sampai
kini masih menjadi buku pedoman
pokok dalam
mempelajari Sansekerta. Sebelum nama Sansekerta menjadi
populer, maka bahasa yang
dipergunakan dalam
Weda dikenal dengan nama Daiwi
Wak (bahasa/sabda Dewata). Tokoh
yang merintis penggunaan tatabahasa Sansekerta
ialah Rsi Panini. Kemudian
dilanjutkan oleh Rsi
Patanjali dengan karyanya adalah
kitab Bhasa. Jejak Patanjali diikuti
pula oleh Rsi Wararuci. Pembagian dan Isi Weda Weda adalah kitab suci yang
mencakup berbagai aspek
kehidupan yang diperlukan
oleh manusia. Berdasarkan materi, isi
dan luas lingkupnya, maka jenis
buku weda itu banyak. maha Rsi Manu membagi
jenis isi Weda itu ke dalam dua
kelompok besar
yaitu Weda Sruti dan Weda Smerti.
Pembagian ini juga dipergunakan
untuk menamakan semua jenis buku yang
dikelompokkan sebagai kitab Weda,
baik yang
telah berkembang dan tumbuh
menurut tafsir sebagaimana
dilakukan secara turun temurun menurut tradisi maupun
sebagai wahyu yang berlaku secara
institusional
ilmiah. Kelompok Weda Sruti isinya
hanya memuat wahyu, sedangkan
kelompok Smerti isinya bersumber dari Weda
Sruti, jadi merupakan manual, yakni
buku
pedoman yang sisinya tidak
bertentangan dengan Sruti. Baik Sruti
maupun Smerti, keduanya adalah sumber ajaran
agama Hindu yang tidak boleh
diragukan
kebenarannya. Agaknya sloka
berikut ini mempertegas pernyataan
di atas. Srutistu wedo wijneyo dharma
sastram tu wai smerth,
te sarrtheswamimamsye tab
hyam dharmohi nirbabhau. (M.
Dh.11.1o).
Artinya: Sesungguhnya Sruti adalah Weda,
demikian pula Smrti itu adalah
dharma sastra, keduanya harus tidak
boleh diragukan dalam hal apapun
juga karena keduanya adalah
kitab suci yang menjadi sumber ajaran agama Hindu. (Dharma)
Weda khilo dharma mulam
smrti sile ca tad widam,
acarasca iwa sadhunam
atmanastustireqaca. (M. Dh. II.6).
Artinya: Seluruh Weda merupakan sumber
utama dari pada agama Hindu
(Dharma), kemudian
barulah Smerti di samping Sila
(kebiasaan- kebiasaan yang baik
dari orang-orang yang menghayati Weda). dan kemudian
acara yaitu tradisi dari orang-orang
suci serta
akhirnya Atmasturi (rasa puas diri
sendiri).
Srutir wedah samakhyato dharmasastram tu wai smrth,
te sarwatheswam imamsye
tabhyam dharmo winir bhrtah.
(S.S.37).
Artinya:
Ketahuilah olehmu Sruti itu adalah Weda (dan) Smerti itu sesungguhnya
adalah
dharmasastra; keduanya harus
diyakini kebenarannya dan
dijadikan jalan serta dituruti
agar sempurnalah dalam dharma itu. Dari sloka-sloka diatas, maka
tegaslah bahwa Sruti dan Smerti
merupakan dasar utama
ajaran Hindu yang kebenarannya
tidak boleh dibantah. Sruti dan Smerti
merupakan dasar yang harus dipegang teguh, supaya dituruti
ajarannya untuk setiap usaha.
Untuk mempermudah sistem
pembahasan materi isi Weda, maka
dibawah ini akan
diuraikan tiap-tiap bagian dari Weda itu sebagai berikut: SRUTI Sruti adalah kitab wahyu yang
diturunkan secara langsung oleh
Tuhan (Hyang Widhi
Wasa) melalui para maha Rsi. Sruti
adalah Weda yang sebenarnya
(originair) yang diterima melalui pendengaran, yang
diturunkan sesuai periodesasinya
dalam empat
kelompok atau himpunan. Oleh
karena itu Weda Sruti disebut juga
Catur Weda atau Catur Weda Samhita (Samhita artinya
himpunan). Adapun kitab-kitab
Catur Weda
tersebut adalah:
Rg. Weda atau Rg Weda Samhita.
Adalah wahyu yang paling pertama diturunkan sehingga merupakan
Weda yang tertua.
Rg Weda berisikan nyanyian-
nyanyian pujaan, terdiri dari 10.552
mantra dan
seluruhnya terbagi dalam 10 mandala. Mandala II sampai dengan
VIII, disamping
menguraikan tentang wahyu juga
menyebutkan Sapta Rsi sebagai
penerima wahyu.
Wahyu Rg Weda dikumpulkan atau dihimpun oleh Rsi Pulaha.
Sama Weda Samhita.
Adalah Weda yang merupakan
kumpulan mantra dan memuat
ajaran mengenai lagu-
lagu pujaan. Sama Weda terdiri dari 1.875 mantra. Wahyu Sama Weda
dihimpun oleh Rsi Jaimini. Yajur Weda Samhita.
Adalah Weda yang terdiri atas
mantra-mantra dan sebagian besar
berasal dari Rg.
Weda. Yajur Weda memuat ajaran
mengenai pokok-pokok yajus. Keseluruhan
mantranya berjumlah 1.975 mantra.
Yajur Weda terdiri atas dua aliran,
yaitu Yayur
Weda Putih dan Yayur Weda Hitam.
Wahyu Yayur Weda dihimpun oleh Rsi
Waisampayana. Atharwa Weda Samhita
Adalah kumpulan mantra-mantra
yang memuat ajaran yang bersifat
magis. Atharwa
Weda terdiri dari 5.987 mantra, yang
juga banyak berasal dari Rg. Weda. Isinya adalah
doa-doa untuk kehidupan sehari-
hari seperti mohon kesembuhan dan
lain-lain. Wahyu
Atharwa Weda dihimpun oleh Rsi
Sumantu. Sebagaimana nama-nama tempat
yang disebutkan dalam Rg. Weda
maka dapat
diperkirakan bahwa wahyu Rg Weda
dikodifikasikan di daerah Punjab.
Sedangkan ketiga Weda yang lain (Sama, Yayur,
dan Atharwa Weda), dikodifikasikan
di daerah
Doab (daerah dua sungai yakni
lembah sungai Gangga dan Yamuna.
Masing-masing bagian Catur Weda memiliki kitab-kitab Brahmana yang
isinya adalah
penjelasan tentang bagaimana
mempergunakan mantra dalam
rangkain upacara.
Disamping kitab Brahmana, Kitab- kitab Catur Weda juga memiliki
Aranyaka dan
Upanisad. Kitab Aranyaka isinya adalah
penjelasan-penjelasan terhadap
bagian mantra dan
Brahmana. Sedangkan kitab
Upanisad mengandung ajaran
filsafat, yang berisikan mengenai bagaimana cara
melenyapkan awidya (kebodohan),
menguraikan tentang
hubungan Atman dengan Brahman
serta mengupas tentang tabir rahasia
alam semesta dengan segala isinya. Kitab-kitab
brahmana digolongkan ke dalam
Karma Kandha
sedangkan kitab-kitab Upanishad
digolonglan ke dalam Jnana Kanda. SMERTI Smerti adalah Weda yang disusun
kembali berdasarkan ingatan.
Penyusunan ini
didasarkan atas pengelompokan isi
materi secara sistematis menurut
bidang profesi. Secara garis besarnya Smerti dapat
digolongkan ke dalam dua
kelompok besar, yakni
kelompok Wedangga (Sadangga),
dan kelompok Upaweda. Kelompok Wedangga:
Kelompok ini disebut juga Sadangga.
Wedangga terdiri dari enam bidang
Weda yaitu:
(1). Siksa (Phonetika)
Isinya memuat petunjuk-petunjuk tentang cara tepat dalam
pengucapan mantra serta
rendah tekanan suara. (2). Wyakarana (Tata Bahasa)
Merupakan suplemen batang tubuh
Weda dan dianggap sangat penting
serta
menentukan, karena untuk mengerti
dan menghayati Weda Sruti, tidak mungkin tanpa
bantuan pengertian dan bahasa
yang benar (3). Chanda (Lagu)
Adalah cabang Weda yang khusus
membahas aspek ikatan bahasa
yang disebut lagu.
Sejak dari sejarah penulisan Weda,
peranan Chanda sangat penting. Karena dengan
Chanda itu, semua ayat-ayat itu
dapat dipelihara turun temurun
seperti nyanyian yang
mudah diingat. (4). Nirukta
Memuat berbagai penafsiran otentik
mengenai kata-kata yang terdapat di
dalam Weda. (5). Jyotisa (Astronomi)
Merupakan pelengkap Weda yang
isinya memuat pokok-pokok ajaran
astronomi yang
diperlukan untuk pedoman dalam
melakukan yadnya, isinya adalah membahas tata
surya, bulan dan badan angkasa
lainnya yang dianggap mempunyai
pengaruh di dalam
pelaksanaan yadnya. (6). Kalpa
Merupakan kelompok Wedangga
(Sadangga) yang terbesar dan
penting. Menurut jenis
isinya, Kalpa terbagi atas beberapa
bidang, yaitu bidang Srauta, bidang Grhya, bidang
Dharma, dan bidang Sulwa. Srauta
memuat berbagai ajaran mengenai
tata cara
melakukan yajna, penebusan dosa
dan lain-lain, terutama yang berhubungan dengan
upacara keagamaan. Sedangkan
kitab Grhyasutra, memuat berbagai
ajaran mengenai
peraturan pelaksanaan yajna yang
harus dilakukan oleh orang-orang yang berumah
tangga. Lebih lanjut, bagian
Dharmasutra adalah membahas
berbagai aspek tentang
peraturan hidup bermasyarakat dan
bernegara. Dan Sulwasutra, adalah memuat
peraturan-peraturan mengenai tata
cara membuat tempat peribadatan,
misalnya Pura,
Candi dan bangunan-bangunan suci
lainnya yang berhubungan dengan ilmu arsitektur Kelompok Upaweda:
Adalah kelompok kedua yang sama
pentingnya dengan Wedangga.
Kelompok
Upaweda terdiri dari beberapa jenis,
yaitu: (1). Itihasa
Merupakan jenis epos yang terdiri
dari dua macam yaitu Ramayana dan
Mahabharata.
Kitan Ramayana ditulis oleh Rsi
Walmiki. Seluruh isinya dikelompokkan kedalam
tujuh Kanda dan berbentuk syair.
Jumlah syairnya sekitar 24.000 syair.
Adapun
ketujuh kanda tersebut adalah
Ayodhya Kanda, Bala Kanda, Kiskinda Kanda, Sundara
Kanda, Yudha Kanda dan Utara
Kanda. Tiap-tiap Kanda itu
merupakan satu kejadian
yang menggambarkan ceritra yang
menarik. Di Indonesia cerita Ramayana sangat
populer yang digubah ke dalam
bentuk Kekawin dan berbahasa
Jawa Kuno. Kekawin
ini merupakan kakawin tertua yang
disusun sekitar abad ke-8. Disamping Ramayana, epos besar
lainnya adalah Mahabharata. Kitab ini
disusun oleh
maharsi Wyasa. Isinya adalah
menceritakan kehidupan keluarga
Bharata dan menggambarkan pecahnya perang
saudara diantara bangsa Arya
sendiri. Ditinjau dari
arti Itihasa (berasal dari kata “Iti”,
“ha” dan “asa” artinya adalah
“sesungguhnya kejadian itu begitulah nyatanya”)
maka Mahabharata itu gambaran
sejarah, yang
memuat mengenai kehidupan
keagamaan, sosial dan politik
menurut ajaran Hindu. Kitab Mahabharata meliputi 18
Parwa, yaitu Adiparwa, Sabhaparwa,
Wanaparwa ,Wirataparwa,
Udyogaparwa, Bhismaparwa,
Dronaparwa, Karnaparwa,
Salyaparwa, Sauptikaparwa, Santiparwa,
Anusasanaparwa,
Aswamedhikaparwa,
Asramawasikaparwa, Mausalaparwa,
Mahaprastanikaparwa, dan
Swargarohanaparwa. Diantara parwa-parwa tersebut,
terutama di dalam Bhismaparwa
terdapatlah kitab
Bhagavad Gita, yang amat masyur
isinya adalah wejangan Sri Krsna
kepada Arjuna tentang ajaran filsafat yang amat
tinggi. (2). Purana
Merupakan kumpulan cerita-cerita
kuno yang menyangkut penciptaan
dunia dan
silsilah para raja yang memerintah di
dunia, juga mengenai silsilah dewa- dewa dan
bhatara, cerita mengenai silsilah
keturunaan dan perkembangan
dinasti Suryawangsa
dan Candrawangsa serta memuat
ceitra-ceritra yang menggambarkan pembuktian-
pembuktian hukum yang pernah di
jalankan. Selain itu Kitab Purana juga
memuat
pokok-pokok pemikiran yang
menguraikan tentang ceritra kejadian alam semesta, doa-
doa dan mantra untuk sembahyang,
cara melakukan puasa, tatacara
upacara
keagamaan dan petunjuk-petunjuk
mengenai cara bertirtayatra atau berziarah ke
tempat-tempat suci. Dan yang
terpenting dari kitab-kitab Purana
adalah memuat
pokok-pokok ajaran mengenai
Theisme (Ketuhanan) yang dianut menurut berbagai
madzab Hindu. Adapun kitab-kitab
Purana itu terdiri dari 18 buah, yaitu
Purana,
Bhawisya Purana, Wamana Purana,
Brahma Purana, Wisnu Purana, Narada Purana,
Bhagawata Purana, Garuda Purana,
Padma Purana, Waraha Purana,
Matsya Purana,
Kurma Purana, Lingga Purana, Siwa
Purana, Skanda Purana dan Agni Purana. (3) Arthasastra
Adalah jenis ilmu pemerintahan
negara. Isinya merupakan pokok-
pokok pemikiran
ilmu politik. Sebagai cabang ilmu,
jenis ilmu ini disebut Nitisastra atau Rajadharma
atau pula Dandaniti. Ada beberapa
buku yang dikodifikasikan ke dalam
jenis ini
adalah kitab Usana, Nitisara, Sukraniti
dan Arthasastra. Ada beberapa Acarya terkenal
di bidang Nitisastra adalah
Bhagawan Brhaspati, Bhagawan
Usana, Bhagawan
Parasara dan Rsi Canakya. (4) Ayur Weda
Adalah kitab yang menyangkut
bidang kesehatan jasmani dan
rohani dengan berbagai
sistem sifatnya. Ayur Weda adalah
filsafat kehidupan, baik etis maupun medis. Oleh
karena demikian, maka luas lingkup
ajaran yang dikodifikasikan di dalam
Ayur Weda
meliputi bidang yang amat luas dan
merupakan hal-hal yang hidup. Menurut isinya,
Ayur Weda meliptui delapan bidang
ilmu, yaitu ilmu bedah, ilmu penyakit,
ilmu obat-
obatan, ilmu psikotherapy, ilmu
pendiudikan anak-anak (ilmu jiwa anak), ilmu
toksikologi, ilmu mujizat dan ilmu
jiwa remaja. Disamping Ayur Weda, ada pula kitab
Caraka Samhita yang ditulis oleh
Maharsi
Punarwasu. Kitab inipun memuat
delapan bidan ajaran (ilmu), yakni
Ilmu pengobatan, Ilmu mengenai berbagai jens
penyakit yang umum, ilmu pathologi,
ilmu anatomi dan
embriologi, ilmu diagnosis dan
pragnosis, pokok-pokok ilmu
therapy, Kalpasthana dan Siddhistana. Kitab yang sejenis pula
dengan Ayurweda, adalah kitab
Yogasara dan
Yogasastra. Kitab ini ditulis oleh
Bhagawan Nagaryuna. isinya
memuat pokok-pokok ilmu yoga yang dirangkaikan
dengan sistem anatomi yang penting
artinya dalam
pembinaan kesehatan jasmani dan
rohani. (5) Gandharwaweda
Adalah kitab yang membahas
berbagai aspek cabang ilmu seni.
Ada beberapa buku
penting yang termasuk
Gandharwaweda ini adalah Natyasastra (yang meliputi
Natyawedagama dan
Dewadasasahasri), Rasarnawa,
Rasaratnasamuscaya dan lain-
lain. Dari uraian di atas, maka jelaslah
bahwa kelompok Weda Smerti
meliptui banyak
buku dan kodifikasinya menurut
jenis bidang-bidang tertentu.
Ditambah lagi kitab- kitab agama misalnya Saiwa Agama,
Vaisnawa Agama dan Sakta Agama
dan kitab-
kitab Darsana yaitu Nyaya, Waisesika,
Samkhya, Yoga, Mimamsa dan
Wedanta. Kedua terakhir ini termasuk
golongan filsafat yang mengakui
otoritas kitab Weda dan
mendasarkan ajarannya pada
Upanisad. Dengan uraian ini kiranya
dapat diperkirakan betapa luasnya Weda itu, mencakup
seluruh aspek kehidupan manusia.
Di dalam
ajaran Weda, yang perlu adalah
disiplin ilmu, karena tiap
satu aspek dengan sumber-sumber yang pasti pula. Hal inilah yang perlu
diperhatikan
dan dihayati untuk dapat mengenal
isi Weda secara sempurna. BAHASA WEDA Bahasa Sanskerta Weda atau disingkat sebagai bahasa Weda
adalah bahasa yang dipergunakan
di dalam kitab suci Weda, teks-teks suci awal dari India. Teks Weda yang paling awal yaitu Ṛgweda, diperkirakan ditulis pada milennium ke-2 SM, dan penggunaan bahasa Weda dilaksanakan sampai kurang
lebih tahun 500 SM, ketika bahasa Sanskerta Klasik yang dikodifikasikan Panini mulai muncul. Bentuk Weda dari bahasa Sanskerta
adalah sebuah turunan dekat
bahasa Proto-Indo-Iran, dan masih lumayan mirip (dengan selisih
kurang lebih 1.500 tahun) dari bahasa Proto-Indo-Europa, bentuk bahasa yang direkonstruksi dari
semua bahasa Indo-Eropa. Bahasa Weda adalah bahasa tertua yang
masih diketemukan dari cabang bahasa Indo-Iran dari rumpun bahasa Indo-Eropa. Bahasa ini masih sangat dekat dengan bahasa Avesta, bahasa suci agama Zoroastrianisme. Kekerabatan antara bahasa
Sansekerta dengan bahasa-bahasa
yang lebih mutakhir dari Eropa
seperti bahasa Yunani, bahasa Latin dan bahasa Inggris bisa dilihat dalam kata-kata berikut: Ing. mother /Skt.
मतृ matṛ or Ing. father /Skt. पितृ pitṛ.
Sebuah persamaan menarik lain bisa
diketemukan dari kata Sanskerta
dan Persia berikut sthaan dan staan yang artinya adalah “tanah” atau
“negara” (berkerabat dengan kata
Inggris to stand yang artinya
“berdiri”). SEJARAH Lima tahap berbeda bisa dibedakan
dalam perkembangan bahasa Weda. 1. Rgweda. Kitab Rgweda mengandung paling banyak
bentuk arkhais dari semua teks-
teks Weda dan masih pula
banyak mengandung unsur-
unsur bersama bahasa Indo-Iran baik dalam bentuk bahasa
maupun isi teks, yang tidak
diketemukan dalam teks-teks
Weda lainnya. Kecuali beberapa
bagiannya, (buku ke-1 sampai
ke-10), diperkirakan kitab Rgweda sudah selesai ditulis
pada tahun 1500 SM. 2. Bahasa Mantra. Periode ini
mencakup baik mantra maupun
bahasa prosa dalam kitab Atharwaweda (Paippalada dan Shaunakiya), Rgweda Khilani, Samaweda Samhita (yang mengandung kurang lebih 75
mantra yang tidak ada dalam
kitab Rgweda), dan mantra-
mantra Yajurweda. Teks-teks ini sebagian besar diambil dari
Rgweda, namun sudah banyak
berubah, baik dari segi linguistik
maupun tafsirnya. Beberapa
perubahan penting termasuk
berubahnya kata wiṣwa “semua” menjadi sarwa, dan meluasnya
bentuk dasar verba kuru- (dalam
kitab Rgweda tertulis krno-).
Masa ini bertepatan dengan
munculnya awal Zaman Besi di barat laut India (besi pertama kali disebut dalam kitab Atharwaweda), dan munculnya kerajaan Kuru, kurang lebih pada abad ke-12 SM. 3. Teks prosa Samhita. Periode ini
memiliki ciri khas munculnya
pengkoleksian dan kodifikasi
kanon Weda. Sebuah perubahan
linguistik penting ialah
menghilangnya injunktivus nd dalam modus-modus aoristus. Bahagian komentar Yajurweda (MS, KS) termasuk pada periode
ini. 4. Teks prosa Brahmana. Teks-teks Brahmanas sendiri dari Catur Weda termasuk periode ini,
begitu pula Upanishad yang tertua (BAU, ChU, JUB). 5. Bahasa Sutra. Ini adalah tahap
terakhir bahasa Sanskerta Weda
sampai kira-kira tahun 500 SM, mengandung sebagian besar Śrauta dan Grhya Sutra, dan beberapa Upanishad (misalkan KathU, MaitrU. Beberapa kitab
Upanishad yang lebih mutakhir
termasuk masa pasca-Weda). Sekitar tahun 500 SM faktor-faktor
budaya, politik dan linguistik
memberikan sumbangan dalam
mengakhiri periode Weda. Kodifikasi
ritus-ritus Weda mencapai
puncaknya, dan gerakan-gerakan tandingan seperti Wedanta dan bentuk-bentuk awal agama Buddha, yang lebih suka menggunakan
bahasa rakyat Pali daripada bahasa Sanskerta dalam menuliskan teks-
teks mereka, mulai muncul. Raja Darius I dari Persia menginvasi lembah sungai Indus dan pusat kekuasaan politik di India mulai
pindah ke arah timur, ke sekitar sungai Gangga. TATA BAHASA Bahasa Weda memiliki sebuah bunyi
frikatif labial [f], yang disebut
upadhmaniya, dan sebuah frikatif
velar [x], yang disebut jihwamuliya.
Kedua-duanya merupaka alofon daripada wisarga: upadhmaniya muncul sebelum p dan ph,
jihwamuliya sebelum k dan kh.
Bahasa Weda juga memiliki huruf
khusus ळ (aksara Devanagari) untuk l retrofleks, sebuah alofon antara
vokal ḍ, yang biasa dialihaksarakan
sebagai ḷ atau ḷh. Dalam
membedakan l vokalik daripada l
retrofleks, l vokalik kadangkala
dialihaksarakan dengan menggunakan tanda diakritis
berbentuk lingkaran di bawah huruf,
l̥; apabila hal ini dilaksanakan, r
vokalik juga digambarkan dengan
sebuah lingkaran, r̥, demi asas
konsistensi. Bahasa Weda merupakan bahasa
yang memiliki pitch accent (Indonesia ?). Karena sejumlah kecil
kata-kata menurut pelafazan Weda
mengandung apa yang disebut
swarita mandiri pada sebuah vokal
pendek, maka bisa dikatakan bahwa
bahasa Weda “mutakhir” adalah sebuah bahasa nada secara marginal. Namun harap diperhatikan
bahwa pada versi-versi Rgweda yang telah direkonstruksi secara metrik, hampir semua sukukata yang mengandung swarita harus
dikembalikan kepada sebuah
sekuensi dua sukukata di mana
yang pertama mengandung sebuah anuswāra dan yang kedua mengandung apa yang disebut
swarita bebas. Jadi bahasa Weda
awal bukanlah sebuah bahasa nada
melainkan sebuah bahasa yang
menggunakan pitch accent.
Selain itu bahasa Weda memiliki bentuk subjunktivus, yang tidak disebut dalam tatabahasa Panini dan
pada umumnya dianggap telah
hilang pada saat itu, paling tidak
pada konstruksi kalimat umum.
Dasar i-panjang membedakan infleksi Dewi dan infleksi Wrkis, sebuah pembedaan yang sudah
hilang pada bahasa Sansekerta
Klasik.

Posted on Agustus 24, 2012, in Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: